Moderator Diskusi Pendidikan Karakter

Saya bersama Drs. Aden Wijdan SZ, M.Si. dan Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi, M.Si., Ruang Audiovisual Perpustakaan Pusat UII, Jumat (27/4/12)

LPM Pilar Demokrasi

Foto bersama setelah Diskusi Pendidikan Karakter bersama "Tempo", Jumat (27/4/12)

Ketep Pass, Magelang

Rihlah bersama Jama'ah Al-Faraby (JAF), Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Universitas Islam Indonesia

Visiting Wisuda

Wisuda adalah sebuah keniscayaan yang harus dilalui menjelang pernikahan

Gua Pindul, Gunung Kidul

Pindul itu "Pipi Kebendul", dan karenanya gua itu diberi nama [Edisi Konon]

Gua Cermei, Bantul-Gunung Kidul

Eksotisme itu tidak hanya berada di alam terbuka saja, bukan?

Jumat, 06 Desember 2019

HANYA POHON BERBUAH YANG DILEMPARI BATU





Bila ada yang membicarakanmu di belakangmu itu artinya dirimu sudah selangkah lebih maju...” (Anonim)

“Kita tidak bisa memastikan orang lain untuk tidak membenci kita. Namun kita bisa memastikan diri kita untuk tidak membenci siapapun,” ujar seorang alim nan bijaksana. Bahwa seberapa kuat kita berupaya menjadi orang baik pasti saja ada orang lain yang menaruh rasa benci kepada kita. Pada akhirnya, kita tidak bisa menyetir sikap orang lain terhadap kita. Satu hal yang bisa kita pastikan adalah bagaimana sikap kita kepada orang lain. Sebab, kitapun nanti tidak ditanya tentang orang lain tetapi ditanya tentang diri kita sendiri.
Setetes racun yang dituangkan pada segelas air akan menjadikan air itu beracun. Berbeda ketika setetes racun itu dimasukkan ke dalam samudera, tentu tidak menyebabkan mudharat apa-apa bagi samudera tersebut. Begitulah gambaran bagaimana semestinya kita mengatur kedalaman hati kita. Bila hati kita hanya seumpama segelas air maka “racun-racun” kehidupan yang sepele akan mengubah kemurniannya. Adapun bila hati kita seluas samudera maka riak-riak kecil hanya hiburan belaka. Tergantung kita mau memilih dan mengikhtiarkan hati yang seperti apa.
Rasanya mustahil kita mengatur segala hal yang mengitari kita adalah baik dan normal. Sebab kehidupan ini memanglah dinamis dan anomalis. Sekali lagi, yang bisa kita pastikan adalah sikap kita terhadap segenap hal yang mendatangi kita. Seorang psikolog pernah berujar bahwa segala macam keadaan yang dihadapkan kepada kita adalah netral. Baik itu pujian ataupun cacian. Entah itu promosi maupun demosi. Cara kita menangkap dan merespon setiap kondisi tersebutlah yang menjadi kuncinya. Seringkali, berhasil menyikapi cacian itu lebih baik daripada gagal menyikapi pujian.
Pada umumnya, manusia menginginkan semuanya berjalan baik dan sesuai harapan. Everything is okay. Namun kenyataan tidaklah selalu semanis keinginan. Ada gap antara keinginan dan harapan. Itulah yang sering disebut dengan masalah. Bahwa realitas positif dan negatif itu akan datang silih berganti. Keduanya adalah dua kutub kehidupan yang seiring-sejalan. Tidak bisa dihindari namun kita bisa berdamai dengan keduanya sebagai kenyataan yang datangnya pasti. Bagaimana kita mengorkestrasi dua hal tersebut sehingga tercipta irama hidup yang syahdu.
Ridha Manusia
        Kisah kuda dan si empunya memberikan pelajaran berharga bagi kita. Ketika si empu dan anaknya menuntun kuda, khalayak berteriak. “Mengapa tidak ditunggangi saja kuda itu?” tanya mereka. Lalu, keduanya menaiki kuda tersebut. Khalayak protes. “Sungguh tidak berperikehewanan!” tukas mereka. Lantas sang ayah menaiki kuda dan sang anak berjalan. Diprotes lagi. “Ayah yang tidak sayang anak!” Sang anak pun naik kuda, sang ayah berjalan. Kritikan pun datang lagi. “Anak yang tidak tau diri!” hardik mereka. Haruskah keduanya menggendong kuda itu? Pasti akan dikomentari lagi.
        Menyenangkan orang lain adalah kebaikan. Berkomitmen dalam hal tersebut adalah utama. Namun yang perlu diingat bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua manusia. Pasti ada yang dikorbankan. Pepatah Arab mengatakan, “Ridha an-naasi ghaayatun laa tudrak.” Artinya, keridhaan semua manusia adalah tujuan yang tidak mungkin tercapai. Karena tidak mungkin tercapai tersebut maka semestinya keridhaan manusia tidak menjadi tujuan. Manakala kita ingin menyenangkan orang lain maka semata karena mengikuti sunnah. Bagaimana penerimaan orang bukan menjadi masalah kita.
        Hal di atas senada dengan seringnya kita kecewa ketika terlalu banyak berharap kepada manusia. Semakin besar harapan kepada sesama manusia maka semakin besar pula risiko kekecewaan kita. Lalu, apakah kita tidak boleh berharap kepada manusia? Tentu saja boleh namun yang sewajarnya. Dengan begitu, kita siap dengan segenap kemungkinan. Termasuk menyiapkan alternatif ketika keinginan tidak sesuai dengan harapan. Sebab, kita tidak bisa memastikan sikap dan respon orang lain. Namun kita bisa memastikan sikap dan respon kita atas semua itu.
        Fokus pada ridha manusia juga menjadikan kita tidak merdeka dalam bersikap. Misalnya, kita sudah berbuat baik dan berusaha menyenangkan orang lain. Ternyata penerimaannya lain dan tidak sesuai harapan kita. Dengan kata lain, dia tidak mengapresiasi kita. Bila keridhaan manusia yang menjadi tujuannya, apa yang terjadi? Tentu kita akan berhenti berbuat baik kepadanya. Padahal kita diajarkan untuk istiqamah dalam kebaikan. Betapapun keadaan memaksa kita untuk berhenti berbuat baik namun kita tetap memilih untuk bertahan dan konsisten.
Tidak semua orang ridha kepada kita. Karena itu, kita bisa mengantisipasi hal tersebut. Contohnya, saat ada teman kita yang membicarakan aib orang lain di hadapan kita. Sebaiknya kita tidak terlibat banyak dalam obrolan itu dan berusaha menghindarinya. Selain karena dosa, ada sebab lainnya. Rumusnya adalah orang yang menceritakan aib orang lain di hadapan kita besar kemungkinan akan menceritakan aib kita di hadapan orang lain. Sebaliknya, orang yang mudah menceritakan kebaikan orang lain di hadapan kita, besar kemungkinan akan menceritakan kebaikan kita kepada orang lain.



Ridha Allah
        Jika ridha semua manusia tidak mungkin diraih maka ridha Allah lah yang harus menjadi orientasi hidup kita. “RidhalLaahi ghaayatun laa tutrak,” katanya. Artinya, ridha Allah adalah tujuan yang tidak boleh ditinggalkan. Kita memang tidak bisa memastikan tergapainya ridha Allah. Namun kita bisa memastikan diri kita untuk terus berikhtiar menggapainya. Seluruh jiwa raga harus dimaksimalkan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Tatkala kita berbuat baik dan menyenangkan orang lain itupun diniatkan dalam rangka meraih ridha Allah.
        Orientasi pada ridha Allah juga menjadikan kita lebih siap untuk menjalani dinamika kehidupan. Setiap ujian yang datang dihadapi dengan keridhaan dan husnudh-dhan bahwa ujian adalah bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Tidaklah ujian datang kecuali untuk menggugurkan dosa dan meninggikan derajat di sisi-Nya. Ketika kita sekolah, setiap menghadapi kenaikan kelas selalu dihadapkan dengan ujian. Begitu juga hidup kita. Saat iman semakin berbuah maka semakin kuat ujian menyapa. Semakin banyak yang tertarik untuk “melempari”-nya guna menggugurkan buah keimanan tersebut.
        Ujian keimanan bisa datang dalam wujud apa saja. Seringkali orang-orang terdekat yang menjadi medianya. Kadang kita tidak siap dengan omongan orang. Kita tidak kuat tatkala kebaikan tidak berbuah apresiasi. Kita lemah ketika tindakan mulia hanya berujung kritikan. Kita loyo saat orang yang kita percaya justru bermain di belakang kita. Di situlah saatnya kembali kepada keridhaan Allah agar segenap sikap manusia tidak melemahkan kita. Kita jadikan itu semua sebagai pemantik untuk terus tumbuh. Bukan dalam keridhaan manusia, namun dalam ridha-Nya.
        Selain ridha Allah yang menjadi tujuan, penting untuk melatih diri kita untuk ridha dengan segenap takdir-Nya. Karenanya, segala badai kehidupan yang menerpa adalah medium untuk melatih keridhaan kita atas ketentuan-Nya. Hingga akhirnya kita akan diminta pulang menghadap keharibaan-Nya. Dengan hati yang rela, ridha, puas, dan ikhlas akan takdir kehidupan yang digariskan-Nya sekaligus diridhai oleh-Nya. Dengan kondisi tersebut kita dipanggil untuk masuk dalam jama’ah hamba-hamba-Nya. Lantas masuk ke dalam surga-Nya (QS. al-Fajr [89]: 27-30). Wallahu a’lamu. []
       
Samsul Zakaria, S.Sy., M.H.,
PNS/Calon Hakim pada PA Tanjung, Kalsel,
Magang PPC di PA Kabupaten Malang Kelas 1A


Catatan:
Tulisan ini sebelumnya telah terbit dalam buletin Jumat “al-Rasikh” Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Edisi No. 873 Tahun XV/9 09 Rabi’ul Tsani 1441 H/06 Desember 2019. Versi online buletin tersebut dapat diakses pula pada link berikut: https://alrasikh.uii.ac.id/2019/12/03/hanya-pohon-berbuah-yang-dilempari-batu/.

Kamis, 23 Agustus 2018

IDUL FITRI, MUDIK, DAN KEMENANGAN DIRI


Ketika mudik ke kampung halaman, ada beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan oleh penduduk kampung. Mulai dari pekerjaan di tanah rantau sampai—meskipun ini tidak selalu bermakna serius—perihal oleh-oleh yang dibawa. Pertanyaan tentang oleh-oleh ini sebenarnya mengingatkan kita tentang ‘mudik’ ke kampung akhirat. Bahwa di alam keabadian itu, kita pasti akan ditanya ‘oleh-oleh’ alias bekal apa yang dibawa dari tanah rantau dunia.

Mudik dalam konteks dunia hampir selalu terjadi pada momen Idul Fitri. Adapun mudik ke kampung akhirat hanya sekali saja terjadi. Mudik di dunia adalah sebuah pilihan dan terkadang menjadi ukuran keberhasilan. Berbeda dengan mudik abadi, ia adalah sebuah kepastian. Mau tidak mau, suka tidak suka, setiap kita pasti akan mengalaminya. Karenanya, kita yang terlatih menyiapkan oleh-oleh menjelang mudik Idul Fitri, semestinya harus lebih lihai menyiapkan bekal ‘mudik’ ke akhirat.

Mudik yang identik dengan Idul Fitri atau lebaran tersebut dengan demikian menjadi pengingat guna meraih kemenangan diri (keselamatan) di akhirat. Kemenangan diri di akhirat tersebut harus dimulai dengan kemenangan diri sejak di kampung dunia. Seperti sabda Rasulullah bahwa jihad yang lebih besar adalah jihad melawan diri sendiri. Maknanya, para pemenang itu adalah mereka yang berhasil mengalahkan segala hasrat negatif yang ada dalam dirinya.

Idul Fitri biasa ditandai barunya pakaian yang membaluti dan menghiasi tubuh. Baju baru juga menjadi salah satu oleh-oleh yang dibawa ketika mudik untuk dihadiahkan kepada orang tua, saudara, dan karib kerabat. Berbaju baru di kala Idul Fitri tersebut paling tidak sebagai upaya untuk tampil wajar dan pantas kala saling bertemu, bertamu, dan menerima tamu (Ishomuddin, 2018). Selain sebagai simbol kebaruan iman dan kesucian diri.

Dalam QS al-A’raf [6] ayat 26 difirmankan bahwa Allah telah menurunkan pakaian kepada anak cucu Adam guna menutup aurat dan sebagai perhiasan. Namun selanjutnya, masih di ayat yang sama disampaikan bahwa pakaian takwa itulah yang paling baik (wa libasut taqwa dzalika khair). Tanpa mengesampingkan perlunya pakaian baru Idul Fitri, ada pakaian yang lebih penting dan substansial. Itulah pakaian takwa.

Wujud pakaian takwa—diterangkan dalam Tafsir Jalalain—adalah amal kebajikan dan perilaku yang baik (al-‘amal ash-shalih wa as-sumtu al-hasan). Sejalan dengan itu, hasil tempaan selama bulan Ramadhan harus mampu terwujudkan di bulan-bulan selanjutnya. Dengan demikian, spirit Ramadhan tetap terpatri dalam diri sejak datangnya Idul Fitri sampai bertemu Ramadhan kembali dan bahkan hatta suatu saat harus ‘mudik’ ke kampung abadi. 

Kemenangan diri di hari nan fitri ini menjadikan kita—meminjam logika Cak Nun—bijak memposisikan mana isi (substansi) dan mana yang sekadar bungkus (kemasan). Kata Cak Nun, utamakan isinya serta tetaplah merawat bungkusnya dengan baik. Kata para bijak pandai, laisal ‘id li man labisal jadid wa lakinnal ‘id li man taqwahu yazid. Idul Fitri sejatinya bukan bagi mereka yang mengenakan baju baru. Tapi, bagi mereka yang kadar takwanya bertambah.

Samsul Zakaria, S.Sy., M.H., Calon Hakim di Pengadilan Agama (PA) Tanjung. Menyelesaikan studi Magister Hukum (MH) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dapat disapa lewat @samsul.zakaria

Note:
Sebelumnya artikel tersebut sudah diterbitkan di situs:
1. https://badilag.mahkamahagung.go.id/hikmah/publikasi/hikmah-badilag/idul-fitri-mudik-dan-kemenangan-diri-oleh-samsul-zakaria-s-sy-25-6
2. http://www.pa-tanjung.go.id/index.php?content=mod_artikel&id=27

Sabtu, 02 September 2017

BELAJAR DARI SITI HAJAR



Ibu, kasihmu terus bersinar
Kau ajarkan, baik dan juga benar
Akupun tahu, Allah Maha Besar
Bagiku, engkaulah Siti Hajar



Bila aku berlayar lalu datang angin sakal, Tuhan yang ibu tunjukkan telah aku kenal. Tulis KH. D. Zawawi Imran (budayawan asal Madura), dalam sajaknya yang berjudul ‘Ibu’. Penggalan puisi di atas adalah ekspresi salam ta’dzim sang penulis kepada ibunya yang telah melahirkannya. Ibu adalah wanita yang kasihnya begitu tulus. Ia berikan separuh jiwanya untuk buah hatinya. Sejak dalam kandungan, kita sudah begitu nyaman berada dalam lindungan ibu. Lalu, pernahkah kita berpikir, bagaimana kita membalas kasih tulus sang ibu?
            Anak adalah amanah Allah. Sementara orang tua adalah pemegang amanah besar tersebut. Menunaikan amanah dengan baik akan diganjar surga. Sedangkan menyia-nyiakan amanah adalah dosa besar. Itu pula yang menggambarkan kecintaan Siti Hajar kepada anaknya, Isma’il AS. Ia telah mengurusi Isma’il AS dengan segenap kemampuan. Namun ia sadar bahwa amanah itu adalah titipan. Titipan itu adalah milik Sang Penitip. Sang Penitip itu tiada lain adalah Allah SWT.
            Ketika Allah SWT memerintahkan Ibrahim AS untuk menyembelih putranya, Siti Hajar tidak sama sekali melayangkan protes. Sebagai ibu yang sangat menyayangi anaknya, ia (tetap) sadar bahwa pemilik Isma’il AS yang sejati hanyalah Allah. Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, ia merelakan Isma’il AS untuk dijadikan sesembelihan. Rasanya, sangat sukar menemukan Siti Hajar saat ini. Bagaimana mungkin seorang ibu tega (Jawa; tegel) melihat anaknya akan dibunuh, dan oleh bapaknya sendiri.
            Siti Hajar memang bukan wanita biasa. Ia adalah sosok wanita yang luar biasa. Wajar kalau kemudian anaknya, Isma’il AS, diangkat pula oleh Allah sebagai seorang nabi dan rasul. Siti Hajar telah mengajarkan kepada para ibu untuk bijak dalam menyikapi karunia Tuhan. Jangan sampai karena kecintaan kepada sang anak menjadikan manusia lupa akan kebesaran Ilahi. Ketika kita lebih mencintai dunia, termasuk sang anak, lebih dari cinta kita kepada Allah maka tunggulah keputusan-Nya. Itu karena Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS. at-Taubah [9]: 24).
            Konsistensi ketaatan kepada Allah sering kali harus berbenturan dengan kecintaan manusia kepada anak keturunannya. Itulah yang dialami oleh Siti Hajar, ibunda Isma’il AS. Benturan tersebut, sebenarnya, adalah ujian yang berat dari Allah SWT, kepadanya. Dalam kisahnya, Siti Hajar telah berhasil menunjukkan kepada Allah akan kemurnian taatnya, walaupun harus merelakan anak satu-satunya menjadi tebusannya. Sungguh luar biasa! Tentu kita mendambakan sosok Siti Hajar hadir di tengah-tengah kita.
            Sosok ibu adalah qudwah yang paling dekat bagi seorang anak. Dalam Islam, seorang anak idealnya disusui oleh ibunya selama kurun waktu 2 tahun. “Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna…” (QS. al-Baqarah [2]: 233). Ibu dengan penuh ketulusan, merelakan hari-harinya untuk bersanding-ria dengan buah hatinya. Selama 2 tahun, ibu memberikan air susunya untuk kelangsungan hidup sang anak. Sudah tidak diragukan lagi hikmah dari perintah ini. Kandungan gizi air susu ibu memang tidak pernah mampu tergantikan.
            Sejak anak dalam kandungan, sejatinya sudah mulai belajar akan arti kehidupan. Ia sudah dapat menangkap kondisi alam sekitar yang mengitarinya. Kemudian lahir ke dunia, menyapa alam semesta. Sang ibu menjadi pendampingnya yang begitu ramah. Ibu menyediakan segenap kebutuhan bagi buah hatinya. Lalu, bagaimana dengan ibu yang tega membunuh anaknya? Mungkin benar kata orang. “Semua ibu itu perempuan, tetapi perempuan itu belum tentu keibuan.” Ibu yang tega membunuh itu memang tetap seorang ibu, tetapi ia tidak memiliki jiwa keibuan. Na’ûdzubillah
Keteguhan Iman Siti Hajar
            Bagaimana Siti Hajar begitu yakin dengan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya. Padahal, Isma’il AS laksana buah hati belahan jiwa, baginya. Ibrahim AS dan Siti Hajar baru mendapatkan sang putra dalam usia yang tidak lagi muda. Setelah mendapatkan dambaan hatinya, Isma’il AS, justru Allah memerintahkan keduanya untuk menyembelihnya. Luar biasa kegundahan jiwa Ibrahim dan istrinya ketika itu.
            Siti Hajar digoda, setelah setan gagal menggoda Ibrahim AS dan Isma’il AS. Setan seolah berbisik, “Tidakkah kamu sayang kepada anakmu yang kamu bela berlari dari (bukit) Shafa dan Marwah untuk mencari air minum!” Atau, setan membisikkan, “Kamu seorang ibu yang tega membiarkan bapaknya yang tidak ikut merawat sejak bayi, tapi justru (akan) menyembelihnya ketika anak itu beranjak remaja.” (Fathurrofiq, Radar Jogja, 4/11/11).
            Seandainya Siti Hajar memrotes tindakan yang akan dilaksanakan Ibrahim AS, besar kemungkinan Ibrahim AS akan mengurungkan niatannya. Namun ternyata keimanan Siti Hajar begitu tangguh. Ia tidak sama sekali terbawa oleh bujukan setan. Ia kemudian mengumpulkan beberapa kerikil dan melemparkannya kepada setan. Itu sebagai pertanda akan ketaatan pada Tuhan dan upaya untuk mengindarkan diri dari godaan setan. Prosesi melempar setan yang dilakukan Ibrahim AS, Isma’il AS, dan Siti Hajar, diabadikan dalam syariat haji. Syariat itu yang dikenal dengan istilah melempar jumrah (ram’yu al-jumrah).
            Seorang ibu, selain harus taat kepada Allah, juga harus menanamkan ketauhidan kepada anaknya. Dengan tauhid, sang anak mengerti hakikat penciptaannya di dunia. Ia diciptakan tiada lain hanyalah untuk mengabdi kepada Allah SWT (QS. adz-Dzâriyât [51]: 56). Segala kebaikan yang dilakukan di dunia, termasuk berbakti kepada orang tua, adalah manifestasi dari pengabdian kepada Allah. Hal itu karena berbakti kepada orang tua adalah perintah Allah SWT dalam kitab suci-Nya (QS. al-Isrâ’ [17]: 23).
Zam-zam sebagai Kenangan
            Kisah Siti Hajar, memberikan pelajaran yang berharga bagi umat manusia. Siti Hajar adalah ibu yang begitu sayang dan cinta kepada anaknya, Isma’il AS. Ia rela berlari-lari kecil untuk mencari air, demi menghilangkan dahaga putranya. Sementara ia juga sedang merasakan hal yang sama. Namun yang terpikirkan kala itu adalah bagaimana Isma’il AS bisa meminum air. Antara Shafa dan Marwah, Siti Hajar berlarian sebanyak 7 kali. Hanya fatamorgana (sarâb) yang menjadikannya yakin akan adanya air. Tetapi sebanyak 7 kali bolak-balik, ia tetap gagal mendapatkan air.
            Akhirnya, Allah menunjukkan kepadanya, bahwa dengan menghentakkan kaki maka akan keluar air. Sumber air itulah yang sampai saat ini tidak pernah berhenti memancarkan air. Ia terus mengalir, menjadi sumber kehidupan bagi umat manusia, khususnya penduduk Mekah, dan tentunya jamaah haji. Kita juga sadar begitu berharganya air dalam kehidupan. “… Dan Kami Jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS. al-Anbiyâ’ [21]: 30).
            Ternyata perjuangan Siti Hajar, tidaklah sia-sia. Manfaat dari usaha kerasnya dikenang sepanjang masa. Tidak pernah termakan usia. Itu karena zam-zam menjadi air kehidupan yang juga berguna untuk sebagai obat penyembuhan pelbagai penyakit. Singkat kata, air zam-zam yang pernah kita teguk adalah berkat perjuangan Siti Hajar. Pelajaran berharga dari kisah ini adalah, bagaimana seorang ibu di masa kini, berperan aktif dalam kehidupan. Sehingga perannya akan terkenang sepanjang masa.
Siti Hajar dan Peran Wanita
            Ustadzah Khofifah Indar Parawansa (juri kontes dai muda ANTV), menyadari bahwa peran wanita yang begitu kuat dalam lintasan sejarah Islam, tidak banyak diungkap. Para dai/muballigh, nampaknya belum akrab untuk mengobarkan kisah perjuangan heroik wanita yang patut dijadikan teladan. Padahal seharusnya, banyak kisah yang dapat dieksplorasi lebih jauh, termasuk kisah Siti Hajar yang luar biasa inspiratif. Sehingga, wanita dapat ditempatkan secara proporsional dalam kehidupan sosial.
            Siti Hajar adalah wanita, istri, ibu yang berhasil menemani dakwah suaminya. “Di sebelah lelaki sukses, ada seorang wanita yang mendampingi, dan wanita itu adalah istrinya,” tulis Ahmad Rifa’i Rif’an dalam bukunya. Hal itu menggambarkan bahwa suksesnya perjuangan Nabi Ibrahim AS tidaklah lepas dari hadirnya Siti Hajar dalam kesehariannya. Dalam hal ini, ibu adalah partner sang ayah yang terus memompa semangat juang untuk berbuat baik demi kemaslahatan umat manusia. Semoga hal ini membukakan mata hati untuk tidak menomorduakan peran wanita dalam kehidupan.
            Kisah Siti Hajar menyadarkan kita akan besarnya peran seorang ibu. Di mana ibu si saat yang sama harus mengabdi kepada ayah (suaminya) dan berkewajiban untuk mengurusi sang anak. Kita paham bahwa berbakti kepada orang tua, khususnya ibu, adalah sangat mulia. Pertanyaan penting, kapan terakhir kali kita berdoa untuk ibu kita? Tulisan ini memotivasi kita untuk menyayangi ibu, walau “sayang” itu tidak akan dapat menebus budi baik dan jasanya. Semoga! Allahumma ighfirlanâ wa liwâlidînâ warhamhum kamâ rabbawnâ shighârâ. Âmîn. Wallâhu a’lamu bi ash-shawâb. []

Samsul Zakaria, S.Sy.,
Staf Program Studi Ahwal Syakhshiyah (PSAS)
Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII Yogyakarta


Note: Pernah diterbitkan oleh Buletin Jumat al-Rasikh Kampus UII pada akhir 2011 lalu.

Kamis, 27 April 2017

SEJUTA ALASAN BERSYUKUR

Mensyukuri perjumpaan istimewa dengan Dubes RI untuk Qatar, Rabu (12/04/2017).


Ada sejuta alasan untuk bersyukur. Bila kacamatanya bukan semata materi yang serba terukur. Atas segenap ujian yang Allah berikan, banyak sisi positif yang bisa kita temukan. Ini bukan masalah musibah yang menimpa, tetapi tentang cara kita menyikapinya. •

Petuah bijak menuturkan, "Hidup yang kau keluhkan adalah hidup yang orang lain inginkan." Dari situ semestinya kita menyadari. Hidup yang kita ingini boleh jadi adalah hidup yang orang lain hindari. Jadi, kalau memang mendamba, syukuri dahulu apa yang saat ini kita punya. •

Petuah di atas cukup mudah kita qiyaskan. Diantara kita mungkin ada yang tidak sejalan dengan pasangan hidup kita. Padahal, "Pasangan hidup yang kau keluhkan adalah pasangan hidup yang orang lain inginkan." So, bukankah semakin indah hidup ini bila kita menghikmati apa yang sudah dimiliki? Bersama-sama belajar: belajar sadar diri, belajar memahami, belajar mengerti, belajar melengkapi, belajar saling menerangi jalan sunyi menuju ridha Ilahi. •

Tidak sedikit yang kesal dengan buah hatinya sendiri. Sementara, "Anak yang kau keluhkan adalah anak yang orang orang lain inginkan." Bila anak nakal, yang dilihat bukan nakalnya saja. Tetapi kemurahan Allah yang masih mengamanahkan anak dan memberi kesempatan untuk belajar dari kenakalannya. •

Cukup banyak yang menyesalkan sikap orang tuanya hingga berkurang rasa hormat pada keduanya. Kalau direnungi, "Orang tua yang kau keluhkan adalah orang tua yang orang lain inginkan." Seringkali yang ada tidak terasa nilainya hingga lupa mensyukurinya. Nanti, kalau yang ada sudah tiada yang tersisa hanya sesalnya. •

Terakhir kali, teruntuk orang-orang spesial yang membersamai perjalanan panjangku. Aku ucapkan terima kasih atas segenap cinta dan kebaikan yang dicurahkan. Untuk ayah ibundaku, isteri tercintaku, adik-adikku, saudara-saudaraku, sahabat-sahabat dan teman-temanku, mereka yang menyebut-nyebutku dalam doa tulusnya, dan semua yang tidak mungkin aku sebutkan satu-persatu. •

Ya Allah, sayangilah mereka. Izinkan aku selalu belajar dari mereka dan terus mensyukuri kehadiran mereka. Maafkanlah aku bila seringkali mengeluhkan mereka atau mengeluh karena mereka. Ya Allah, rahmatilah kami semua. •

Ka' Sams, 
Bandara Radin Inten II,
Selasa, 18/04/17

Selasa, 23 Februari 2016

‘BELAJAR MENIKAH’

Source of picturehttp://blog.happyislam.com/post/117754875172/bolehkah-seorang-ayah-melarang-putrinya-menikah

Sebab suatu saat, yang memberimu coklat akan kalah telak dengan yang memberimu seperangkat alat shalat.” (Anonim)

Seorang kawan dekat tiba-tiba curhat terkait dengan satu episode penting hidupnya. Hal itu menyangkut masa depannya puluhan tahun mendatang. Ibu dari teman perempuannya—tanpa disangka—menelfonnya. Mengabarkan bahwa kakak perempuan dari teman perempuan kawan saya itu akan menikah tahun depan, Mei 2016. Seiring dengan itu, sang ibu meminta teman saya untuk sekalian menikahi putrinya. Tidak main-main, akad dan resepsi mereka akan dibarengkan dengan kakak si perempuan.
                Mendengar curhatan tersebut, saya langsung menanggapi. Bahwa itu adalah peluang langka. Karena itu, saya beranikan kawan saya untuk mengiyakan. Kawan saya boleh tidak yakin dengan dirinya sendiri. Tetapi keyakinan calon ibu mertuanya tidak pantas dikesampingkan. Kalau calon mertua saja sudah percaya untuk menjadikannya menantu maka semestinya dia juga siap membuktikan bahwa dirinya mampu. “Tapi saya masih belum jelas nasibnya,” kilahnya. “Yakin! Dan berpikir yang mudah dulu,” saran saya menguatkan.
                Malam itu sesungguhnya kami sedang duduk bertiga. Seorang kawan lagi lebih banyak mendukung ucapan saya. Bahkan malam itu juga kami berjanji. “Kalau kamu jadi nikah Mei nanti in sya Allah kami akan datang ke Padang,” ucap kami penuh dengan keyakinan. Sebenarnya kami juga tidak punya gambaran pasti tentang ongkos dan uang saku ke Padang. Tetapi itu bukan masalah yang cukup penting. Kami berpikir optimistis dan ambil mudahnya. Dan lebih penting lagi supaya kawan kami yakin untuk menikah.
                Malam itu pula saya banyak bercerita tentang pengalaman saya berumah tangga. Meskipun masih seumur jagung (kurang dari 2 tahun) setidaknya bisa menjadi motivasi bagi kawan saya itu. “Menikah itu adalah pilihan,” ujar saya. Menikah setelah kita mapan itu baik. Namun siap dan berani menikah (se)saat (se)belum mapan tidak kalah baik. Sebab, syarat menikah itu bukan bagi mereka yang sudah siap-sedia untuk menafkahi. Tetapi bagi mereka yang siap untuk mencari atau mengusahakan nafkah.
                Menikah dalam suasana harus berjuang keras bersama sungguh nikmat tiada terkira. Justru di saat seperti itu komitmen cinta diuji, kesetiaan dan kesabaran menjadi taruhannya. Suka dan duka dilalui bersama dalam ikatan yang suci. Kalau hidup (serba) susah saja siap dan sudah biasa maka in sya Allah akan lebih siap kalau bisa hidup senang. Disamping memang susah dan senang itu ibarat putaran roda yang dipergilirkan. Kalau sekarang susah itu pertanda bahwa ‘sebentar’ lagi akan senang, dan sebaliknya.
                Kenikmatan itu sendiri tidak semata berwujud materi. Di samping itu, nikmat dan tidaknya hidup berumah tangga bergantung bagaimana kedua pasangan menyikapi. Kondisi sulit sekalipun kalau benar penyikapannya menjadi nikmat. Sebab ada pembelajaran yang luar biasa dalam sulitnya hidup. Ada kenikmatan tersendiri yang mungkin tidak didapat dikala senang menyapa. Selain itu, sulitnya awal pernikahan justru menjadi kenangan manis suatu saat nanti. Kita pun menjadi lebih banyak bersyukur saat rezeki datang tanpa diduga.
                Menikah itu adalah babak baru kehidupan manusia. Dengan menikah, seorang muslim telah menyempurnakan separuh agamanya. Dia akan membuktikan bahwa cinta yang benar-benar nikmat dan menenangkan itu adalah yang setelah akad, bukan sebelumnya. Dia akan mampu membedakan mana pemberian yang apa adanya (kepada isteri) dan yang ada apanya (sebelum menjadi isteri). “Bismillah... Jangan sia-siakan kepercayaan calon ibu mertuamu,” tutup saya tetap memotivasi.
Proses Belajar
Banyak yang takut menikah karena terlalu banyak berpikir yang sulit-sulit dalam rumah tangga. Memang banyak yang tidak segera menikah bukan karena takut. Namun karena pertimbangan dan perhitungan yang matang. Tetapi yang sering terjadi adalah yang pertama. Khawatir akan makan apa, mau tinggal dimana, dan seterusnya. Padahal yang dimakan oleh mereka yang sudah menikah dan belum menikah adalah sama, yaitu nasi. Yang ditempati juga sama yaitu tempat singgah, baik yang mewah atau yang paling sederhana.
Jadi, kalau memang sudah ada keinginan, apalagi ada tawaran langka seperti didapati kawan saya, harus memantapkan diri. Kesempatan tidak datang dua kali. Sekali melewatkan peluang emas kita akan kehilangan selamanya. Mungkin akan datang peluang serupa tetapi tetap tidak sama, karena waktu hanya melalui satu titik sekali saja. Dalam konteks ini, pikiran-pikiran yang tidak-tidak mesti dibuang jauh-jauh. Perkara paling mudah sedunia sekalipun kalau dilihat dari dimensi sulitnya akan menjadi sukar ditempuh.
Masalah lain dari mereka yang khawatir untuk menikah ialah anggapan bahwa menikah adalah the ultimate goal (tujuan akhir).Walhasil, baru mau menikah kalau semuanya sudah siap-sedia. Sementara menikah adalah awal proses pembelajaran. Dalam pernikahan itu, kedua pasangan terus sama-sama belajar sampai maut memisahkan mereka. Oleh karena itu, “Jangan sekali-kali menganggap akad itu sebagai tujuan paripurna,” saran dosen saya. Jadikan akad nikah sebagai awal untuk saling belajar bersama suami/isteri tercinta.
Katakanlah seorang telah menikah 10 tahun. Kalau dalam waktu itu, suami masih menganggap sang isteri seperti awal menikah tentu tidak pas. Sebab, dengan begitu isteri seolah tetap sosok asing seperti awal berumah tangga. Sementara, isteri telah berproses dan menjelma menjadi sosok yang telah banyak berubah. Hal yang sama juga semestinya tidak dilakukan oleh isteri terhadap suaminya. Durasi pernikahan yang cukup lama harus menjadikan mereka lebih banyak mengerti dan memahami. Demikian nasehat dosen saya.
Problem lain dari hidup bersama dalam bingkai pernikahan adalah tentang ‘keinginan’ kita terhadap pasangan. Banyak suami yang memaksakan isterinya untuk menjadi dan bersikap seperti yang diinginkannya. Sementara seorang isteri juga memiliki hak untuk sesekali—atau banyak kali—menjadi dirinya sendiri. Sepanjang hal itu tidak menentang syari’at sebaiknya suami belajar untuk menghargai. Demikian pula isteri terhadap suaminya. Saling memberi masukan itu baik tetapi tidak dalam konteks memaksa.
Betapapun demikian, tetap penting ada hal-hal yang disepakati untuk menjadi values bersama dalam keluarga. Disinilah pentingnya komunikasi, musyawarah, atau rembugan. Komunikasi ini juga penting untuk menjaga keharmonisan dalam rumah tangga. Ending-nya, keputusan yang diambil bukan semata menguntungkan satu pihak. Tetapi menguntungkan kedua belah pihak atau paling tidak dapat diterima keduanya. Komunikasi juga bermakna bahwa ‘dua sayap’ (suami dan isteri) sedang bergerak bersama untuk tujuan yang mulia.
Dosen yang banyak memberikan pelajaran tentang pernikahan di atas pernah bercerita. Ada pasangan yang berkonsultasi dengannya tentang konflik rumah tangganya. Sang isteri mengeluh karena sudah lama menikah namun sang suami tidak jua mengerti kemauannya. Kemudian dosen saya menimpali. “Apakah Ibu sudah mengutarakan langsung keinginan Ibu?” tanyanya. “Ya seharusnya dia tahu,” jawabnya. Seharusnya tahu tetapi nyatanya tidak tahu atau tidak paham.
Inilah—sekali lagi—pentingnya komunikasi dalam keluarga. Bahwa tidak semua suami atau isteri itu ‘ahli kebatinan’. Maksudnya, bisa membatin atau mengerti apa yang dimaui pasangan. Ada kalanya mengerti karena belajar dari pengalaman dan kebiasaan. Namun sering pula tidak mengerti kalau pasangan tidak mengomunikasikannya secara verbal. Karena itu tidak selaiknya langsung berburuk sangka kalau kemauan tidak dimengerti pasangan. Barangkali dia ingin kita membisikan keinginan kita itu dengan lembut nan mesra.
‘Belajar Menikah’
                Dengan demikian jelas bahwa menikah itu sebenarnya adalah wasilah untuk lebih banyak belajar. Tegasnya, awal proses pembelajaran bersama pasangan hidup tercinta. Bahwa perintah belajar itu tidak terhenti di ruang kelas, tidak lantas berakhir saat kita sudah menyelesaikan satu tugas. Justru belajar itu adalah proses (pemaknaan) yang terus-menerus, integratif, dan tidak terbatas. Termasuk ketika seseorang sudah menikah. Dia belajar memahami pasangan hidupnya dan belajar memposisikan dirinya.
                Belajar menikah tidak kemudian dimaknai coba-coba menikah. Sebab pasangan hidup bukan kelinci percobaan. Menikah harus disertai kemantapan hati untuk hidup bersama selamanya demi meraih ridha-Nya. Bersamanya hati menjadi lebih teguh bahwa surga menjadi lebih mungkin untuk direngkuh. Ditambah dengan ketika putra/putri telah Allah amanahkan sebagai buah dari cinta yang mulia. Kala itu pula, proses belajar menjadi lebih kompleks nan dinamis. Sebab mendidik anak juga butuh ilmu yang tidak cukup seadanya.
                Belajar menikah tidak bermakna ‘mencoba-coba’ sebelum ada ikatan yang sah. Sebab lekaki sejati bukan yang rajin memberi coklat. Namun saat ditanya kapan mau melamar tidak menjawab dengan tepat dan cepat. Lelaki sejati adalah yang dengan ‘seperangkat alat shalat’ siap melangsungkan akad. Dia tidak merasa sempurna. Dia hanya ingin saling menyempurnakan dengan niat mulia berumah tangga. Dia berpikir cepat, mengambil langkah tepat. Bersama isteri, belajar membangun bahagia hatta akhirat. Wallahu a’lamu. []

Samsul Zakaria, S.Sy.,
Mahasiswa S-2 UIN Sunan Kalijaga,
Staf Program Studi Hukum Islam FIAI UII

Diterbitkan ulang dari: http://masjidulilalbab.com/web/detail/54