Moderator Diskusi Pendidikan Karakter

Saya bersama Drs. Aden Wijdan SZ, M.Si. dan Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi, M.Si., Ruang Audiovisual Perpustakaan Pusat UII, Jumat (27/4/12)

LPM Pilar Demokrasi

Foto bersama setelah Diskusi Pendidikan Karakter bersama "Tempo", Jumat (27/4/12)

Ketep Pass, Magelang

Rihlah bersama Jama'ah Al-Faraby (JAF), Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Universitas Islam Indonesia

Visiting Wisuda

Wisuda adalah sebuah keniscayaan yang harus dilalui menjelang pernikahan

Gua Pindul, Gunung Kidul

Pindul itu "Pipi Kebendul", dan karenanya gua itu diberi nama [Edisi Konon]

Gua Cermei, Bantul-Gunung Kidul

Eksotisme itu tidak hanya berada di alam terbuka saja, bukan?

Jumat, 12 Juni 2020

JALAN



@samsul.zakaria

Tentang jalan yang menjadikanku sampai tujuan. Entah sampai kapan aku telusuri. Sebab jalan-jalan sebelumnya masih hangat dalam memori. Dan sekarang aku sudah di sini. Mulai mengakrabi jalan ini. Jalan menuju gedung bertingkat dua tempat mengabdi dan melayani. 

Tentang jalan yang menjadikanku kembali ke rumah. Menjumpai sosok yang pertama kali kukenal saat kuliah. Bercerita tentang indahnya lelah. Asal masih bersama, seberat apapun masalah, tak boleh menjadi sebab berkeluh kesah. Setelah ikhtiar, kepada-Nya kami panjatkan semurni-murni pinta dan pasrah. 

Tentang jalan yang menjadikanku sadar diri. Meski berkelok penuh onak duri. Namun jauh lebih banyak hal yang bisa disyukuri. Setiap jalan ada orangnya dan setiap orang ada jalannya sendiri. Jalan yang dikeluhkan seringkali adalah jalan yang orang lain ingini. Kalau disyukuri, dihikmati, di ujung jalan ini ada pelangi yang menanti. []

Ranai-Natuna, 10 Juni 2020
.
@alifmaelani
@pa_natuna

Jumat, 22 Mei 2020

MEMETIK HIKMAH DI TENGAH WABAH (Khutbah Idul Fitri 1441 H)

Source: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/01/07/masjid-agung-natuna
 
Oleh: Samsul Zakaria, S.Sy., M.H. 
(Hakim Pengadilan Agama Natuna)


اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ...
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ، اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَآئِمٌ وَاَفْطَرْ، اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ، وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْ، وَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ. اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ، وَأَنْزَلَ فِيهِ الْقُرْآنَ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ، وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ، نَبِيُّنَا الَّذِي قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اللهُ اَكْبَرْ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Mengawali khutbah ini, marilah kita bersyukur atas ribuan kenikmatan yang masih Allah ta’ala anugerahkan kepada kita. Salah satu kenikmatan tersebut adalah kita dapat merasakan indahnya hari raya Idul Fitri 1441 Hijriyah ini. Mudah-mudahan kenikmatan ini menjadi bekal kita untuk semakin meningkatkan ketaatan kita kepada Allah ta’ala.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, bi qauli allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. Semoga kita dapat mengikuti sunnah-sunnahnya dan kelak mendapatkan syafa’atnya di yaumil qiyamah.

Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri khatib khususnya dan kepada jama’ah umumnya untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah ta’ala. Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya yaitu dengan cara menjalankan perintah-perintah-Nya dan berupaya sekuat tenaga untuk meninggalkan larangan-larangannya. 

Hadirin, jama’ah Shalat ‘Id yang berbahagia,
Saat ini seluruh bangsa di dunia sedang menghadapi ujian besar yang belum dapat dipastikan kapan akan berakhir. Ujian tersebut tiada lain adalah merebaknya wabah atau pandemi korona atau biasa juga disebut dengan istilah Covid-19. Masing-masing kita sebagai bagian dari masyarakat juga merasakan dampak dari ujian tersebut.

Dampak paling nyata dari merebaknya virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China tersebut adalah diliburkannya sekolah-sekolah. Namun yang patut kita syukuri adalah, meskipun sekolah libur tetapi pembelajaran anak-anak kita tidak libur. Mereka tetap belajar dari rumah, dipantau oleh guru melalui media sosial. Sebagai orang tua, kita menjadi lebih tahu perkembangan pendidikan anak dan dapat memberikan pendampingan yang lebih kepada anak.

Sebagai umat muslim tentu kita meyakini bahwa Allah tidak menciptakan segala sesuatu secara sia-sia. Setiap makhluk yang tercipta pasti membawa hikmah dan pesan bagi kehidupan manusia. Adanya virus korona adalah sebuah kenyataan yang sudah terjadi. Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapi ujian tersebut? Berkenaan dengan ujian kehidupan ini, Allah ta’ala berfirman:

 الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ.

Artinya: “(Dialah Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk: 2)

Hidup dan mati, termasuk virus korona yang menyebabkan kematian penduduk dunia tersebut hakikatnya adalah ujian dari Allah ta’ala. Hal tersebut disiapkan untuk menguji siapakah diantara kita yang lebih baik amalnya. Dengan ujian itu semestinya menjadikan kita lebih mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.

Sebagai umat muslim kita pun bersyukur, karena segenap perjalanan hidup yang kita lalui adalah sebuah kebaikan. Dengan catatan kita dapat menyikapinya dengan benar. Rasulullah SAW bersabda:

عَجَباً لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأِحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَآبَتْهُ سَرَّآءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَآبَتْهُ ضَرَّآءُ صَبَرَ فَكَانَ خيْراً لَهُ) رواه مسلم(

Artinya: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim) 

Hadirin, jama’ah Shalat ‘Id yang berbahagia,
Kesabaran kita dalam menghadapi ujian tentu bukan saja berpangku tangan alias pasrah. Terkait virus korona, sebaiknya kita lebih menjaga kebersihan, sering cuci tangan setelah keluar rumah, dan mematuhi anjuran pemerintah. Namun jangan sampai hal tersebut menjadikan kita takut yang berlebihan karena justru akan menurunkan kekebalan tubuh. Sebaliknya, juga jangan sombong, seolah kita kebal dari virus tersebut.

Di hari yang suci ini, virus korona membawa pesan betapa agungnya kuasa Allah. Dengan benda yang tidak dapat dilihat secara kasat mata, Allah dapat menjadikan kita manusia yang tak berdaya dan ketakutan. Oleh karena itu, semestinya kita terus mengikis rasa sombong dan angkuh yang ada dalam diri untuk kembali dan memohon pertolongan dan rahmat-Nya.

Quran mengingatkan kita bahwa amal baik sebesar biji dzarrah atau sawi akan dibalas. Begitu juga amal buruk juga pasti dibalas, sekecil apapun itu. Banyak orang yang terjatuh bukan karena batu besar tetapi karena batu kecil bahkan kerikil. Hal ini menjadi gambaran bahwa kita tidak boleh meremehkan hal yang kecil, baik itu kebaikan ataupun keburukan. Kebaikan yang sedikit kalau kita ikhlas dan istiqamah akan bernilai besar di sisi Allah. Adapun keburukan meskipun kecil, kalau kita terus-menerus melakukannya maka akan menumpuk dan menyusahkan kita di hari akhir nanti. 

Hadirin, jama’ah Shalat ‘Id yang berbahagia,
Momentum Idul Fitri ini marilah kita gunakan untuk membersihkan diri kita dari noda dan penyakit hati sekecil apapun itu. Baik itu rasa benci kepada sesama, dendam, sombong, iri hati atau hasad, dan semacamnya. Korona mengingatkan kita akan kebersihan jasmani. Idul Fitri menjadi pengingat kita akan kebersihan ruhani. Semangat Ramadhan yang kita jalani selama sebulan terakhir kita pertahankan dan lestarikan sampai bertemu Ramadhan berikutnya.

Tidak ada jaminan bahwa kita masih bertemu Idul Fitri di tahun mendatang. Karenanya, agar Idul Fitri ini semakin berarti mari bersama-sama kita membuka pintu maaf yang sebesar-besarnya kepada siapa saja yang pernah bersalah kepada kita. Dengan cara itu, mudah-mudahan Allah juga berkenan untuk memaafkan kesalahan kita. Dan kita pun senantiasa meminta dan memohon kepada Allah ta’ala agar wabah korona ini segera hilang dan diangkat. Amin ya Rabbal ‘alamin

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ ربِّهِ ونَهَيَ النَّفْسَ عَنِ اْلَهوَى فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ اْلمَأْوَى. جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَآئِدِيْنَ وَاْلفَآئِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ. وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ...



Khutbah Kedua

اَللهُ اَكْبَرْ (3×) اَللهُ اَكْبَرْ (4×) اَللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ هُوَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لَّا اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثيْرًا. اَمَّا بَعْدُ فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا اَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إَلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَآءَ واْلبَلَآءَ وَاْلوَبَآءَ وَالفَحْشَآءَ وَالشَّدَآئِدَ وَالفِتَنَ وَالمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَآئِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ...




Senin, 30 Maret 2020

Dengan Silaturrahim Kita Kuat, Dengan Tenis Kita Sehat (Refleksi Turnamen Tenis Cakim PA se-Jatim)

Oleh: Samsul Zakaria, S.Sy., M.H.
Calon Hakim di PA Kabupaten Malang Kelas 1A



Jam 6 masih kosong, Kediri dinyatakan menang,” tulis Zahrul Bawady, Lc., di WA Group PTWP Cakim Jatim dengan emoji senyuman. Menang verstek, Bang...,” lanjut Muh. Irfan, S.H., menimpali. Sebagaimana putusan verstek, menang verstek berarti menang tanpa kehadiran pihak lawan. Untuk mencairkan suasana saya ikut nimbrung. Kami ajukan verzet...” Tentu saya bubuhi emoji smile pula dalam kalimat singkat tersebut.

Dialog di atas adalah salah satu “episode” serunya Turnamen Tenis antar Calon Hakim (Cakim) Pengadilan Agama (PA) se-Jawa Timur (Jatim). Even yang diikuti oleh 13 satuan kerja (satker) dimaksud dihelat di Lapangan Tenis Dinas PU dan Kutisari Tennis Center Surabaya pada Sabtu, 14 Maret 2020 lalu. Turnamen yang diadakan secara independen tersebut selesai di hari itu juga sebelum adzan Maghrib berkumandang.


Turnamen dimaksud saya katakan “independen” karena memang tanpa sponshorship dari pihak manapun. Lalu dari mana dananya? Berasal dari iuran sukarela dari masing-masing peserta. Uang tersebut digunakan untuk sewa lapangan dan pembelian snack dan minuman teh/kopi untuk dinikmati bersama. Selain itu, uang digunakan untuk membeli medali apresiatif ala kadarnya untuk para juara dan piala—khusus untuk juara pertama.

Terselenggaranya turnamen ini adalah bukti kekompakan para Cakim, khususnya para Cakim PA yang magang di wilayah Jatim. “Intinya (adalah dalam rangka) menggaungkan kekompakan dan ukhuwah Calon Hakim PA,” tutur Adam Wahid Pangaji, Lc., M.S.I., peserta sekaligus panitia inti. Ukhuwah atau persaudaraan tampak sekali dalam even ini. Terbukti dengan apapun hasil pertandingan, baik tim yang menang maupun yang kalah sama-sama menyuguhkan senyuman manis dan saling bersalaman dengan hangat.

Para Cakim harus bersyukur karena dalam even tersebut dibersamai oleh salah seorang Hakim senior. Hakim dimaksud adalah Drs. H. M. Abd. Wachid, S.H. (Hakim Utama Muda di Pengadilan Agama Tuban Kelas 1A). Dalam sambutannya ia memotivasi para Cakim—yang dalam waktu dekat akan diwisuda dan dilantik menjadi Hakim—untuk terus berlatih tenis. Kemampuan bermain tenis, lanjutnya, harus terus diasah. “Apalagi di luar Jawa perkaranya relatif sedikit,” tegasnya.


Rasa syukur diungkapkan oleh Sitti Salma Rumadaul, S.Sy. “Alhamdulillah. Ini salah satu kenangan yang tidak terlupakan selama menjalani pendidikan Cakim di Jawa Timur. Awalnya hanya target ikut tunamen tenis. Salah satu olahraga yang saya gemari 6 bulan terakhir. Bersyukur bisa sampai juara 1,” tutur Salma yang merupakan Ketua Panitia even ini. “Berharap semoga dengan (raihan) ini akan semakin memotivasi agar kedepannya bisa lebih baik,” tutupnya.

Semoga silaturrahim antar Cakim se-Jatim semakin kuat dan terjaga. Harapannya, ke depan diadakan even rutin sekaligus reuni khusus para Cakim yang pernah magang di Pengadilan Agama se-Jatim. Reuni tersebut nantinya menjadi penanda bahwa para Cakim tidak pernah puas dan terus mengasah kompetensi tenisnya di samping kompetensi-kompetensi lainnya. Sebab dengan olahraga (tenis), para Cakim yang sebentar lagi (in sya Allah...) dilantik menjadi Hakim tersebut tetap sehat wal afiyat. Al-‘aqlu as-salīm fi al-jismi as-salīm. Aamiin... []

Kepanjen – Kabupaten Malang,
Kamis, 19 Maret 2020 M/24 Rajab 1441 H.
Pukul 13.08 WIB.

***


Hasil Turnamen Tenis Cakim PA se-Jatim


Putra
Juara 1 (Emas)
Samsul Zakaria, S.Sy., M.H. dan
Helmy Ziaul Fuad, S.H.I., S.H., M.H.
(PA Kabupaten Malang)

Juara 2 (Perak)
Yasin Yusuf Abdillah, S.H.I. dan
Fahmi Arif, S.H.
(PA Tulungagung)

Juara 3 (Perunggu)
Adam Wahid Pangaji, Lc., M.S.I. dan
Ama’ Khisbul Maulana, S.H.I., M.H.
(PA Bojonegoro)
&
Zulkarnaini, S.Sy. dan
Humaidi, S.H.
(PA Surabaya)


Putri
Juara 1 (Emas)
Sitti Salma Rumadaul, S.Sy. 
(PA Tuban)

Juara 2 (Perak)
Wiwin Sutini, S.Sy. 
(PA Kediri)

Juara 3 (Perunggu)
Ai Susanti, S.H.I. 
(PA Tuban)



Adapun satker yang turut serta dalam even ini adalah sebagai berikut:

1. PA Banyuwangi Kelas 1A
2. PA Blitar Kelas 1A
3. PA Bojonegoro Kelas 1A
4. PA Jember Kelas 1A
5. PA Kabupaten Malang Kelas 1A
6. PA Kediri Kelas 1A
7. PA Kodya Malang Kelas 1A
8. PA Lamongan Kelas 1A
9. PA Lumajang Kelas 1A
10. PA Sidoarjo Kelas 1A
11. PA Surabaya Kelas 1A
12. PA Tuban Kelas 1A
13. PA Tulungagung Kelas 1A


Senin, 16 Maret 2020

MENDIDIK ANAK DAN MASA DEPAN KITA



Oleh: Samsul Zakaria, S.Sy., M.H.

Calon Hakim di PA Kabupaten Malang Kelas 1A,

Guru Privat Agama di Yogyakarta (2013-2018)


“Sebenarnya saya ingin haji, Mas. Tapi anak saya banyak. Saya ingat pesan Qur’an. Jangan meninggalkan generasi yang lemah!” tutur seorang bapak saat kami naik travel jurusan Malang-Ponorogo. Bapak yang berprofesi sebagai guru tersebut bagi saya adalah orangtua yang berpikiran maju. Sebagai muslim yang taat tentu dia sadar akan kewajiban haji sebagai penyempurna rukun Islam. Namun mendidik anak agar menjadi generasi yang kuat tidak kalah wajibnya. Bahkan dalam konteks tertentu adalah mendesak.

“Orangtua haruslah menjadi sosok yang pertama mengerti bila anak punya masalah,” lanjutnya setengah menasihati saya. Ungkapan tersebut benar adanya. Sebab, anak yang mendapati orangtuanya sebagai tempat ternyaman untuk curhat tidak akan mencari tempat atau orang lain untuk curhat. Sebaliknya, bila orangtua tidak perhatian dan tidak mau tahu dengan masalah anak maka anak akan mencari kenyamanan di luar rumah. Akhirnya, orangtua tidak lebih mengerti tentang problematika anaknya dibandingkan orang lain.

Setiap orangtua tentu memiliki “seni” tersendiri dalam mendidik anak. Saya terkesan dengan cara almarhum ayah saya memahamkan pentingnya olahraga. Ayah tidak pernah bilang, misalnya, “Olahragalah, Le. Olahraga itu penting untuk kesehatanmu. Dengan olah raga kamu mudah dapat teman.” Tidak, ayah tidak melakukan itu. Ayah melakukan cara yang unik. Setiap ada even olahraga, khususnya bola voli, sepak bola, dan balap motor (grasstrack), saya selalu diajak nonton. Dari situlah saya menjadi cinta olahraga dan berlanjut sampai saat ini.

Cara tersebut nampaknya menarik untuk diduplikasi dalam konteks lain. Targetnya adalah dalam rangka menanamkan kesadaran kepada anak akan pentingnya belajar, olahraga, ibadah, dan segenap hal positif lainya. Anak tidak selalu butuh “ceramah” tentang urgensi hal-hal dimaksud. Anak hanya perlu diajak untuk menyaksikan dan merasakan sensasi belajar, serunya even olahraga, dan syahdunya ibadah. Akhirnya, kesadaran anak akan terbentuk dan yang demikian ini lebih membekas nan bertahan lama.

Namun demikian, setiap orangtua tentu memiliki cara sendiri untuk mendidik anak. Poin pentingnya adalah setiap orangtua harus memiliki komitmen untuk memberikan pendidikan yang terbaik kepada anaknya. Pasalnya, anak adalah amanah ilahiah yang setiap orangtua akan dimintai pertanggungjawaban. Selain itu, anak adalah masa depan orangtua: masa depan kita. Anak adalah kepanjangan orangtua untuk melestarikan kebaikan yang pernah ditanam orangtuanya. Karenanya, orangtua harus memberikan bekal pendidikan yang terbaik kepada anak(-anak)nya.

Ibarat rantai kehidupan, setiap zaman ada generasinya dan setiap generasi ada zamannya. Anak kita kelak akan menjadi orangtua bagi anak-anaknya yang tiada lain adalah cucu-cucu kita. Dengan demikian, menyiapkan anak yang tangguh sama halnya dengan menyiapkan cucu yang tangguh. Sebab, anak yang terdidik dengan baik kemungkinan besar akan memiliki kesadaran untuk mendidik anak-anaknya dengan baik pula. Artinya, mendidik anak dengan baik adalah menyiapkan masa depan yang panjang.

Mendidik anak tentu saja tidak harus dilakukan oleh orangtua secara langsung. Ketika orangtua memfasilitasi anak untuk belajar di sekolah sampai perguruan tinggi adalah juga bagian dari mendidik. Termasuk ketika orangtua mempersilakan anak untuk mendalami ilmu agama di TPA/TPQ atau pesantren. Namun yang perlu diingat pendidikan moral di rumah harus terus diikhtiarkan. Prof. Drs. H. Akh. Minhaji, M.A., Ph.D (Mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga) pernah berujar bahwa pendidikan sekolah adalah keberlanjutan dari pendidikan yang sudah dibangun sejak dari keluarga.

Pendidikan bagi anak, dengan begitu, harus berimbang. Antara pendidikan di sekolah dan pendidikan di rumah. Teladan seorang bapak yang saya ceritakan di awal tulisan ini penting untuk dipedomani. Selain mendukung anak untuk menempuh sekolah formal, orangtua juga mengawal kebutuhan anak yang lain. Termasuk saat anak punya masalah maka orangtua yang lebih dahulu tahu dan membantu anak untuk menemukan solusi terbaik. Untuk mencapai level “orangtua yang lebih mengerti anak” berarti orangtua harus membangun komunikasi yang menyenangkan dengan anak.

Komunikasi yang menyenangkan antara orangtua dan anak adalah utama. Bila iklim yang demikian sudah terjalin maka baik orangtua maupun anak nyaman untuk saling cerita dan berbagi (sharing). Bahkan ketika anak sudah berkeluarga. Meskipun harus dalam batas yang wajar. Sebab bila berlebihan, orangtua terkesan memiliki intervensi yang ekstra bagi keluarga sang anak. Namun bila orangtua merasa keluarga anaknya butuh pendampingan maka “intervensi” tersebut memang harus dilakukan. Sebab bila tidak, bisa menjadi masalah yang lebih besar.

Pengalaman saya magang di PA Kabupaten Malang. Ketika Hakim mengabulkan permohonan dispensasi kawin (karena mempelai belum berumur 19 tahun), Hakim berpesan kepada orangtua (calon) mempelai. “Karena anak yang mau nikah masih belum dewasa maka orangtua wajib mendampingi. Kalau ada kekurangan ekonomi orangtua harus membantu. Termasuk kalau ada masalah maka harus didampingi,” pesannya. Hal itu perlu dilakukan supaya keluarga anak bisa bertahan dan tidak ke PA lagi untuk mengajukan gugatan perceraian.

Penting dicatat bahwa Hakim juga berhati-hati dalam memutus permohonan dispensasi kawin. Sebelumnya, Hakim menasihati orangtua supaya anaknya disekolahkan dulu atau dipesantrenkan. Hal tersebut demi masa depan anak supaya anak punya bekal hidup yang cukup. Sayangnya, nasihat itu hanya sekadar nasihat. Sebab para Pemohon tetap ingin menikahkan anaknya karena sudah terlanjur menetapkan tanggal pernikahan atau khawatir terjadi hal-hal yang dilarang agama bila nikahnya ditunda. Tidak sedikit juga karena si anak perempuan sudah hamil.

Fakta tersebut semakin mengafirmasi pentingnya mendidik anak secara lahir batin. Bahasa kalangan pesantren, perlu dengan tirakat (riyadhah). Dengan mendidik secara benar maka anak akan mengerti batasan mana yang boleh dan mana yang dilarang. Dengan pendidikan yang cukup, anak juga memiliki kemungkinan masa depan yang lebih cerah. Namun tidak dapat dimungkiri bahwa tidak semua orangtua mampu menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi. Pada akhirnya, boleh berhenti sekolah tetapi tidak boleh berhenti belajar. Belajar bisa dimana saja. Karena setiap tempat adalah madrasah. Dan sesiapa saja yang ditemu(i) adalah guru. Semoga! []

Keterangan:
Artikel ini sebelumnya telah terbit di Harian Malang Post, Sabtu, 14 Maret 2020. Secara online dapat pula dibaca melalui url berikut ini: (https://malang-post.com/berita/detail/mendidik-anak-dan-masa-depan).