Moderator Diskusi Pendidikan Karakter

Saya bersama Drs. Aden Wijdan SZ, M.Si. dan Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi, M.Si., Ruang Audiovisual Perpustakaan Pusat UII, Jumat (27/4/12)

LPM Pilar Demokrasi

Foto bersama setelah Diskusi Pendidikan Karakter bersama "Tempo", Jumat (27/4/12)

Ketep Pass, Magelang

Rihlah bersama Jama'ah Al-Faraby (JAF), Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Universitas Islam Indonesia

Visiting Wisuda

Wisuda adalah sebuah keniscayaan yang harus dilalui menjelang pernikahan

Gua Pindul, Gunung Kidul

Pindul itu "Pipi Kebendul", dan karenanya gua itu diberi nama [Edisi Konon]

Gua Cermei, Bantul-Gunung Kidul

Eksotisme itu tidak hanya berada di alam terbuka saja, bukan?

Selasa, 28 Mei 2013

LEBIH BAIK DIJAJAH

Oleh: Samsul Zakaria (Ka’ Sams)

 
Bekas jajahan Inggris itu maju karena bagaimanapun Inggris mengajarkan pendidikan yang baik kepada rakyat jajahannya. Sementara bekas jajahan Belanda bermasalah karena Belanda hanya mengeksploitasi daerah jajahannya dan lupa untuk memberikan pendidikan yang baik sebagaimana yang dilakukan oleh Inggris.” Statemen tersebut, boleh jadi sekadar celotehan tetapi menarik untuk dituliskan.
 
Saya tidak tahu kapan pertama kali mendengar ungkapan tersebut. Pastinya, itu saya “riwayatkan” secara maknawi. Bunyi aslinya, seandainya ada dalam buku atau tulisan yang valid, boleh jadi berbeda atau bermacam-macam. Tetapi substansinya, saya yakin sama atau tidak berbeda jauh. Bahwa titik kuncinya adalah dua negara tersebut (Inggris dan Belanda) yang “mendominasi” penjajahan di penjuru dunia.
 
Source: http://anam.blog.unissula.ac.id/files/2012/06/merdeka1-300x212.jpg
Sekali lagi saya katakan bahwa saya pun tidak tahu apakah penggambaran tersebut sudah teruji secara empiris atau hanya sebatas pengamatan sederhana. Seandainya memang tidak benar (atau kurang tepat), anggap saja ini adalah tulisan “gurauan” yang mengajak pembaca untuk melihat apa yang “tidak ada” dalam teks. Saya sendiri tertarik untuk menulis topik ini setelah mendengar percakan dua orang teman saya.
 
Awal-awal berada di Malaysia, kami memperhatikan bagaimana kondisi Malaysia. Melihat bahwa Malaysia di banyak segi memang lebih baik dari Indonesia, teman saya tadi berkomentar. “Begini kalau bekas jajahan Inggris. Maju jadinya. Kalau Indonesia dijajah Belanda, jadi tidak maju,” katanya, kurang lebih demikian. Mendengar ucapan tersebut, saya terdiam, berpikir, dan tidak memberikan komentar-balik.
 
Tetapi teman saya yang lain menimpalinya, tidak kalah menarik. “Lebih baik dijajah. Dari pada tidak dijajah sama sekali,” tukasnya, telak. Saya yang lamat-lamat mendengarkannya langsung senyum-senyum, lalu tertawa. “Iya juga,” batin saya. Kalau tidak dijajah mungkin akan lebih runyam lagi ceritanya. Jadi, mau tidak mau Indonesia harus “berterima-kasih” kepada mereka yang sudah repot-repot menjajah Indonesia.
 
Ketika Indonesia dalam kondisi terhimpit (terjajah) maka rakyat –mulai dari anak muda sampai kakek-kakek– menghimpun kekuatan. Mereka ingin keluar dari penjajahan yang membuat bangsa terpuruk dan tidak bisa mengeja nasibnya secara mandiri. Dari situ, kesatuan dan persatuan bangsa menjadi lebih terpupuk. Berkat kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas, akhirnya Indonesia berhasil membebaskan diri.
 
Kita tahu bahwa perjuangan ini tidak didapat dengan sekadar membalikkan telapak tangan. Perjuangan ini adalah hasil dari peluh-keringat para pejuang yang telah gugur sebagai pahlawan bangsa. Dengan begitu, kita menjadi termotivasi untuk mengisi kemerdekaan, mempertahankan kemandirian dengan cara kita masing-masing. Itu karena kita ingat bahwa kebebasan dari belenggu asing ini adalah anugerah, amanah dari Allah.
 
Kalau dari awal Indonesia sudah merdeka, kisah yang heroik itu tidak akan menghiasi sejarah bangsa ini. Justru dengan adanya perjuangan melawan penjajah, Indonesia memiliki referensi heroisme, nasionalisme, patriotisme, dan isme-isme lainnya yang patut dijadikan teladan. So, dijajah oleh mereka yang tidak mau mencerdaskan bangsa jajahannya sekalipun, itu lebih baik, dan kita “wajib” mensyukurinya. Begitulah kisah bangsa kita. []

Minggu, 26 Mei 2013

SAUDARA

Oleh: Samsul Zakaria (Ka’ Sams)

 
Saya pernah mendapatkan ungkapan yang menarik untuk direnungi bersama. Mengapa Rasulullah itu tidak menamai orang-oang yang menyertainya dengan sebutan “keluarga” atau usrah? Rasulullah justru menyebut mereka dengan istilah “shahabat”. Katanya, hubungan yang paling ideal itu justru bukan karena hubungan darah, tetapi lebih karena hubungan akidah. Keluarga itu “darah”, dan shahabat itu “akidah”.

Lebih penting dari itu adalah bahwa yang lebih mengetahui mengapa Rasulullah bersikap demikian, yang lebih mengerti adalah beliau sendiri. Namun, seandainya memang maksudnya seperti yang saya sampaikan masuk akal alias dapat diterima. Dalam al-Qur'an pun difirmankan bahwa sejatinya orang-orang mukmin itu bersaudara. Hal itu menunjukkan bahwa persaudaraan itu sangat luas, tidak sekadar karena ikatan darah semata.

Suasana kebersamaan dalam persaudaraan mahasiswa USIM asal Indonesia.
Saya sering mengatakan, “dia” itu saudara saya. Ketika ditanya balik, “Saudara dari mana?” Saya pun menjawab, “Saudara sesama muslim.” Sebab memang sudah jelas konsepsinya bahwa muslim dipersaudarakan karena akidah yang sama. Itulah yang dalam banyak kesempatan didengungkan dengan istilah ukhuwah islamiyyah. Persaudaraan yang terjalin karena kesamaan agama (Islam) atau akidah tadi.

Dan lebih jauh lagi, bahwa konteks “persaudaraan” itu akan lebih universal kalau dikaitkan dengan surat al-Hujurāt ayat 13. Manusia yang diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku itu dimaksudkan agar saling mengenal, saling bersaudara. Kalau sudah diikat dengan tali persaudaraan maka permusuhan, perselisihan, dan peperangan itu selaiknya dihindarkan. Ini sebenarnya pijakan awal dalam hubungan sosial kita.

Apa yang difirmankan Allah dalam al-Quran menunjukkan bahwa manusia memang tidak akan pernah bisa hidup seorang diri. Manusia membutuhkan interaksi, komunikasi, dan korespondensi, dengan manusia lain yang ada di dunia. Hubungan tersebut bila dikaitkan dengan surat al-Māidah ayat 2, akan menjadi ideal kalau dilakukan dalam hal kebaikan dan takwa saja. Hubungan yang terjalin karena dosa dan permusuhan adalah hal yang dilarang.

Kita bisa melihat betapa seseorang bisa mudahnya akrab dengan orang lain yang baru saja bertemu. Hal itu memang tidak lepas dari insting manusia untuk “berbagi” dengan sesama, dan tidak nyaman kalau harus sendirian sahaja. Itulah mengapa saya pribadi ketika akan bersantap, lebih nyaman untuk mengajak teman. Tujuannya, supaya bisa diajak “berbincang-bincang”, dan syukur-syukur mendiskusikan hal yang bermanfaat.

Saya teringat orang tua saya yang pernah “mengajarkan” bahwa menjadi bersaudara itu mudah. Saat saya masih kecil, orang tua membeli motor second tetapi tidak langsung lunas. Kekurangan dari uang yang dibayarkan di awal akan dibayar kemudian. Alhamdulillah, orang tua saya bisa melunasi kekurangan tersebut sebelum jatuh tempo. Karena sebab tersebut, akhirnya orang tua saya dan penjual motor tersebut menjadi “saudara”.

Persaudaraan itu pula yang saya rasakan di Malaysia. Di sini, saya berjumpa dengan pelajar (S1 dan S2) yang berasal dari Indonesia. Walaupun baru pertama bertemu tetapi karena kesamaan negara dan perjumpaan pertama begitu berkesan sehingga kami pun menjadi “saudara”. Begitu juga dengan orang-orang Malaysia, yang juga welcome dengan kedatangan saya. Termasuk juga students dari negara-negara luar Malaysia. Allahu akbar! []

CHOW KIT

Oleh: Samsul Zakaria (Ka’ Sams)

 
Salah satu perbedaan signifikan yang saya rasakan ketika berada di Malaysia adalah terkait masakan. Saya tidak tahu mengapa, lidah saya tidak cukup bersahabat dengan masakan Malaysia. Kalau sudah begitu, saya akhirnya kangen dengan Indonesia, khususnya dengan masakannya. Mungkin, kalau saya tinggal di Malaysia selama setahun –misalnya– saya baru “enjoy” dengan masakannya.

Setahu saya, bawang yang ada di Malaysia memang berbeda dengan Indonesia. Di Indonesia bawangnya tidak begitu besar. Sementara di Malaysia bawangnya besar-besar, yang saya tahu itu disebut dengan bawang bombay. Barang kali, bawang ini yang menjadikan rasa masakannya berbeda. Tentu saya tidak menampik, bahwa ada perbedaan racikan dan plus-minus bumbu lainnya.

Dari awal, saya pun mendapatkan informasi penting. Kalau berada di Malaysia, tidak perlu khawatir. Apa pasal? Di Malaysia, banyak kedai yang menawarkan masakan khas Indonesia. Sehingga, citra-rasa Indonesia masih mungkin dinikmati di Malaysia. Kalau memang tidak cocok dengan masakan Malaysia maka bisa langsung merujuk ke kedai-kedai masakan Indonesia tersebut. Sayangnya, kedai itu cukup jauh dari tempat saya tinggal.

Selain itu, saya juga dikabari bahwa di KL ada daerah khusus yang menyediakan masakan Indonesia. Saya pun bersyukur, Jumat (24/5/’13) petang bisa mengunjungi tempat tersebut. Daerah tersebut adalah Chow Kit. Ternyata bukan masakannya saja yang “Indonesia”. Tetapi yang saya tahu, tepatnya di kedai tempat saya makan, penjualnya juga orang Indonesia. Chow Kit, laksana “miniatur” Indonesia yang ada di Malaysia.

Salah satu suasana perbelanjaan di Chow Kit.
Saat saya sampai di Chow Kit, waktu Maghrib sudah tiba. Akhirnya, sebelum makan saya dan teman-teman berusaha untuk mencari surau (mushalla). Kami mendapatkan informasi bahwa di kedai dimana kami berencana makan, ada suraunya. Kami pun menuju surau tersebut yang terletak di lantai tiga. Kami pun shalat berjamaah di surau tersebut. Usai shalat saya sempat ngobrol dengan Pak M. Pasaribu. Siapakah dia?

Pak Pasaribu adalah orang Medan yang sudah 30 tahun berada di Malaysia. Diapun sudah pindah kewarganegaraan. Saya tanya berapa gajinya perbulan di Malaysia. Jawabnya, tiga ribu Ringgit. Jumlah tersebut kalau dikonversikan ke Rupiah sebenarnya cukup banyak, sekitar 9 jutaan. Tetapi untuk (ke)hidup(an) di Malaysia gaji segitu masih “biasa”. Apalagi Pak Pasaribu sudah punya 3 anak, ditambah lagi istrinya tidak bekerja (ibu rumah tangga).

Sebelum berpisah, saya pertegas apakah gaji tersebut cukup baginya. Pak Pasaribu katakan bahwa cukup-tidaknya gaji itu masalah menejemen hati kita. Toh, banyak juga yang gajinya hanya tiga ratus Ringgit tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadi, semua tergantung rasa syukur kita. Beliau pun mengutip substansi ayat al-Quran, siapa bersyukur ditambah nikmatnya. Tetapi bagi yang kufur azab-Nya itu pedih.

Pak Pasaribu adalah “hikmah” yang saya temui di kedai Chow Kit. Setelah mengobrol singkat dengan beliau, kami pun bergegas menuju lantai 2 untuk memesan makan. Saya memesan ayam penyet. Sementara teman-teman saya ada yang pesan mie ayam, bebek goreng, dan lainnya. Saya pun malam itu serasa “berada” di Indonesia kembali. Entahlah, masakan Indonesia memang tiada duanya. Terima kasih ya Allah. []


MONAS-PETRONAS

Oleh: Samsul Zakaria (Ka’ Sams)
 

Sehari sebelum ‘Idul Adha tahun lalu, saya diberikan kesempatan oleh Allah untuk singgah ke puncak tertinggi Monumen Nasional (Monas). Malamnya, saya tiba di stasiun Pasar Senen, Jakarta –dari Lempuyangan, Yogyakarta– sekitar pukul setengah tiga dini hari. Setelah duduk cukup lama, dan sempat makan bakwan, di depan stasiun (bagian selatan), saya mampir ke satu masjid. Paginya, dari masjid itu saya berjalan menuju Monas.

Di puncak Monas.
Dari masjid tersebut, puncak Monas memang terlihat jelas. Saya menyangka bahwa dengan berjalan sekitar 15 menit, saya akan sampai di pelataran Monas. Dugaan saya sepenuhnya salah. Pagi hari dimana matahari sudah mulai menyinari bumi cukup terik, peluh keringat membersamai perjalanan saya. Awalnya saya niat berpuasa ‘Arafah. Sampai Monas, saya batalkan dengan makan mie instan (pop mie).

Monas bersebelahan dengan stasiun Gambir, Jakarta. Sebelumnya, saya pernah naik Bus Damri dari Gambir menuju Lampung. Kala itu, saya memang sempat berjalan-jalan di sekitaran Monas. Tetapi tidak sempat menaiki lift yang bisa membawa saya ke puncak Monas. Akhirnya, hari itu –dengan tujuh ribu rupiah– saya bisa berfoto-foto bebas di puncak Monas. Seorang diri, saya cukup menikmati perjalanan pagi hingga siang itu.

Kepada Allah, saya ucapkan syukur yang tak terkira. Saya berhasil “menaklukkan” menara yang menjadi icon Indonesia. Berita terakhir yang saya baca, Pertamina akan membuat menara yang –pastinya– lebih tinggi dari Monas. Dari Monas, Jakarta saya beranjak ke Petronas (twins tower), Kuala Lumpur, Malaysia. Jika Monas saya katakan sebagai icon Indonesia, maka Petronas adalah icon Malaysia.

Kata orang tidak afdhal berwisata ke Malaysia kalau tidak sempat menengok barang sekejap Menara Kembar itu. Sama halnya ketika ke Singapura. Tidak lengkap visiting-nya kalau belum berfoto(-foto) di depan Patung Merlion. Itulah suatu tanda bahwa negara manapun, siapapun, dan apapun, memiliki ­–paling tidak– satu “keistimewaan” yang banyak dikenang dan diimpikan orang.

Suatu ketika saya melihat facebook (FB) seseorang. Saya tahu latar foto profil FB dia adalah Menara Petronas. Saya kira dia orang Malaysia. Ternyata dia asli Indonesia tetapi pernah berkunjung ke Malaysia. Dalam hati, saya kagum padanya. Dan secara diam-diam saya membatin, kapan saya bisa berkunjung ke sana. Hingga Allah, kembali memberikan kesempatan kepada saya untuk berada di Malaysia, plus mengunjungi Menara tersebut.

Setelah keluar dari jembatan penghubung Pavillion dan Petronas.
Dari tempat penginapan kami ke Kuala Lumpur (KL) membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Dari Nilai, Negeri Sembilan, saya dan teman-teman naik kereta (train) ­–biasa disebut KTM, Keretapi Tanah Melayu– menuju KL. Dari stasiun KL, Petronas sudah tampak jelas. Kebahagiaan mulai menjalari tubuh saya. Saya ingin segera menuju ke sana. Tetapi saya masih diajak untuk singgah di Pasar Seni, untuk sarapan pagi.

Di depan Pavillion Mall.
 Setelah itu, kami ke Taman Merdeka. Dilanjutkan dengan shalat Jumat di Masjid India. Di masjid ini, khutbah pakai bahasa India. Ba’da Jumatan, “guide” kami mengajak ke Pavillion Mall, KL. Dari mall itu, Petronas juga tampak jelas. Barulah, sekitar jam 5-an kami sampai juga –tepat– di depan Petronas. Beberapa kali kami mengambil gambar di daerah ini. Setelah Mo(nas) dan Petro(nas), ke tempat ber(nas) mana lagi kaki ini melintas? Wallāhu a’lamu. []

Kamis, 23 Mei 2013

BUAH HATI

Oleh: Samsul Zakaria (Ka’ Sams)

 
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri,” kata Kahlil Gibran. Petikan puisi tersebut saya dapatkan dari buku “Hidup Adalah Memilih” karya seorang purnawirawan, Taufiq Effendi. Kalau meminjam bahasa Rhenald Kasali, seorang anak berhak untuk menemukan “lentera jiwanya” sendiri. Orang tua hanya mengarahkan saja, bukan memaksa mereka harus kemana.
 
Seorang anak memang harus dididik dengan sebaik mungkin. Sebab seorang anak –nantinya– akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zaman kala dia dididik. Itulah yang disebut oleh Gibran bahwa anak-anak kita adalah “anak kehidupan”. Mereka yang akan menggenggam kehidupan dengan gaya, model, dan bahasa mereka sendiri. Didikan orang tua dalam konteks ini adalah dalam rangka menemukan “dirinya” si anak itu.
 
Di Masjid Besi, saya dan Arsyad Haikal memjumpai 2 orang anak yang sedang bertamasya dengan keluarganya. Kedua anak itu "lucu". Keduanya kakak beradik. Sang adik tampak malu dan takut ketika saya ajak berfoto. Syukurnya, sang kakak berusaha menenangkannya sehingga dia mau berfoto. Semoga mereka menjadi buah hati terbaik orang tuanya dan menjadi yang terbaik untuk bangsanya pula. Amin Ya Allah...
Seorang presiden tidak harus memaksa putranya untuk menggantikan tahta kepemimpinannya. Masalah kemudian presiden itu mengarahkan anaknya untuk –pantas– menjadi presiden sepertinya itu adalah sebuah pilihan. Tetapi jalan kehidupan seseorang memang unik dan karenanya biarlah dia mengikuti alurnya sendiri. Memberi kebebasan anak untuk menemukan kehidupannya tentu berbeda dengan membiarkannya sama sekali.
 
Orang tua tetaplah memiliki kewajiban untuk memberikan arahan, didikan, dan pelajaran kepada anaknya. Terutama tentang masalah karakter, sikap, dan perilaku. Tetapi pada akhirnya kemana sang anak akan “melabuhkan diri”, itu menjadi pilihan sang anak tersebut. Bentuk kasih sayang orang tua bukan kemudian diartikan dengan “mengekang” kebebasan dan kreativitas sang anak.
 
Anak, kata orang bijak, adalah buah hati. Buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Anak yang terlahir memang tidak akan jauh dari orang tuanya. Sebab anak, sekali lagi, adalah “buah” dari orang tuanya. Buah itu akan (men)jauh dari pohonnya, kalau jatuhnya di tebingan yang terjal. Artinya, segala sesuatu lazimnya memiliki pengecualian. Tetapi over all, anak akan mewarisi sifat-sifat orang tuanya, sedikit atau banyak.
 
Dialah gadis belia yang cantik jelita. Ketika saya tanya siapa namanya, dia mendekatkan wajahnya ke telinga saya sembari berkata, "My name is Zumana." Zumana berasal dari Libya yang hari itu ikut bersama ibunya ke stand pameran International Week. Saya turut berdoa semoga kecantikannya menjadi alasan baginya untuk lebih bersyukur nantinya dan semakin dekat dengan Tuhannya.
Anak atau buah hati, memang akan “mirip” dengan orang tuanya. Tingkat “kemiripan” itu memang berbeda-beda. Tetapi bukan karena mirip kemudian sang anak harus dipaksa untuk menjadi persis seperti (kedua) orang tuanya. Memang tidak mudah dalam mendidik anak. Saya yang saat ini masih menjadi “anak/buah hati” –karena belum menikah– mencoba belajar atau tepatnya latihan untuk itu.
 
Bagi saya, mengapa anak itu diisyaratkan dengan “buah hati” tentu memiliki nilai filosofis tertentu. Bahwa anak adalah simbol dari orang tua, yang bagaimanpun anak itu nanti, menjadi apa anak itu nantinya, dialah yang “mewarisi” kedua orang tuanya. Anak adalah amanah yang dari rahim istri kita dia dilahirkan. Bagi mereka yang baru berumah tangga, buah hati lah yang menjadi dambaan pertama dan utama.
 
Buah itu tidak semuanya super. Dari bibit yang unggul sekalipun mungkin lahir buah yang “tidak semestinya”. Saya tentu berharap bahwa buah yang lahir dari rahim pasangan saya (dan kita) adalah “buah” yang terbaik. Dia lah yang akan kita didik, kita arahkan untuk menemukan dirinya sendiri. Dengan begitu “dia” akan benar-benar menjadi buah hati, buah yang juga membuat hati senang dan bahagia. Āmīn yā Rabb... []