Moderator Diskusi Pendidikan Karakter

Saya bersama Drs. Aden Wijdan SZ, M.Si. dan Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi, M.Si., Ruang Audiovisual Perpustakaan Pusat UII, Jumat (27/4/12)

LPM Pilar Demokrasi

Foto bersama setelah Diskusi Pendidikan Karakter bersama "Tempo", Jumat (27/4/12)

Ketep Pass, Magelang

Rihlah bersama Jama'ah Al-Faraby (JAF), Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Universitas Islam Indonesia

Visiting Wisuda

Wisuda adalah sebuah keniscayaan yang harus dilalui menjelang pernikahan

Gua Pindul, Gunung Kidul

Pindul itu "Pipi Kebendul", dan karenanya gua itu diberi nama [Edisi Konon]

Gua Cermei, Bantul-Gunung Kidul

Eksotisme itu tidak hanya berada di alam terbuka saja, bukan?

Sabtu, 20 Juli 2013

AL-HARAKAH BARAKAH

Oleh: Samsul Zakaria, Santri Ponpes UII


إِنِّي رَأَيْتُ وُقُوْفَ الْمَاءِ يُفْسِدُهُ # إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبْ

Sesungguhnya aku melihat genangan air yang diam itu merusak dirinya sendiri. Jika air itu mengalir maka ia menjadi jernih namun ketika berhenti mengalir maka hilanglah kejernihannya.” (al-Imām asy-Syāfi’i)

 
Kapal laut dan pesawat terbang sama-sama terbuat dari besi. Keduanya membuat orang awam –termasuk saya­– merasa kagum. Kapal laut yang terbuat dari besi, dengan lautan manusia didalamnya, ditambah beban berwujud ratusan mobil dan sepeda motor, mampu terapung dengan baik di atas air. Pesawat terbang yang juga terbuat dari besi, beratnya tentu sampai berton-ton, jauh lebih dahsyat. Dengan banyak penumpang dan beban bagasi, mampu terbang-melayang di udara bebas sana. 

Untuk kapal laut, secara sederhana saya bisa menjelaskannya. Sesuai dengan yang pernah saya pelajari di Madrasah Tsanawiyah (MTs) dulu. “Setiap benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan mengalami gaya ke atas yang besarnya sebanding dengan masa jenis benda itu,” bunyi hukumnya. Kapal laut (dengan) berdasarkan logika ilmiah itu, sangat logis bisa terapung di lautan yang sangat luas. Sementara untuk pesawat, beberapa kali saya membaca tulisan tentangnya, tetap belum puas dan mampu melogikakannya.


Terlepas bagaimana sebenarnya logika-mekanis dua alat transportasi temuan manusia tersebut, keduanya tidak lepas dari campur tangan Ilahi. Bahwa manusia dengan bimbingan Allah selalu belajar dari alam sekitar, dari kehidupan, dari laju-gerak semesta, untuk menciptakan wasilah yang mempermudah hidupnya. Konon, helikopter itu munculnya terinspirasi dari capung. Lahirnya kapal selam, boleh jadi, bermula dari pembacaan manusia terhadap gerak-lincah ikan di sungai dan lautan.

Kapal laut dan pesawat terbang boleh dikatakan sebagai temuan besar kehidupan. Keduanya ada melalui proses penemuan, proses perancangan, dan proses penyempurnaan yang –saya yakin– panjang. Andaikata keduanya ditemukan pada percobaan yang ke-1000 (seribu), apa jadinya jika yang mengusahakannya berhenti pada percobaan yang ke-999? Kapal laut dan pesawat terbang hanya menjadi angan-angan belaka, dan tidak nyata dalam semesta.

Berbicara tentang keduanya, akan menarik ketika ditilik dari perbedaan “harga”. Contoh, untuk pergi ke Malaysia kita bisa memilih untuk menggunakan kapal laut atau pesawat terbang. Tetapi pilihan tersebut tentu berkaitan dengan harga tadi, ketersediaan uang si empunya. Sudah ma’lūm bahwa tiket pesawat terbang lebih mahal dibanding kapal laut. Mengapa? Sebab –salah satunya­–, pesawat terbang mampu menghantarkan penumpang jauh lebih cepat dibanding apa yang dilakukan kapal laut.

Hal ini dapat dibaca bahwa sesuatu yang berasal dari komposisi yang sama (besi, dalam hal ini) menjadi berbeda nilai atau harganya karena kecepatan geraknya. Mana yang lebih cepat maka dia yang menjadi lebih berharga. Sama halnya dengan kuda pacuan. Dengan postur yang sama, warna, dan berat yang sama pula, tetap berbeda harganya jika salah satunya memiliki kecepatan lari yang lebih. Sebab, kuda yang larinya cepat tentu sudah melalui proses latihan dan makanannya pun tidak main-main.

Begitulah kapal laut dan pesawat terbang serta kuda mengajari manusia. Bahwa dalam hidup ini manusia harus berpacu untuk bergerak dalam kebaikan demi finish secara mulia di sisi Tuhannya. Siapa yang ingin bergerak cepat maka dia harus berlatih lebih giat. Bagi yang ingin melampaui yang lain maka dia harus melakukan percepatan (seolah “terbang”) sebagaimana yang tidak dilakukan yang lain. Dan pergerakan itu memang harus dilakukan secara berkesinambungan. Ringkasnya, berhenti berarti mati.

Saya pribadi sering membuat analogi. Motor apapun itu, kecuali motor matic, saat pertama kali akan melaju harus pakai “gigi” (gear) satu. Baru setelah berjalan normal, gear mulai ditambah, sampai maksimal. Mengapa harus pakai “satu” untuk kali pertama? Sebab, memulai itu berat. Dan ketika sudah berjalan menjadi ringan. Dengan gear empat sekalipun, gerak motor lancar dan cepat. Ketika kita terkena lampu merah maka kita berhenti, dan menurunkan posisi gear.

Di saat akan berjalan kembali, kita harus mulai dari satu lagi. Itu pertanda bahwa ketika kita sudah berjalan dan karena suatu hal berhenti, saat ingin “berlari” kembali beratnya luar biasa. Dalam konteks motor, harus dimulai dengan gear satu tadi. Ditarik dalam konstelasi kehidupan kita, karena berat tadi terkadang kita menjadi malas dan enggan untuk memulainya kembali. So, kalau kita memang sudah bergerak maka supaya terlepas dari rasa malas mari mempertahankan “pergerakan” itu. 

Banyak orang yang senang ketika memiliki waktu luang yang panjang. Dengan waktu yang luang tersebut, mereka bisa berleha-leha atau bahkan bermalas-malasan. Tetapi kalau dikembalikan ke dalam nurani kita, berdasarkan pengalaman saya pribadi, sebenarnya kita lebih puas ketika sedang banyak pekerjaan. Dengan catatan kita dapat menyelesaikan pekerjaan itu dengan baik. Hal itu karena hidup memang menuntut kedinamisan. Termasuk tubuh kita yang lebih sehat ketika terus bergerak, beraktivitas.

Saya bersyukur pernah belajar pada seorang guru yang memang patut untuk ditiru. Beliau yang sangat serius dan sungguh-sungguh dalam mengajar itu, sangat ringan tangan untuk membantu tugas istrinya. Beliau yang saya tahu berat dan banyak tugas mengajarnya itu sering membantu istrinya untuk –sekadar– mencuci baju. Itu yang sering saya dan teman-teman saya lihat. Bagi beliau, apa yang dilakukannya adalah bentuk kasih-sayang pada istrinya. Sungguh, luar biasa prinsip hidup beliau.

Di kesempatan yang lain, beliau sering memberikan nasihat kepada saya dan teman-teman. Nasihat itu menekankan pentingnya pergerakan (moving) dalam hidup. Dengan bergerak kita akan mendapatkan apa yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Meminjam bahasa Al-Quran, dengan bergerak (bertakwa) kita akan mendapatkan apa yang tidak pernah kita sangka (min haitsu lā yahtasibu). Dan sekali lagi pergerakan itu harus terus-menerus, tidak mengenal kata henti.

Al-harākatu barākat-un,” tutur guru saya tadi, yang biasa kami panggil Ust. Wahid. Maksudnya adalah bahwa dengan bergerak (harākah) kita akan mendapatkan keberkahan hidup (barākah). Orang yang menginginkan rezeki tetapi tidak mau bekerja tentu apa yang diimpikannya sekadar hadir di alam mimpi. Seorang siswa yang ingin menjadi juara kelas tentu harus “banyak bergerak”, belajar dengan ulet dan telaten. Sebab, ilmu itu kadang seperti misteri, harus terus dicari dan dihikmati.

Berawal dari nasihat singkat guru saya tadi, seorang senior pernah berujar kepada saya. Bagaimana kalau jargon “al-harākah barākah” itu dijadikan ide besar untuk penulisan sebuah novel. Boleh jadi nanti novel tersebut menjadi “saingan” novelnya Ahmad Fuadi dengan jargon “man jadda wajada”-nya itu. Sebuah ide yang menarik, pikir saya. Walaupun saya belum dibimbing oleh Allah untuk menulis novel yang dimaksud paling tidak saya sudah memulainya dengan menuliskannya di buletin ini.

Saya sadar sebagainya yang disadari senior saya betapa berharganya apa yang disampaikan guru kami itu. Saya telah banyak membuktikannya. Dengan melangkahkan kaki maka kita akan mendapatkan berkah yang tak terkira. Sebagaimana yang sering disampaikan bahwa Rasulullah sendiri lebih menyukai muslim yang kuat dibanding yang lemah. Muslim yang kuat adalah yang gesit langkah dan geraknya, jauh jangkuan hidupnya, besar pengaruhnya, karena terus berproses dan tidak pernah merasa puas.

Melengkapi tulisan ini, apa yang dipesankan Imam Syafi’i –sebagaimana tertulis di muka tulisan ini– tentu sangat berkesan untuk direnungkan. Air yang diam selain akan “merusak” dirinya sendiri juga tidak banyak memberikan manfaat bagi kehidupan. Air itu kurang sedap dipandang karena “kediamannya”. Hikmah yang selalu dituturkan adalah “mengalir seperti air”. Dimana air dipersepsikan sebagai simbol pergerakan yang ideal. Jadi, marilah menjadi “air kehidupan” yang terus mengalir, bergerak.

Sebagai penutup, saya merasa berhutang budi pada almarhūmah nenek saya. Nenek saya itu di usianya yang sudah tidak lagi muda masih rajin pergi ke kebun, dan lebih senang tinggal di rumahnya sendiri dibanding tinggal bersama anaknya. Katanya, beliau tidak nyaman kalau menganggur. Beliau yang sangat menyayangi saya itu justru sangat gemar beraktivitas. Itulah kisah nenek saya yang juga mengajari saya dan saudara pembaca bahwa hidup mesti dinamis agar terasa lebih manis. Wallāhu a’lamu. []

Kamis, 20 Juni 2013

KAILA DAN CINCINKU

Oleh: Samsul Zakaria (Ka’ Sams)
“Boleh dunk tahu nama adik siapa?” tanyaku pada gadis kecil itu.

“Kaila,” jawabnya singkat. Nama yang indah, batinku.

***

Malam itu, adzan Isya’ sudah mulai berkumandang dari masjid sekitar. Aku yang sejak shalat Maghrib masih menetap di mushalla turut-serta mengumandangkan adzan. Sebelumnya, datang seorang bapak dan ibu disertai putrinya yang masih belia. “Maaf, Mas. Kami numpang shalat,” ucapnya padaku. “Silakan, Pak! Monggo!” jawabku, seraya langsung mengambil posisi untuk mengumandangkan adzan.

Inilah yang berbeda antara Indonesia dan Malaysia. Di Malaysia, rasanya aku tidak pernah mendengar sahut-sahutan adzan. Sebab, jarak antar masjid di Malaysia sangat jauh. Di sana, yang banyak itu surau (mushalla). Dan pengeras suara surau tentu tidak sekeras masjid. Sementara di Indonesia, masjid bertebaran di mana-mana. Saat waktu shalat tiba, seolah ada lomba adzan antar masjid.

***
   
Adzan sudah aku kumandangkan. Selepas itu, aku berniat untuk menunaikan shalat rawatib, qabliyah Isya’. Tetapi aku mengurungkannya. Aku lebih tertarik untuk bercakap-cakap dengan gadis kecil yang ada di mushalla itu. Aku mencoba mendekatinya. Aku perhatikan, dia juga “tertarik” padaku. Diapun tidak menolak saat aku berusaha untuk menggendongnya. Dia mengenalkan diri dengan nama “Kaila”.

Kaila yang aku taksir berumur 3 tahun itu sudah nyerocos omongannya. Dengan ucapan yang tidak begitu jelas, aku mengerti apa yang dia maksudkan. “Rumahku dekat dari cini. Aku mau beli batu...,” katanya. Batu? Hem, ternyata maksudnya adalah “baju”. Namun karena dia masih belum fasih, sehingga masih keliru sebut. Kaila walaupun tidak menolak, nampak tidak nyaman di gendonganku.

***

Aku menurunkannya dari gendonganku. Aku membersamainya di atas hamparan lantai mushalla itu. Aku tunjukkan pula padanya cincin yang melingkar di jari manisku. Aku melepaskan cincin itu dan memutar-mutarkannya di atas lantai. Kaila nampak senang dan ingin mengambil cincin itu. Aku berusaha merebutnya. Aku katakan kalau cincin itu terlalu besar untuk jari Kaila yang kecil dan mungil. Kaila seolah tidak puas.

Aku masukkan cincin itu ke jari-jari kaila. Dari kelingking sampai jari telunjuknya. Benar saja cincin itu dapat masuk dan keluar dengan sangat mudah. Kaila pun mengerti kalau cincinku memang tidak pas untuk dikenakannya. “Kaila mau beli cincin?” tanyaku. “Iya, iya, iya. Di sana...,” jawabnya, sembari menunjuk toko yang ada di depan mushalla itu. Setelah itu, aku mencoba untuk menimang-nimang Kaila kembali.

Tak lama kemudian, datang seorang santri. “Siapa itu, Mas?” tanyanya penasaran. “Saudaraku.” “Kandung?” “Bukan,” jawabku. Ini adalah trik lama. Maksudku saudara itu adalah saudara sesama muslim. Sebab, setiap muslim hakikatnya adalah saudara. Dan santri tadi nampak percaya dengan apa yang saya katakan. Barangkali dia sudah membatin bahwa maksud saya hanyalah saudara sesama muslim tadi. 

***

Orang tua Kaila selesai menunaikan shalatnya. Mereka memang sengaja shalat sendiri (berdua). Tidak menunggu waktu berjamaah bersamaku dan teman-teman santri lainnya. Mereka terlihat gembira tahu kalau Kaila dekat denganku. “Wah, kecil-kecil sudah cas cis cus ngomongnya, Pak...,” komentarku. “Iya, Dik. Tapi masih salah-salah,” tuturnya, menimpali. Bapak dan ibu itu bersama Kaila kemudian meninggalkan mushalla pesantrenku.

Kaila sudah pergi, dan aku tidak tahu dimana sebenarnya rumahnya. Cincinku kembali aku sematkan pada jari manisku. Asal Kaila tahu bahwa cincin itu sangat berharga buatku. Meskipun berharga, saat ini cincinku tidak ada kaitannya dengan perempuan manapun. Terima kasih Kaila, telah menghiburku, sedikit mengobati rinduku pada adik perempuanku. Doakan aku, supaya lekas mendapat SIM C: Surat Izin Memakaikan Cincin. Āmīn. []

_______________________
Picture: http3.bp.blogspot.com-4apbj4sg2-8UGA-6nM4fWIAAAAAAAADSo2LIDNkDBeQAs1600cincin.jpg
 

Kamis, 13 Juni 2013

SAYONARA MALAYSIA

Oleh: Samsul Zakaria (Ka’ Sams)

 
Sebuah perjumpaan itu terkadang hadir ibarat perjodohan. Kita tidak dapat menerkanya secara pasti sehingga hanya diketahui oleh Tuhan. Ketika Dia mempertemukan kita dengan seseorang maka berlanjutlah kisah kehidupan. Pasti banyak kenangan, baik manis atau pahit, kurang berkesan atau sangat berkesan. Pastinya tidak ada yang sia-sia dalam kamus kemahabesaran Tuhan.

Salah satu kemurahan Tuhan yang diberikan kepada saya pribadi adalah kesempatan untuk berkunjung ke Malaysia. Tentu ini adalah kenikmatan yang luar biasa. Akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di Menara Petronas –Kuala Lumpur– walaupun saya dahulu hanya dilahirkan di desa. Rasanya tak perlu banyak basa-basi karena tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Selama di Malaysia itulah saya banyak tahu tentang self service dan self cleaning. Di Indonesia, kalau mengisi bensin cukup simpel. Buka tutup tanki, petugas mengisi sesuai dengan permintaan, lalu bayar. Di Malaysia berbeda. Kita harus membayar terlebih dahulu di kasir. Dan tempat pengisian tidak ada yang menjaga, tidak ada petugasnya. Setelah membayar kitalah yang mengisikan bensin itu. Itulah contoh self service.

Untuk self cleaning, paling sering saya jumpai saat saya sedang makan di kantin kampus. Selesai makan, mereka terbiasa mengumpulkan piring, gelas, dan sendok yang kotor di satu tempat khusus. Dengan begitu akan memudahkan orang yang bertugas mencucinya. Hikmah lainnya, dengan model self cleaning tersebut meja makan selalu tampak bersih. Di Indonesia, saya pribadi belum menjumpainya.

Semua kenangan yang saya dapatkan di Malaysia terekam rapi dalam ingatan. Tentu tidak semuanya positif. Ada juga negatifnya yang dengan pertimbangan kemaslahatan tidak saya ceritakan di tulisan ini. Pastinya, kenangan tersebut akan menjadi cerita yang menarik untuk disajikan kepada siapapun juga. Termasuk ketika saya sudah berkeluarga. Cerita untuk istri, anak, dan cucu, katanya.

Saat ini saya sudah berada di Indonesia, kembali merajut asa di negeri kelahiran saya. Dan tentu saya akan berbagi seputar kenangan dan pengalaman selama di negeri jiran. Dan tak lupa saya pun berdoa agar teman-teman saya Allah berikan kesempatan untuk lawatan ke sana. Dan hal itu –tentunya– tidak harus ke Malaysia. Bisa saja ke negeri yang lebih jauh, lebih baik, dan lebih amazing(!) untuk dijadikan destinasi belajar dan bertamasya.

Teringat perpisahan yang begitu hangat dengan sahabat-sahabat baru di Malaysia. Mereka yang begitu menghargai arti pertemuan. Mereka yang sangat mengerti bahwa saya pun bahagia berjumpa dengan mereka. Mereka yang dengan berat hati melepas kepulangan saya. Mereka yang dengan tulus mendoakan semoga saya selamat sampai tujuan. Doa saya, semoga mereka diberikan kemudahan dan berkesempatan untuk berkunjung ke Indonesia.

Foto bersama menjelang perpisahan. Dari kiri: saya, Iqbal Zen, Nasyitah, Anis, Adibah, dan Hazira.
Malaysia memang sudah berjarak ribuan kilo. Tetapi auranya seakan masih lekat di depan mata. Saya memang sudah di sini, dan jauh dari sana. Tetapi apalah artinya sini dan sana jika kita masih berada di dunia yang sama. Jarak dan perbedaan suasana bukan menjadi penghalang untuk saling belajar dan memahami. Tetapi bagaimanapun izinkan saya berucap, “Sayonara Malaysia. Lain sempat saya akan kembali lagi ke sana. Bi idznilLāh...” []


Rabu, 29 Mei 2013

INDON(ESIA)

Oleh: Samsul Zakaria (Ka’ Sams)

 
Suatu hari saya dan teman-teman mengemas ‘Jurnal Mahasiswa’ untuk dikirimkan ke beberapa pihak. Waktu itu, saya tidak tahu siapa yang awalnya menulisi amplop pembungkus jurnal tersebut. Di amplop itu tertulis “Jurnal Bahasa Indon”. Jumlah jurnalnya memang banyak. Penyingkatan “Indonesia” menjadi “Indon” itu demi mempercepat pengerjaan. Senior saya kemudian melengkapi “Indon” tersebut menjadi “Indonesia”.

Dia katakan, kalau hanya ditulis “Indon” itu tidak sopan. Apalagi isi amplop tersebut adalah jurnal ilmiah. Tentu tulisan “Indon” tersebut sangat kontras dengan apa yang ada dalam amplop itu. Sehingga, dengan cermat senior saya tadi menambahkan “esia” dalam setiap tulisan “Indon”. Saya pun memang tidak nyaman mendengar kata “Indon”. Ada kesan miring, dan ini masalah (harga diri) bangsa.

Sebelum saya berangkat ke Malaysia, saya mendapatkan pembekalan dari beberapa dosen. Mereka memang sudah pernah belajar dan tinggal di Malaysia. Kata mereka, orang Malaysia biasa menyebut Indonesia dengan “Indon”. Jadi, saran mereka, saya tidak perlu kaget dan tersinggung mendengar kata tersebut. Itu sebenarnya masalah kebiasaan dan bukan dalam rangka mengkerdilkan orang Indonesia.

Source: http://hukum-on.blogspot.com/2012/06/sistem-hukum-indonesia-campuran-dari.html

Saat saya tiba di Malaysia, apa yang diceritakan dosen saya memang benar. “Dari Indon?” kata mahasiswa USIM, membuka percakapan. Dengan sedikit merasa “aneh”, saya pun mengiyakan pertanyaan mereka. Hingga suatu malam salah seorang mahasiswa USIM bertanya kepada saya. Awalnya, dia pun meminta maaf kalau pertanyaan itu kurang enak didengar karena –memang– sensitif.

Dia bertanya, apakah benar kalau orang Indonesia tidak suka dipanggil “Indon”. Saya pun berusaha menjelaskannya dengan sopan. “Memang ‘Indon’ itu kesannya negatif. Tetapi kami pun sudah dibagi-tahu kalau orang Malaysia biasa sebut kami “Indon”. Jadi tidak ada masalah,” tutur saya. Saya tegaskan sembari tersenyum bahwa semua itu tergantung niat, yang ada dalam hati. Al-umūru bi maqāshidihā...

Maksud saya, walaupun mereka menyebut “Indon” tetapi kalau tidak berniat untuk merendahkan maka tidak ada masalah. Dan lagi, kebanyakan mereka mungkin juga tidak paham kalau sebutan itu bagi orang Indonesia sendiri bermakna negatif. Jadi, tergantung bagaimana kita –sebagai orang Indonesia– bisa menempatkan diri. Karena terkadang apa yang sudah biasa itu dianggap benar, dan tidak salah.

Kalau saya perhatikan memang ada banyak “penyingkatan” di Malaysia. Misalnya, untuk menyebut Malaysia sendiri cukup dengan “Malay” sahaja. Lainnya, Bangladesh –dan ini saya dengar langsung dari orang Bangladesh yang belajar di USIM– cukup disebut “Bangla”. Dan mungkin ada banyak contoh lainnya yang –sementara waktu– belum saya ketahui. Dan boleh jadi ini hanya masalah penyederhanaan supaya lebih cepat diucapkan.

Terakhir, setelah bertanya tentang “Indon”, teman Malaysia tadi juga bertanya apa arti “ganyang” (Malaysia). Saya mencoba untuk berhati-hati menjelaskan masalah ini. Saya katakan kalau itu memang ekspresi “beberapa” orang Indonesia yang “geram” dengan Malaysia. Contohnya, karena masalah perebutan pulau. Dan yang sebenarnya tidak sportif, karena kalah dengan Malaysia di AFF. Itulah kisah Indonesia di –dan bersama– Malay(sia). []


Selasa, 28 Mei 2013

DOSEN KEREN

Oleh: Samsul Zakaria (Ka’ Sams)


Di hari ke-13 di Malaysia, saya perlu mengucapkan syukur kepada Allah Yang Maha Segalanya. Hari itu, Senin (27/5/’13) saya baru menemukan “tempe”, di kantin Fakulti Syariah dan Undang-Undang (FSU). Saya memang sudah sering makan di kantin itu, bahkan setiap hari saat waktu aktif kuliah. Tetapi tak tahu mengapa baru hari itu saya menjumpai tempe. Tempe, adalah makanan yang sering saya jumpai di Indonesia, dan saya rindukan di Malaysia.

Ketika saya dan Iqbal Zen sedang menikmati sarapan kami siang itu, datanglah Anis “Congkak” dan Nasyitah. Mereka berdua adalah students asli Malaysia. Mereka menghampiri kami, dan menyodorkan buku berjudul Tamadun Islam dan Tamadun Asia (TITAS). Lebih spesifik, Anis menunjukkan bagian yang membahas tentang asal-usul bahasa Melayu. Tetapi saya tidak ingin membahas lebih jauh masalah ini.

Menjelang titik inti, sebelumnya saya bertanya kepada Anis apakah hari itu mereka ada kuliah lagi. Dia mengiyakan, dan kuliah itu akan dimulai pukul 02.00 Waktu Malaysia. Saya dan Iqbal Zen berencana untuk mengikuti perkuliahan tersebut. Sayangnya, kami urung untuk masuk ke ruang kuliah Anis dan Nasyitah dan justru “terhipnotis” untuk masuk ke ruang sebelah. Tepat di samping ruang kuliah Anis dan Nasyitah.

Ketika sudah berada di ruangan, saya pun mengirimkan pesan singkat ke salah satu dari mereka. Saya katakan, kami tidak jadi mengikuti kelas mereka tetapi kami ikut kuliah di kelas samping mereka. SMS itu dijawab. “Oke... Selamat menuntut ilmu...” Saya merasa lega karena mereka tidak kecewa saya urung mengikuti kuliah mereka. Saya pun mencoba untuk mengikuti kuliah siang itu dengan baik.

Source: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCBRdhlfMoTMFksoORnxpm2TARAyYe038VKNTgRqFQJWhNmgaGi4RpUfhnY1ZT2XuarW2KakPPjixlRgrNkQoM0LIwgs8429lF7x6WMgmYP432YduOB0IUgghHeXQ2FX2g3Wm6EuAifpIU/s400/lecture.jpg
Dosen yang masih tampak muda, gagah. Berdasi, tetapi mengenakan baju (hem) lengan pendek. “Modis,” pikir saya. Osama Kanaki, namanya. Materi kuliah siang itu tentang Manhaj ad-Da’wah al-Islāmiyah. Siang itu adalah kuliah terakhir karena minggu depannya adalah Study Week (minggu tenang). Minggu selanjutnya akan diadakan final examination. Jadi, materi yang disampaikan kala itu boleh dikatakan sebagai materi paripurna.

Bagi saya, Mr. Osama itu keren. Dia menyampaikan kuliah dengan baik dan lancar. Menariknya, dia menggunakan 2 bahasa sekaligus: Arab dan Inggris. Itulah mengapa saat seorang mahasiswa diminta maju untuk menyampaikan kuliah apa yang paling disukai. Dia katakan bahwa kuliah Mr. Osama lah yang menjadi favoritnya. Dia bukan tanpa alasan. Alasan logisnya karena Mr. Osama mampu berbahasa Arab dan Inggris dengan baik.

Bagi mahasiswa yang “oke” bahasa Arabnya tetapi kurang bahasa Inggrisnya, tetap bisa menerima kuliah dengan baik. Sebaliknya, mereka yang lebih “matang” bahasa Inggrisnya, juga bisa mengikuti kuliah dengan maksimal. Selain itu, penjelasan beliau akan slide yang ditampilkan juga sangat jelas dan lugas. Ditambah dengan kisah-kisah menarik yang menguatkan apa yang dimaksudkan.

Saya pun berpikir, inilah dosen yang patut untuk dicontoh. Di usianya yang masih muda, beliau sudah menyelesaikan doktoralnya (Ph.D). Diapun terlihat “dekat” dengan mahasiswaa. Mau menerima masukan untuk perbaikan kuliahnya di masa yang akan datang. Penting juga bahwa slide mata kuliah beliau tidak banyak, tetapi inti-intinya sudah terangkum dengan jelas. Luar biasa! Terima kasih, Mr. Osama atas ilmu dan hikmahnya. []