Moderator Diskusi Pendidikan Karakter

Saya bersama Drs. Aden Wijdan SZ, M.Si. dan Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi, M.Si., Ruang Audiovisual Perpustakaan Pusat UII, Jumat (27/4/12)

LPM Pilar Demokrasi

Foto bersama setelah Diskusi Pendidikan Karakter bersama "Tempo", Jumat (27/4/12)

Ketep Pass, Magelang

Rihlah bersama Jama'ah Al-Faraby (JAF), Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Universitas Islam Indonesia

Visiting Wisuda

Wisuda adalah sebuah keniscayaan yang harus dilalui menjelang pernikahan

Gua Pindul, Gunung Kidul

Pindul itu "Pipi Kebendul", dan karenanya gua itu diberi nama [Edisi Konon]

Gua Cermei, Bantul-Gunung Kidul

Eksotisme itu tidak hanya berada di alam terbuka saja, bukan?

Rabu, 29 Mei 2013

INDON(ESIA)

Oleh: Samsul Zakaria (Ka’ Sams)

 
Suatu hari saya dan teman-teman mengemas ‘Jurnal Mahasiswa’ untuk dikirimkan ke beberapa pihak. Waktu itu, saya tidak tahu siapa yang awalnya menulisi amplop pembungkus jurnal tersebut. Di amplop itu tertulis “Jurnal Bahasa Indon”. Jumlah jurnalnya memang banyak. Penyingkatan “Indonesia” menjadi “Indon” itu demi mempercepat pengerjaan. Senior saya kemudian melengkapi “Indon” tersebut menjadi “Indonesia”.

Dia katakan, kalau hanya ditulis “Indon” itu tidak sopan. Apalagi isi amplop tersebut adalah jurnal ilmiah. Tentu tulisan “Indon” tersebut sangat kontras dengan apa yang ada dalam amplop itu. Sehingga, dengan cermat senior saya tadi menambahkan “esia” dalam setiap tulisan “Indon”. Saya pun memang tidak nyaman mendengar kata “Indon”. Ada kesan miring, dan ini masalah (harga diri) bangsa.

Sebelum saya berangkat ke Malaysia, saya mendapatkan pembekalan dari beberapa dosen. Mereka memang sudah pernah belajar dan tinggal di Malaysia. Kata mereka, orang Malaysia biasa menyebut Indonesia dengan “Indon”. Jadi, saran mereka, saya tidak perlu kaget dan tersinggung mendengar kata tersebut. Itu sebenarnya masalah kebiasaan dan bukan dalam rangka mengkerdilkan orang Indonesia.

Source: http://hukum-on.blogspot.com/2012/06/sistem-hukum-indonesia-campuran-dari.html

Saat saya tiba di Malaysia, apa yang diceritakan dosen saya memang benar. “Dari Indon?” kata mahasiswa USIM, membuka percakapan. Dengan sedikit merasa “aneh”, saya pun mengiyakan pertanyaan mereka. Hingga suatu malam salah seorang mahasiswa USIM bertanya kepada saya. Awalnya, dia pun meminta maaf kalau pertanyaan itu kurang enak didengar karena –memang– sensitif.

Dia bertanya, apakah benar kalau orang Indonesia tidak suka dipanggil “Indon”. Saya pun berusaha menjelaskannya dengan sopan. “Memang ‘Indon’ itu kesannya negatif. Tetapi kami pun sudah dibagi-tahu kalau orang Malaysia biasa sebut kami “Indon”. Jadi tidak ada masalah,” tutur saya. Saya tegaskan sembari tersenyum bahwa semua itu tergantung niat, yang ada dalam hati. Al-umūru bi maqāshidihā...

Maksud saya, walaupun mereka menyebut “Indon” tetapi kalau tidak berniat untuk merendahkan maka tidak ada masalah. Dan lagi, kebanyakan mereka mungkin juga tidak paham kalau sebutan itu bagi orang Indonesia sendiri bermakna negatif. Jadi, tergantung bagaimana kita –sebagai orang Indonesia– bisa menempatkan diri. Karena terkadang apa yang sudah biasa itu dianggap benar, dan tidak salah.

Kalau saya perhatikan memang ada banyak “penyingkatan” di Malaysia. Misalnya, untuk menyebut Malaysia sendiri cukup dengan “Malay” sahaja. Lainnya, Bangladesh –dan ini saya dengar langsung dari orang Bangladesh yang belajar di USIM– cukup disebut “Bangla”. Dan mungkin ada banyak contoh lainnya yang –sementara waktu– belum saya ketahui. Dan boleh jadi ini hanya masalah penyederhanaan supaya lebih cepat diucapkan.

Terakhir, setelah bertanya tentang “Indon”, teman Malaysia tadi juga bertanya apa arti “ganyang” (Malaysia). Saya mencoba untuk berhati-hati menjelaskan masalah ini. Saya katakan kalau itu memang ekspresi “beberapa” orang Indonesia yang “geram” dengan Malaysia. Contohnya, karena masalah perebutan pulau. Dan yang sebenarnya tidak sportif, karena kalah dengan Malaysia di AFF. Itulah kisah Indonesia di –dan bersama– Malay(sia). []


Selasa, 28 Mei 2013

DOSEN KEREN

Oleh: Samsul Zakaria (Ka’ Sams)


Di hari ke-13 di Malaysia, saya perlu mengucapkan syukur kepada Allah Yang Maha Segalanya. Hari itu, Senin (27/5/’13) saya baru menemukan “tempe”, di kantin Fakulti Syariah dan Undang-Undang (FSU). Saya memang sudah sering makan di kantin itu, bahkan setiap hari saat waktu aktif kuliah. Tetapi tak tahu mengapa baru hari itu saya menjumpai tempe. Tempe, adalah makanan yang sering saya jumpai di Indonesia, dan saya rindukan di Malaysia.

Ketika saya dan Iqbal Zen sedang menikmati sarapan kami siang itu, datanglah Anis “Congkak” dan Nasyitah. Mereka berdua adalah students asli Malaysia. Mereka menghampiri kami, dan menyodorkan buku berjudul Tamadun Islam dan Tamadun Asia (TITAS). Lebih spesifik, Anis menunjukkan bagian yang membahas tentang asal-usul bahasa Melayu. Tetapi saya tidak ingin membahas lebih jauh masalah ini.

Menjelang titik inti, sebelumnya saya bertanya kepada Anis apakah hari itu mereka ada kuliah lagi. Dia mengiyakan, dan kuliah itu akan dimulai pukul 02.00 Waktu Malaysia. Saya dan Iqbal Zen berencana untuk mengikuti perkuliahan tersebut. Sayangnya, kami urung untuk masuk ke ruang kuliah Anis dan Nasyitah dan justru “terhipnotis” untuk masuk ke ruang sebelah. Tepat di samping ruang kuliah Anis dan Nasyitah.

Ketika sudah berada di ruangan, saya pun mengirimkan pesan singkat ke salah satu dari mereka. Saya katakan, kami tidak jadi mengikuti kelas mereka tetapi kami ikut kuliah di kelas samping mereka. SMS itu dijawab. “Oke... Selamat menuntut ilmu...” Saya merasa lega karena mereka tidak kecewa saya urung mengikuti kuliah mereka. Saya pun mencoba untuk mengikuti kuliah siang itu dengan baik.

Source: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCBRdhlfMoTMFksoORnxpm2TARAyYe038VKNTgRqFQJWhNmgaGi4RpUfhnY1ZT2XuarW2KakPPjixlRgrNkQoM0LIwgs8429lF7x6WMgmYP432YduOB0IUgghHeXQ2FX2g3Wm6EuAifpIU/s400/lecture.jpg
Dosen yang masih tampak muda, gagah. Berdasi, tetapi mengenakan baju (hem) lengan pendek. “Modis,” pikir saya. Osama Kanaki, namanya. Materi kuliah siang itu tentang Manhaj ad-Da’wah al-Islāmiyah. Siang itu adalah kuliah terakhir karena minggu depannya adalah Study Week (minggu tenang). Minggu selanjutnya akan diadakan final examination. Jadi, materi yang disampaikan kala itu boleh dikatakan sebagai materi paripurna.

Bagi saya, Mr. Osama itu keren. Dia menyampaikan kuliah dengan baik dan lancar. Menariknya, dia menggunakan 2 bahasa sekaligus: Arab dan Inggris. Itulah mengapa saat seorang mahasiswa diminta maju untuk menyampaikan kuliah apa yang paling disukai. Dia katakan bahwa kuliah Mr. Osama lah yang menjadi favoritnya. Dia bukan tanpa alasan. Alasan logisnya karena Mr. Osama mampu berbahasa Arab dan Inggris dengan baik.

Bagi mahasiswa yang “oke” bahasa Arabnya tetapi kurang bahasa Inggrisnya, tetap bisa menerima kuliah dengan baik. Sebaliknya, mereka yang lebih “matang” bahasa Inggrisnya, juga bisa mengikuti kuliah dengan maksimal. Selain itu, penjelasan beliau akan slide yang ditampilkan juga sangat jelas dan lugas. Ditambah dengan kisah-kisah menarik yang menguatkan apa yang dimaksudkan.

Saya pun berpikir, inilah dosen yang patut untuk dicontoh. Di usianya yang masih muda, beliau sudah menyelesaikan doktoralnya (Ph.D). Diapun terlihat “dekat” dengan mahasiswaa. Mau menerima masukan untuk perbaikan kuliahnya di masa yang akan datang. Penting juga bahwa slide mata kuliah beliau tidak banyak, tetapi inti-intinya sudah terangkum dengan jelas. Luar biasa! Terima kasih, Mr. Osama atas ilmu dan hikmahnya. []

LEBIH BAIK DIJAJAH

Oleh: Samsul Zakaria (Ka’ Sams)

 
Bekas jajahan Inggris itu maju karena bagaimanapun Inggris mengajarkan pendidikan yang baik kepada rakyat jajahannya. Sementara bekas jajahan Belanda bermasalah karena Belanda hanya mengeksploitasi daerah jajahannya dan lupa untuk memberikan pendidikan yang baik sebagaimana yang dilakukan oleh Inggris.” Statemen tersebut, boleh jadi sekadar celotehan tetapi menarik untuk dituliskan.
 
Saya tidak tahu kapan pertama kali mendengar ungkapan tersebut. Pastinya, itu saya “riwayatkan” secara maknawi. Bunyi aslinya, seandainya ada dalam buku atau tulisan yang valid, boleh jadi berbeda atau bermacam-macam. Tetapi substansinya, saya yakin sama atau tidak berbeda jauh. Bahwa titik kuncinya adalah dua negara tersebut (Inggris dan Belanda) yang “mendominasi” penjajahan di penjuru dunia.
 
Source: http://anam.blog.unissula.ac.id/files/2012/06/merdeka1-300x212.jpg
Sekali lagi saya katakan bahwa saya pun tidak tahu apakah penggambaran tersebut sudah teruji secara empiris atau hanya sebatas pengamatan sederhana. Seandainya memang tidak benar (atau kurang tepat), anggap saja ini adalah tulisan “gurauan” yang mengajak pembaca untuk melihat apa yang “tidak ada” dalam teks. Saya sendiri tertarik untuk menulis topik ini setelah mendengar percakan dua orang teman saya.
 
Awal-awal berada di Malaysia, kami memperhatikan bagaimana kondisi Malaysia. Melihat bahwa Malaysia di banyak segi memang lebih baik dari Indonesia, teman saya tadi berkomentar. “Begini kalau bekas jajahan Inggris. Maju jadinya. Kalau Indonesia dijajah Belanda, jadi tidak maju,” katanya, kurang lebih demikian. Mendengar ucapan tersebut, saya terdiam, berpikir, dan tidak memberikan komentar-balik.
 
Tetapi teman saya yang lain menimpalinya, tidak kalah menarik. “Lebih baik dijajah. Dari pada tidak dijajah sama sekali,” tukasnya, telak. Saya yang lamat-lamat mendengarkannya langsung senyum-senyum, lalu tertawa. “Iya juga,” batin saya. Kalau tidak dijajah mungkin akan lebih runyam lagi ceritanya. Jadi, mau tidak mau Indonesia harus “berterima-kasih” kepada mereka yang sudah repot-repot menjajah Indonesia.
 
Ketika Indonesia dalam kondisi terhimpit (terjajah) maka rakyat –mulai dari anak muda sampai kakek-kakek– menghimpun kekuatan. Mereka ingin keluar dari penjajahan yang membuat bangsa terpuruk dan tidak bisa mengeja nasibnya secara mandiri. Dari situ, kesatuan dan persatuan bangsa menjadi lebih terpupuk. Berkat kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas, akhirnya Indonesia berhasil membebaskan diri.
 
Kita tahu bahwa perjuangan ini tidak didapat dengan sekadar membalikkan telapak tangan. Perjuangan ini adalah hasil dari peluh-keringat para pejuang yang telah gugur sebagai pahlawan bangsa. Dengan begitu, kita menjadi termotivasi untuk mengisi kemerdekaan, mempertahankan kemandirian dengan cara kita masing-masing. Itu karena kita ingat bahwa kebebasan dari belenggu asing ini adalah anugerah, amanah dari Allah.
 
Kalau dari awal Indonesia sudah merdeka, kisah yang heroik itu tidak akan menghiasi sejarah bangsa ini. Justru dengan adanya perjuangan melawan penjajah, Indonesia memiliki referensi heroisme, nasionalisme, patriotisme, dan isme-isme lainnya yang patut dijadikan teladan. So, dijajah oleh mereka yang tidak mau mencerdaskan bangsa jajahannya sekalipun, itu lebih baik, dan kita “wajib” mensyukurinya. Begitulah kisah bangsa kita. []

Minggu, 26 Mei 2013

SAUDARA

Oleh: Samsul Zakaria (Ka’ Sams)

 
Saya pernah mendapatkan ungkapan yang menarik untuk direnungi bersama. Mengapa Rasulullah itu tidak menamai orang-oang yang menyertainya dengan sebutan “keluarga” atau usrah? Rasulullah justru menyebut mereka dengan istilah “shahabat”. Katanya, hubungan yang paling ideal itu justru bukan karena hubungan darah, tetapi lebih karena hubungan akidah. Keluarga itu “darah”, dan shahabat itu “akidah”.

Lebih penting dari itu adalah bahwa yang lebih mengetahui mengapa Rasulullah bersikap demikian, yang lebih mengerti adalah beliau sendiri. Namun, seandainya memang maksudnya seperti yang saya sampaikan masuk akal alias dapat diterima. Dalam al-Qur'an pun difirmankan bahwa sejatinya orang-orang mukmin itu bersaudara. Hal itu menunjukkan bahwa persaudaraan itu sangat luas, tidak sekadar karena ikatan darah semata.

Suasana kebersamaan dalam persaudaraan mahasiswa USIM asal Indonesia.
Saya sering mengatakan, “dia” itu saudara saya. Ketika ditanya balik, “Saudara dari mana?” Saya pun menjawab, “Saudara sesama muslim.” Sebab memang sudah jelas konsepsinya bahwa muslim dipersaudarakan karena akidah yang sama. Itulah yang dalam banyak kesempatan didengungkan dengan istilah ukhuwah islamiyyah. Persaudaraan yang terjalin karena kesamaan agama (Islam) atau akidah tadi.

Dan lebih jauh lagi, bahwa konteks “persaudaraan” itu akan lebih universal kalau dikaitkan dengan surat al-Hujurāt ayat 13. Manusia yang diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku itu dimaksudkan agar saling mengenal, saling bersaudara. Kalau sudah diikat dengan tali persaudaraan maka permusuhan, perselisihan, dan peperangan itu selaiknya dihindarkan. Ini sebenarnya pijakan awal dalam hubungan sosial kita.

Apa yang difirmankan Allah dalam al-Quran menunjukkan bahwa manusia memang tidak akan pernah bisa hidup seorang diri. Manusia membutuhkan interaksi, komunikasi, dan korespondensi, dengan manusia lain yang ada di dunia. Hubungan tersebut bila dikaitkan dengan surat al-Māidah ayat 2, akan menjadi ideal kalau dilakukan dalam hal kebaikan dan takwa saja. Hubungan yang terjalin karena dosa dan permusuhan adalah hal yang dilarang.

Kita bisa melihat betapa seseorang bisa mudahnya akrab dengan orang lain yang baru saja bertemu. Hal itu memang tidak lepas dari insting manusia untuk “berbagi” dengan sesama, dan tidak nyaman kalau harus sendirian sahaja. Itulah mengapa saya pribadi ketika akan bersantap, lebih nyaman untuk mengajak teman. Tujuannya, supaya bisa diajak “berbincang-bincang”, dan syukur-syukur mendiskusikan hal yang bermanfaat.

Saya teringat orang tua saya yang pernah “mengajarkan” bahwa menjadi bersaudara itu mudah. Saat saya masih kecil, orang tua membeli motor second tetapi tidak langsung lunas. Kekurangan dari uang yang dibayarkan di awal akan dibayar kemudian. Alhamdulillah, orang tua saya bisa melunasi kekurangan tersebut sebelum jatuh tempo. Karena sebab tersebut, akhirnya orang tua saya dan penjual motor tersebut menjadi “saudara”.

Persaudaraan itu pula yang saya rasakan di Malaysia. Di sini, saya berjumpa dengan pelajar (S1 dan S2) yang berasal dari Indonesia. Walaupun baru pertama bertemu tetapi karena kesamaan negara dan perjumpaan pertama begitu berkesan sehingga kami pun menjadi “saudara”. Begitu juga dengan orang-orang Malaysia, yang juga welcome dengan kedatangan saya. Termasuk juga students dari negara-negara luar Malaysia. Allahu akbar! []

CHOW KIT

Oleh: Samsul Zakaria (Ka’ Sams)

 
Salah satu perbedaan signifikan yang saya rasakan ketika berada di Malaysia adalah terkait masakan. Saya tidak tahu mengapa, lidah saya tidak cukup bersahabat dengan masakan Malaysia. Kalau sudah begitu, saya akhirnya kangen dengan Indonesia, khususnya dengan masakannya. Mungkin, kalau saya tinggal di Malaysia selama setahun –misalnya– saya baru “enjoy” dengan masakannya.

Setahu saya, bawang yang ada di Malaysia memang berbeda dengan Indonesia. Di Indonesia bawangnya tidak begitu besar. Sementara di Malaysia bawangnya besar-besar, yang saya tahu itu disebut dengan bawang bombay. Barang kali, bawang ini yang menjadikan rasa masakannya berbeda. Tentu saya tidak menampik, bahwa ada perbedaan racikan dan plus-minus bumbu lainnya.

Dari awal, saya pun mendapatkan informasi penting. Kalau berada di Malaysia, tidak perlu khawatir. Apa pasal? Di Malaysia, banyak kedai yang menawarkan masakan khas Indonesia. Sehingga, citra-rasa Indonesia masih mungkin dinikmati di Malaysia. Kalau memang tidak cocok dengan masakan Malaysia maka bisa langsung merujuk ke kedai-kedai masakan Indonesia tersebut. Sayangnya, kedai itu cukup jauh dari tempat saya tinggal.

Selain itu, saya juga dikabari bahwa di KL ada daerah khusus yang menyediakan masakan Indonesia. Saya pun bersyukur, Jumat (24/5/’13) petang bisa mengunjungi tempat tersebut. Daerah tersebut adalah Chow Kit. Ternyata bukan masakannya saja yang “Indonesia”. Tetapi yang saya tahu, tepatnya di kedai tempat saya makan, penjualnya juga orang Indonesia. Chow Kit, laksana “miniatur” Indonesia yang ada di Malaysia.

Salah satu suasana perbelanjaan di Chow Kit.
Saat saya sampai di Chow Kit, waktu Maghrib sudah tiba. Akhirnya, sebelum makan saya dan teman-teman berusaha untuk mencari surau (mushalla). Kami mendapatkan informasi bahwa di kedai dimana kami berencana makan, ada suraunya. Kami pun menuju surau tersebut yang terletak di lantai tiga. Kami pun shalat berjamaah di surau tersebut. Usai shalat saya sempat ngobrol dengan Pak M. Pasaribu. Siapakah dia?

Pak Pasaribu adalah orang Medan yang sudah 30 tahun berada di Malaysia. Diapun sudah pindah kewarganegaraan. Saya tanya berapa gajinya perbulan di Malaysia. Jawabnya, tiga ribu Ringgit. Jumlah tersebut kalau dikonversikan ke Rupiah sebenarnya cukup banyak, sekitar 9 jutaan. Tetapi untuk (ke)hidup(an) di Malaysia gaji segitu masih “biasa”. Apalagi Pak Pasaribu sudah punya 3 anak, ditambah lagi istrinya tidak bekerja (ibu rumah tangga).

Sebelum berpisah, saya pertegas apakah gaji tersebut cukup baginya. Pak Pasaribu katakan bahwa cukup-tidaknya gaji itu masalah menejemen hati kita. Toh, banyak juga yang gajinya hanya tiga ratus Ringgit tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadi, semua tergantung rasa syukur kita. Beliau pun mengutip substansi ayat al-Quran, siapa bersyukur ditambah nikmatnya. Tetapi bagi yang kufur azab-Nya itu pedih.

Pak Pasaribu adalah “hikmah” yang saya temui di kedai Chow Kit. Setelah mengobrol singkat dengan beliau, kami pun bergegas menuju lantai 2 untuk memesan makan. Saya memesan ayam penyet. Sementara teman-teman saya ada yang pesan mie ayam, bebek goreng, dan lainnya. Saya pun malam itu serasa “berada” di Indonesia kembali. Entahlah, masakan Indonesia memang tiada duanya. Terima kasih ya Allah. []