Moderator Diskusi Pendidikan Karakter

Saya bersama Drs. Aden Wijdan SZ, M.Si. dan Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi, M.Si., Ruang Audiovisual Perpustakaan Pusat UII, Jumat (27/4/12)

LPM Pilar Demokrasi

Foto bersama setelah Diskusi Pendidikan Karakter bersama "Tempo", Jumat (27/4/12)

Ketep Pass, Magelang

Rihlah bersama Jama'ah Al-Faraby (JAF), Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Universitas Islam Indonesia

Visiting Wisuda

Wisuda adalah sebuah keniscayaan yang harus dilalui menjelang pernikahan

Gua Pindul, Gunung Kidul

Pindul itu "Pipi Kebendul", dan karenanya gua itu diberi nama [Edisi Konon]

Gua Cermei, Bantul-Gunung Kidul

Eksotisme itu tidak hanya berada di alam terbuka saja, bukan?

Kamis, 23 Agustus 2018

IDUL FITRI, MUDIK, DAN KEMENANGAN DIRI


Ketika mudik ke kampung halaman, ada beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan oleh penduduk kampung. Mulai dari pekerjaan di tanah rantau sampai—meskipun ini tidak selalu bermakna serius—perihal oleh-oleh yang dibawa. Pertanyaan tentang oleh-oleh ini sebenarnya mengingatkan kita tentang ‘mudik’ ke kampung akhirat. Bahwa di alam keabadian itu, kita pasti akan ditanya ‘oleh-oleh’ alias bekal apa yang dibawa dari tanah rantau dunia.

Mudik dalam konteks dunia hampir selalu terjadi pada momen Idul Fitri. Adapun mudik ke kampung akhirat hanya sekali saja terjadi. Mudik di dunia adalah sebuah pilihan dan terkadang menjadi ukuran keberhasilan. Berbeda dengan mudik abadi, ia adalah sebuah kepastian. Mau tidak mau, suka tidak suka, setiap kita pasti akan mengalaminya. Karenanya, kita yang terlatih menyiapkan oleh-oleh menjelang mudik Idul Fitri, semestinya harus lebih lihai menyiapkan bekal ‘mudik’ ke akhirat.

Mudik yang identik dengan Idul Fitri atau lebaran tersebut dengan demikian menjadi pengingat guna meraih kemenangan diri (keselamatan) di akhirat. Kemenangan diri di akhirat tersebut harus dimulai dengan kemenangan diri sejak di kampung dunia. Seperti sabda Rasulullah bahwa jihad yang lebih besar adalah jihad melawan diri sendiri. Maknanya, para pemenang itu adalah mereka yang berhasil mengalahkan segala hasrat negatif yang ada dalam dirinya.

Idul Fitri biasa ditandai barunya pakaian yang membaluti dan menghiasi tubuh. Baju baru juga menjadi salah satu oleh-oleh yang dibawa ketika mudik untuk dihadiahkan kepada orang tua, saudara, dan karib kerabat. Berbaju baru di kala Idul Fitri tersebut paling tidak sebagai upaya untuk tampil wajar dan pantas kala saling bertemu, bertamu, dan menerima tamu (Ishomuddin, 2018). Selain sebagai simbol kebaruan iman dan kesucian diri.

Dalam QS al-A’raf [6] ayat 26 difirmankan bahwa Allah telah menurunkan pakaian kepada anak cucu Adam guna menutup aurat dan sebagai perhiasan. Namun selanjutnya, masih di ayat yang sama disampaikan bahwa pakaian takwa itulah yang paling baik (wa libasut taqwa dzalika khair). Tanpa mengesampingkan perlunya pakaian baru Idul Fitri, ada pakaian yang lebih penting dan substansial. Itulah pakaian takwa.

Wujud pakaian takwa—diterangkan dalam Tafsir Jalalain—adalah amal kebajikan dan perilaku yang baik (al-‘amal ash-shalih wa as-sumtu al-hasan). Sejalan dengan itu, hasil tempaan selama bulan Ramadhan harus mampu terwujudkan di bulan-bulan selanjutnya. Dengan demikian, spirit Ramadhan tetap terpatri dalam diri sejak datangnya Idul Fitri sampai bertemu Ramadhan kembali dan bahkan hatta suatu saat harus ‘mudik’ ke kampung abadi. 

Kemenangan diri di hari nan fitri ini menjadikan kita—meminjam logika Cak Nun—bijak memposisikan mana isi (substansi) dan mana yang sekadar bungkus (kemasan). Kata Cak Nun, utamakan isinya serta tetaplah merawat bungkusnya dengan baik. Kata para bijak pandai, laisal ‘id li man labisal jadid wa lakinnal ‘id li man taqwahu yazid. Idul Fitri sejatinya bukan bagi mereka yang mengenakan baju baru. Tapi, bagi mereka yang kadar takwanya bertambah.

Samsul Zakaria, S.Sy., M.H., Calon Hakim di Pengadilan Agama (PA) Tanjung. Menyelesaikan studi Magister Hukum (MH) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dapat disapa lewat @samsul.zakaria

Note:
Sebelumnya artikel tersebut sudah diterbitkan di situs:
1. https://badilag.mahkamahagung.go.id/hikmah/publikasi/hikmah-badilag/idul-fitri-mudik-dan-kemenangan-diri-oleh-samsul-zakaria-s-sy-25-6
2. http://www.pa-tanjung.go.id/index.php?content=mod_artikel&id=27

Sabtu, 02 September 2017

BELAJAR DARI SITI HAJAR



Ibu, kasihmu terus bersinar
Kau ajarkan, baik dan juga benar
Akupun tahu, Allah Maha Besar
Bagiku, engkaulah Siti Hajar



Bila aku berlayar lalu datang angin sakal, Tuhan yang ibu tunjukkan telah aku kenal. Tulis KH. D. Zawawi Imran (budayawan asal Madura), dalam sajaknya yang berjudul ‘Ibu’. Penggalan puisi di atas adalah ekspresi salam ta’dzim sang penulis kepada ibunya yang telah melahirkannya. Ibu adalah wanita yang kasihnya begitu tulus. Ia berikan separuh jiwanya untuk buah hatinya. Sejak dalam kandungan, kita sudah begitu nyaman berada dalam lindungan ibu. Lalu, pernahkah kita berpikir, bagaimana kita membalas kasih tulus sang ibu?
            Anak adalah amanah Allah. Sementara orang tua adalah pemegang amanah besar tersebut. Menunaikan amanah dengan baik akan diganjar surga. Sedangkan menyia-nyiakan amanah adalah dosa besar. Itu pula yang menggambarkan kecintaan Siti Hajar kepada anaknya, Isma’il AS. Ia telah mengurusi Isma’il AS dengan segenap kemampuan. Namun ia sadar bahwa amanah itu adalah titipan. Titipan itu adalah milik Sang Penitip. Sang Penitip itu tiada lain adalah Allah SWT.
            Ketika Allah SWT memerintahkan Ibrahim AS untuk menyembelih putranya, Siti Hajar tidak sama sekali melayangkan protes. Sebagai ibu yang sangat menyayangi anaknya, ia (tetap) sadar bahwa pemilik Isma’il AS yang sejati hanyalah Allah. Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, ia merelakan Isma’il AS untuk dijadikan sesembelihan. Rasanya, sangat sukar menemukan Siti Hajar saat ini. Bagaimana mungkin seorang ibu tega (Jawa; tegel) melihat anaknya akan dibunuh, dan oleh bapaknya sendiri.
            Siti Hajar memang bukan wanita biasa. Ia adalah sosok wanita yang luar biasa. Wajar kalau kemudian anaknya, Isma’il AS, diangkat pula oleh Allah sebagai seorang nabi dan rasul. Siti Hajar telah mengajarkan kepada para ibu untuk bijak dalam menyikapi karunia Tuhan. Jangan sampai karena kecintaan kepada sang anak menjadikan manusia lupa akan kebesaran Ilahi. Ketika kita lebih mencintai dunia, termasuk sang anak, lebih dari cinta kita kepada Allah maka tunggulah keputusan-Nya. Itu karena Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS. at-Taubah [9]: 24).
            Konsistensi ketaatan kepada Allah sering kali harus berbenturan dengan kecintaan manusia kepada anak keturunannya. Itulah yang dialami oleh Siti Hajar, ibunda Isma’il AS. Benturan tersebut, sebenarnya, adalah ujian yang berat dari Allah SWT, kepadanya. Dalam kisahnya, Siti Hajar telah berhasil menunjukkan kepada Allah akan kemurnian taatnya, walaupun harus merelakan anak satu-satunya menjadi tebusannya. Sungguh luar biasa! Tentu kita mendambakan sosok Siti Hajar hadir di tengah-tengah kita.
            Sosok ibu adalah qudwah yang paling dekat bagi seorang anak. Dalam Islam, seorang anak idealnya disusui oleh ibunya selama kurun waktu 2 tahun. “Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna…” (QS. al-Baqarah [2]: 233). Ibu dengan penuh ketulusan, merelakan hari-harinya untuk bersanding-ria dengan buah hatinya. Selama 2 tahun, ibu memberikan air susunya untuk kelangsungan hidup sang anak. Sudah tidak diragukan lagi hikmah dari perintah ini. Kandungan gizi air susu ibu memang tidak pernah mampu tergantikan.
            Sejak anak dalam kandungan, sejatinya sudah mulai belajar akan arti kehidupan. Ia sudah dapat menangkap kondisi alam sekitar yang mengitarinya. Kemudian lahir ke dunia, menyapa alam semesta. Sang ibu menjadi pendampingnya yang begitu ramah. Ibu menyediakan segenap kebutuhan bagi buah hatinya. Lalu, bagaimana dengan ibu yang tega membunuh anaknya? Mungkin benar kata orang. “Semua ibu itu perempuan, tetapi perempuan itu belum tentu keibuan.” Ibu yang tega membunuh itu memang tetap seorang ibu, tetapi ia tidak memiliki jiwa keibuan. Na’ûdzubillah
Keteguhan Iman Siti Hajar
            Bagaimana Siti Hajar begitu yakin dengan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya. Padahal, Isma’il AS laksana buah hati belahan jiwa, baginya. Ibrahim AS dan Siti Hajar baru mendapatkan sang putra dalam usia yang tidak lagi muda. Setelah mendapatkan dambaan hatinya, Isma’il AS, justru Allah memerintahkan keduanya untuk menyembelihnya. Luar biasa kegundahan jiwa Ibrahim dan istrinya ketika itu.
            Siti Hajar digoda, setelah setan gagal menggoda Ibrahim AS dan Isma’il AS. Setan seolah berbisik, “Tidakkah kamu sayang kepada anakmu yang kamu bela berlari dari (bukit) Shafa dan Marwah untuk mencari air minum!” Atau, setan membisikkan, “Kamu seorang ibu yang tega membiarkan bapaknya yang tidak ikut merawat sejak bayi, tapi justru (akan) menyembelihnya ketika anak itu beranjak remaja.” (Fathurrofiq, Radar Jogja, 4/11/11).
            Seandainya Siti Hajar memrotes tindakan yang akan dilaksanakan Ibrahim AS, besar kemungkinan Ibrahim AS akan mengurungkan niatannya. Namun ternyata keimanan Siti Hajar begitu tangguh. Ia tidak sama sekali terbawa oleh bujukan setan. Ia kemudian mengumpulkan beberapa kerikil dan melemparkannya kepada setan. Itu sebagai pertanda akan ketaatan pada Tuhan dan upaya untuk mengindarkan diri dari godaan setan. Prosesi melempar setan yang dilakukan Ibrahim AS, Isma’il AS, dan Siti Hajar, diabadikan dalam syariat haji. Syariat itu yang dikenal dengan istilah melempar jumrah (ram’yu al-jumrah).
            Seorang ibu, selain harus taat kepada Allah, juga harus menanamkan ketauhidan kepada anaknya. Dengan tauhid, sang anak mengerti hakikat penciptaannya di dunia. Ia diciptakan tiada lain hanyalah untuk mengabdi kepada Allah SWT (QS. adz-Dzâriyât [51]: 56). Segala kebaikan yang dilakukan di dunia, termasuk berbakti kepada orang tua, adalah manifestasi dari pengabdian kepada Allah. Hal itu karena berbakti kepada orang tua adalah perintah Allah SWT dalam kitab suci-Nya (QS. al-Isrâ’ [17]: 23).
Zam-zam sebagai Kenangan
            Kisah Siti Hajar, memberikan pelajaran yang berharga bagi umat manusia. Siti Hajar adalah ibu yang begitu sayang dan cinta kepada anaknya, Isma’il AS. Ia rela berlari-lari kecil untuk mencari air, demi menghilangkan dahaga putranya. Sementara ia juga sedang merasakan hal yang sama. Namun yang terpikirkan kala itu adalah bagaimana Isma’il AS bisa meminum air. Antara Shafa dan Marwah, Siti Hajar berlarian sebanyak 7 kali. Hanya fatamorgana (sarâb) yang menjadikannya yakin akan adanya air. Tetapi sebanyak 7 kali bolak-balik, ia tetap gagal mendapatkan air.
            Akhirnya, Allah menunjukkan kepadanya, bahwa dengan menghentakkan kaki maka akan keluar air. Sumber air itulah yang sampai saat ini tidak pernah berhenti memancarkan air. Ia terus mengalir, menjadi sumber kehidupan bagi umat manusia, khususnya penduduk Mekah, dan tentunya jamaah haji. Kita juga sadar begitu berharganya air dalam kehidupan. “… Dan Kami Jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS. al-Anbiyâ’ [21]: 30).
            Ternyata perjuangan Siti Hajar, tidaklah sia-sia. Manfaat dari usaha kerasnya dikenang sepanjang masa. Tidak pernah termakan usia. Itu karena zam-zam menjadi air kehidupan yang juga berguna untuk sebagai obat penyembuhan pelbagai penyakit. Singkat kata, air zam-zam yang pernah kita teguk adalah berkat perjuangan Siti Hajar. Pelajaran berharga dari kisah ini adalah, bagaimana seorang ibu di masa kini, berperan aktif dalam kehidupan. Sehingga perannya akan terkenang sepanjang masa.
Siti Hajar dan Peran Wanita
            Ustadzah Khofifah Indar Parawansa (juri kontes dai muda ANTV), menyadari bahwa peran wanita yang begitu kuat dalam lintasan sejarah Islam, tidak banyak diungkap. Para dai/muballigh, nampaknya belum akrab untuk mengobarkan kisah perjuangan heroik wanita yang patut dijadikan teladan. Padahal seharusnya, banyak kisah yang dapat dieksplorasi lebih jauh, termasuk kisah Siti Hajar yang luar biasa inspiratif. Sehingga, wanita dapat ditempatkan secara proporsional dalam kehidupan sosial.
            Siti Hajar adalah wanita, istri, ibu yang berhasil menemani dakwah suaminya. “Di sebelah lelaki sukses, ada seorang wanita yang mendampingi, dan wanita itu adalah istrinya,” tulis Ahmad Rifa’i Rif’an dalam bukunya. Hal itu menggambarkan bahwa suksesnya perjuangan Nabi Ibrahim AS tidaklah lepas dari hadirnya Siti Hajar dalam kesehariannya. Dalam hal ini, ibu adalah partner sang ayah yang terus memompa semangat juang untuk berbuat baik demi kemaslahatan umat manusia. Semoga hal ini membukakan mata hati untuk tidak menomorduakan peran wanita dalam kehidupan.
            Kisah Siti Hajar menyadarkan kita akan besarnya peran seorang ibu. Di mana ibu si saat yang sama harus mengabdi kepada ayah (suaminya) dan berkewajiban untuk mengurusi sang anak. Kita paham bahwa berbakti kepada orang tua, khususnya ibu, adalah sangat mulia. Pertanyaan penting, kapan terakhir kali kita berdoa untuk ibu kita? Tulisan ini memotivasi kita untuk menyayangi ibu, walau “sayang” itu tidak akan dapat menebus budi baik dan jasanya. Semoga! Allahumma ighfirlanâ wa liwâlidînâ warhamhum kamâ rabbawnâ shighârâ. Âmîn. Wallâhu a’lamu bi ash-shawâb. []

Samsul Zakaria, S.Sy.,
Staf Program Studi Ahwal Syakhshiyah (PSAS)
Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII Yogyakarta


Note: Pernah diterbitkan oleh Buletin Jumat al-Rasikh Kampus UII pada akhir 2011 lalu.

Kamis, 27 April 2017

SEJUTA ALASAN BERSYUKUR

Mensyukuri perjumpaan istimewa dengan Dubes RI untuk Qatar, Rabu (12/04/2017).


Ada sejuta alasan untuk bersyukur. Bila kacamatanya bukan semata materi yang serba terukur. Atas segenap ujian yang Allah berikan, banyak sisi positif yang bisa kita temukan. Ini bukan masalah musibah yang menimpa, tetapi tentang cara kita menyikapinya. •

Petuah bijak menuturkan, "Hidup yang kau keluhkan adalah hidup yang orang lain inginkan." Dari situ semestinya kita menyadari. Hidup yang kita ingini boleh jadi adalah hidup yang orang lain hindari. Jadi, kalau memang mendamba, syukuri dahulu apa yang saat ini kita punya. •

Petuah di atas cukup mudah kita qiyaskan. Diantara kita mungkin ada yang tidak sejalan dengan pasangan hidup kita. Padahal, "Pasangan hidup yang kau keluhkan adalah pasangan hidup yang orang lain inginkan." So, bukankah semakin indah hidup ini bila kita menghikmati apa yang sudah dimiliki? Bersama-sama belajar: belajar sadar diri, belajar memahami, belajar mengerti, belajar melengkapi, belajar saling menerangi jalan sunyi menuju ridha Ilahi. •

Tidak sedikit yang kesal dengan buah hatinya sendiri. Sementara, "Anak yang kau keluhkan adalah anak yang orang orang lain inginkan." Bila anak nakal, yang dilihat bukan nakalnya saja. Tetapi kemurahan Allah yang masih mengamanahkan anak dan memberi kesempatan untuk belajar dari kenakalannya. •

Cukup banyak yang menyesalkan sikap orang tuanya hingga berkurang rasa hormat pada keduanya. Kalau direnungi, "Orang tua yang kau keluhkan adalah orang tua yang orang lain inginkan." Seringkali yang ada tidak terasa nilainya hingga lupa mensyukurinya. Nanti, kalau yang ada sudah tiada yang tersisa hanya sesalnya. •

Terakhir kali, teruntuk orang-orang spesial yang membersamai perjalanan panjangku. Aku ucapkan terima kasih atas segenap cinta dan kebaikan yang dicurahkan. Untuk ayah ibundaku, isteri tercintaku, adik-adikku, saudara-saudaraku, sahabat-sahabat dan teman-temanku, mereka yang menyebut-nyebutku dalam doa tulusnya, dan semua yang tidak mungkin aku sebutkan satu-persatu. •

Ya Allah, sayangilah mereka. Izinkan aku selalu belajar dari mereka dan terus mensyukuri kehadiran mereka. Maafkanlah aku bila seringkali mengeluhkan mereka atau mengeluh karena mereka. Ya Allah, rahmatilah kami semua. •

Ka' Sams, 
Bandara Radin Inten II,
Selasa, 18/04/17

Selasa, 23 Februari 2016

‘BELAJAR MENIKAH’

Source of picturehttp://blog.happyislam.com/post/117754875172/bolehkah-seorang-ayah-melarang-putrinya-menikah

Sebab suatu saat, yang memberimu coklat akan kalah telak dengan yang memberimu seperangkat alat shalat.” (Anonim)

Seorang kawan dekat tiba-tiba curhat terkait dengan satu episode penting hidupnya. Hal itu menyangkut masa depannya puluhan tahun mendatang. Ibu dari teman perempuannya—tanpa disangka—menelfonnya. Mengabarkan bahwa kakak perempuan dari teman perempuan kawan saya itu akan menikah tahun depan, Mei 2016. Seiring dengan itu, sang ibu meminta teman saya untuk sekalian menikahi putrinya. Tidak main-main, akad dan resepsi mereka akan dibarengkan dengan kakak si perempuan.
                Mendengar curhatan tersebut, saya langsung menanggapi. Bahwa itu adalah peluang langka. Karena itu, saya beranikan kawan saya untuk mengiyakan. Kawan saya boleh tidak yakin dengan dirinya sendiri. Tetapi keyakinan calon ibu mertuanya tidak pantas dikesampingkan. Kalau calon mertua saja sudah percaya untuk menjadikannya menantu maka semestinya dia juga siap membuktikan bahwa dirinya mampu. “Tapi saya masih belum jelas nasibnya,” kilahnya. “Yakin! Dan berpikir yang mudah dulu,” saran saya menguatkan.
                Malam itu sesungguhnya kami sedang duduk bertiga. Seorang kawan lagi lebih banyak mendukung ucapan saya. Bahkan malam itu juga kami berjanji. “Kalau kamu jadi nikah Mei nanti in sya Allah kami akan datang ke Padang,” ucap kami penuh dengan keyakinan. Sebenarnya kami juga tidak punya gambaran pasti tentang ongkos dan uang saku ke Padang. Tetapi itu bukan masalah yang cukup penting. Kami berpikir optimistis dan ambil mudahnya. Dan lebih penting lagi supaya kawan kami yakin untuk menikah.
                Malam itu pula saya banyak bercerita tentang pengalaman saya berumah tangga. Meskipun masih seumur jagung (kurang dari 2 tahun) setidaknya bisa menjadi motivasi bagi kawan saya itu. “Menikah itu adalah pilihan,” ujar saya. Menikah setelah kita mapan itu baik. Namun siap dan berani menikah (se)saat (se)belum mapan tidak kalah baik. Sebab, syarat menikah itu bukan bagi mereka yang sudah siap-sedia untuk menafkahi. Tetapi bagi mereka yang siap untuk mencari atau mengusahakan nafkah.
                Menikah dalam suasana harus berjuang keras bersama sungguh nikmat tiada terkira. Justru di saat seperti itu komitmen cinta diuji, kesetiaan dan kesabaran menjadi taruhannya. Suka dan duka dilalui bersama dalam ikatan yang suci. Kalau hidup (serba) susah saja siap dan sudah biasa maka in sya Allah akan lebih siap kalau bisa hidup senang. Disamping memang susah dan senang itu ibarat putaran roda yang dipergilirkan. Kalau sekarang susah itu pertanda bahwa ‘sebentar’ lagi akan senang, dan sebaliknya.
                Kenikmatan itu sendiri tidak semata berwujud materi. Di samping itu, nikmat dan tidaknya hidup berumah tangga bergantung bagaimana kedua pasangan menyikapi. Kondisi sulit sekalipun kalau benar penyikapannya menjadi nikmat. Sebab ada pembelajaran yang luar biasa dalam sulitnya hidup. Ada kenikmatan tersendiri yang mungkin tidak didapat dikala senang menyapa. Selain itu, sulitnya awal pernikahan justru menjadi kenangan manis suatu saat nanti. Kita pun menjadi lebih banyak bersyukur saat rezeki datang tanpa diduga.
                Menikah itu adalah babak baru kehidupan manusia. Dengan menikah, seorang muslim telah menyempurnakan separuh agamanya. Dia akan membuktikan bahwa cinta yang benar-benar nikmat dan menenangkan itu adalah yang setelah akad, bukan sebelumnya. Dia akan mampu membedakan mana pemberian yang apa adanya (kepada isteri) dan yang ada apanya (sebelum menjadi isteri). “Bismillah... Jangan sia-siakan kepercayaan calon ibu mertuamu,” tutup saya tetap memotivasi.
Proses Belajar
Banyak yang takut menikah karena terlalu banyak berpikir yang sulit-sulit dalam rumah tangga. Memang banyak yang tidak segera menikah bukan karena takut. Namun karena pertimbangan dan perhitungan yang matang. Tetapi yang sering terjadi adalah yang pertama. Khawatir akan makan apa, mau tinggal dimana, dan seterusnya. Padahal yang dimakan oleh mereka yang sudah menikah dan belum menikah adalah sama, yaitu nasi. Yang ditempati juga sama yaitu tempat singgah, baik yang mewah atau yang paling sederhana.
Jadi, kalau memang sudah ada keinginan, apalagi ada tawaran langka seperti didapati kawan saya, harus memantapkan diri. Kesempatan tidak datang dua kali. Sekali melewatkan peluang emas kita akan kehilangan selamanya. Mungkin akan datang peluang serupa tetapi tetap tidak sama, karena waktu hanya melalui satu titik sekali saja. Dalam konteks ini, pikiran-pikiran yang tidak-tidak mesti dibuang jauh-jauh. Perkara paling mudah sedunia sekalipun kalau dilihat dari dimensi sulitnya akan menjadi sukar ditempuh.
Masalah lain dari mereka yang khawatir untuk menikah ialah anggapan bahwa menikah adalah the ultimate goal (tujuan akhir).Walhasil, baru mau menikah kalau semuanya sudah siap-sedia. Sementara menikah adalah awal proses pembelajaran. Dalam pernikahan itu, kedua pasangan terus sama-sama belajar sampai maut memisahkan mereka. Oleh karena itu, “Jangan sekali-kali menganggap akad itu sebagai tujuan paripurna,” saran dosen saya. Jadikan akad nikah sebagai awal untuk saling belajar bersama suami/isteri tercinta.
Katakanlah seorang telah menikah 10 tahun. Kalau dalam waktu itu, suami masih menganggap sang isteri seperti awal menikah tentu tidak pas. Sebab, dengan begitu isteri seolah tetap sosok asing seperti awal berumah tangga. Sementara, isteri telah berproses dan menjelma menjadi sosok yang telah banyak berubah. Hal yang sama juga semestinya tidak dilakukan oleh isteri terhadap suaminya. Durasi pernikahan yang cukup lama harus menjadikan mereka lebih banyak mengerti dan memahami. Demikian nasehat dosen saya.
Problem lain dari hidup bersama dalam bingkai pernikahan adalah tentang ‘keinginan’ kita terhadap pasangan. Banyak suami yang memaksakan isterinya untuk menjadi dan bersikap seperti yang diinginkannya. Sementara seorang isteri juga memiliki hak untuk sesekali—atau banyak kali—menjadi dirinya sendiri. Sepanjang hal itu tidak menentang syari’at sebaiknya suami belajar untuk menghargai. Demikian pula isteri terhadap suaminya. Saling memberi masukan itu baik tetapi tidak dalam konteks memaksa.
Betapapun demikian, tetap penting ada hal-hal yang disepakati untuk menjadi values bersama dalam keluarga. Disinilah pentingnya komunikasi, musyawarah, atau rembugan. Komunikasi ini juga penting untuk menjaga keharmonisan dalam rumah tangga. Ending-nya, keputusan yang diambil bukan semata menguntungkan satu pihak. Tetapi menguntungkan kedua belah pihak atau paling tidak dapat diterima keduanya. Komunikasi juga bermakna bahwa ‘dua sayap’ (suami dan isteri) sedang bergerak bersama untuk tujuan yang mulia.
Dosen yang banyak memberikan pelajaran tentang pernikahan di atas pernah bercerita. Ada pasangan yang berkonsultasi dengannya tentang konflik rumah tangganya. Sang isteri mengeluh karena sudah lama menikah namun sang suami tidak jua mengerti kemauannya. Kemudian dosen saya menimpali. “Apakah Ibu sudah mengutarakan langsung keinginan Ibu?” tanyanya. “Ya seharusnya dia tahu,” jawabnya. Seharusnya tahu tetapi nyatanya tidak tahu atau tidak paham.
Inilah—sekali lagi—pentingnya komunikasi dalam keluarga. Bahwa tidak semua suami atau isteri itu ‘ahli kebatinan’. Maksudnya, bisa membatin atau mengerti apa yang dimaui pasangan. Ada kalanya mengerti karena belajar dari pengalaman dan kebiasaan. Namun sering pula tidak mengerti kalau pasangan tidak mengomunikasikannya secara verbal. Karena itu tidak selaiknya langsung berburuk sangka kalau kemauan tidak dimengerti pasangan. Barangkali dia ingin kita membisikan keinginan kita itu dengan lembut nan mesra.
‘Belajar Menikah’
                Dengan demikian jelas bahwa menikah itu sebenarnya adalah wasilah untuk lebih banyak belajar. Tegasnya, awal proses pembelajaran bersama pasangan hidup tercinta. Bahwa perintah belajar itu tidak terhenti di ruang kelas, tidak lantas berakhir saat kita sudah menyelesaikan satu tugas. Justru belajar itu adalah proses (pemaknaan) yang terus-menerus, integratif, dan tidak terbatas. Termasuk ketika seseorang sudah menikah. Dia belajar memahami pasangan hidupnya dan belajar memposisikan dirinya.
                Belajar menikah tidak kemudian dimaknai coba-coba menikah. Sebab pasangan hidup bukan kelinci percobaan. Menikah harus disertai kemantapan hati untuk hidup bersama selamanya demi meraih ridha-Nya. Bersamanya hati menjadi lebih teguh bahwa surga menjadi lebih mungkin untuk direngkuh. Ditambah dengan ketika putra/putri telah Allah amanahkan sebagai buah dari cinta yang mulia. Kala itu pula, proses belajar menjadi lebih kompleks nan dinamis. Sebab mendidik anak juga butuh ilmu yang tidak cukup seadanya.
                Belajar menikah tidak bermakna ‘mencoba-coba’ sebelum ada ikatan yang sah. Sebab lekaki sejati bukan yang rajin memberi coklat. Namun saat ditanya kapan mau melamar tidak menjawab dengan tepat dan cepat. Lelaki sejati adalah yang dengan ‘seperangkat alat shalat’ siap melangsungkan akad. Dia tidak merasa sempurna. Dia hanya ingin saling menyempurnakan dengan niat mulia berumah tangga. Dia berpikir cepat, mengambil langkah tepat. Bersama isteri, belajar membangun bahagia hatta akhirat. Wallahu a’lamu. []

Samsul Zakaria, S.Sy.,
Mahasiswa S-2 UIN Sunan Kalijaga,
Staf Program Studi Hukum Islam FIAI UII

Diterbitkan ulang dari: http://masjidulilalbab.com/web/detail/54

Sabtu, 31 Oktober 2015

SUKSES



Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (amal shalih), untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. al-Kahfi [18]: 107)

Source: www.beritainfo.web.id
Hampir dapat dipastikan bahwa semua manusia ingin sukses. Ada yang begitu kuat menginginkannya, ada yang biasa-biasa saja. Diantara yang kuat inginnya tersebut ada yang gigih upayanya, ada pula yang biasa-biasa saja. Dari yang gigih upayanya itu, ada yang terus istiqāmah berjuang dan bangkit ketika jatuh, ada juga yang tersungkur tidak ma(mp)u bangun lagi. Intinya, semua orang ingin sukses namun masing-masing berbeda dalam menyikapi dan mengupayakan kesuksesan.
    
Ibarat sebuah bangunan, sukses berawal dari fondasi yang kokoh. Di atas fondasi itu, berdirilah tiang-tiang yang kemudian dikonstruksi sedemikian rupa menjadi bangunan. Bangunan tanpa fondasi akan segera runtuh. Sementara fondasi tanpa bangunan di atasnya tidak bermakna apa-apa. Keduanya saling melengkapi dan mengenapi, saling menopang dan menguatkan. Kebersatuan yang solid itulah yang selanjutnya menghadirkan kesuksesan. Sukses dalam arti yang sesungguhnya bukan yang ala kadarnya.
    
Setiap manusia telah memiliki modal untuk menjadi sukses. Masalahnya adalah bagaimana dia menggunakan modalitasnya untuk menjemput kesuksesan tersebut. Laksana jodoh, sukses itu ada di tangan Tuhan. Namun kalau tidak diambil, tidak dijemput, maka akan tetap di tangan Tuhan. Jadi, untuk sukses perlu usaha keras, tidak cukup hanya berpangku tangan. Kehidupan ini adalah modal yang tidak ternilai dari Allah. Kita diminta memaksimalkannya untuk meraih sukses.
 
Konon, seorang pemuda mengeluh tidak punya modal untuk usaha. Seorang pengusaha sukses yang dicurhatinya kemudian bertanya padanya. “Satu dengkulmu (baca: lutut), boleh saya beli setengah milyar?” tanya pengusaha sukses itu. “Tentu tidak boleh, Tuan,” jawab pemuda. “Kalau begitu, berusahalah! Dengan dua dengkulmu berarti Engkau punya modal 1 milyar!” perintahnya menyemangati. Sungguh, sejak lahir kita telah memiliki modal yang tiada ternilai dari Allah. Dua lutut saja 1 milyar, belum yang lain-lain.
 
Untuk menjadi sukses pertama-tama berangkat dari keyakinan. Mereka yang meyakini dirinya akan sukses maka sukses itu akan lebih dekat dengannya. Sementara mereka yang membayangkan sukses saja takut maka sukses pun akan takut mendekatinya. Benar bahwa banyak yang tidak menyangka akan sukses namun ternyata benar-benar sukses. Namun yang ideal adalah menjadi pribadi yang optimistis dan yakin sejak dalam hati. Allah telah memberi kita amanah hidup, itu artinya Allah percaya kita siap menjadi sukses.
 
Lalu apakah cukup hanya dengan keyakinan? Tentu saja tidak. Setelah yakin ada step-step penting yang harus dilalui. Kalau sekadar yakin maka manusia tidak ubahnya hanya menjadi “generasi wacana”. Generasi wacana, seperti diutarakan Prof. Rhenald Kasali, hanya sibuk berwacana namun tidak melakukan aksi nyata dan takut mengambil keputusan. Karenanya, keyakinan harus dibarengi dengan kegigihan dalam berbuat. Keyakinan juga menghantarkan kita pada pilihan-pilihan hidup yang tepat.
 
Bagi mereka yang sudah “nyaman” dengan prestasi di kampung halamannya mungkin takut bersaing di level yang lebih menantang. Namun pribadi sukses harus berani mengambil langkah yang visioner. Dunia tak selabar daun kelor, harus berani bersaing dan semangat tidak boleh kendor. Para alim telah mengajarkan kita. “Sāfir tajid ‘iwadhan ‘amman tufāriquhu!” Pergilah! Engkau akan mendapatkan ganti dari apa yang kau tinggalkan. Berani sukses berarti berani mencoba hal yang baru.
 
Dalam menuju sukses tersebut seringkali manusia harus jatuh-bangun. Namun yang harus disadari bahwa gagal karena bertindak jauh lebih baik daripada tidak pernah gagal karena enggan berbuat. Tidak penting seberapa sering Engkau terjatuh. Terpenting adalah seberapa mampu Engkau bangkit dari jatuhmu. Kaum bijak pandai menasihatkan, “Berhasil menyikapi kegagalan lebih baik daripaya gagal dalam menyikapi keberhasilan.” Orang sering bilang, hakikat kegagalan adalah sukses yang masih tertunda.
 
Sukses itu parameternya berbeda-beda. Kalau kita bertanya arti sukses (ma huwa sukses?) kepada banyak orang, pasti jawabannya bermacam-macam. Harus diingat bahwa sebagai seorang muslim terminal kehidupan ini bukan sebatas kematian. Namun ada “alam” yang lebih meneduhkan dan menjanjikan. Oleh karena itu, sudahkah (harapan) sukses kita itu berorientasi pada kebahagiaan di alam tersebut? Sementara doa yang kita panjatkan sangat jelas dan lugas. Bukan hanya hasanah di dunia tetapi juga hasanah di akhirat.
 
Kita ingat betul bagaimana Rasulullah mengakhiri hayatnya. Apa yang terucap terakhir kali dari lisannya yang begitu mulia? Dia tidak mengkhawatirkan putrinya. Juga tidak sedang merisaukan isteri-isterinya. Dia terus memikirkan umatnya dan itu adalah termasuk kita. “Ummatiy, ummatiy, ummatiy...,” ucapnya lirih. Rasulullah mengajarkan bahwa sukses itu kalau kita juga mampu menyukseskan orang lain, meng-hasanah-kan banyak pihak. Khairun an-nāsi anfa’uhum li an-nāsi...
 
Sukses=Surga
Mulai awal Oktober 2015 ini, Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) meluncurkan Training Islamic Character Building (ICB) untuk mahasiswa baru. Training ini didesain untuk membentuk karakter mahasiswa baru UII. Materi training dirancang supaya lebih mudah dimengerti dan dipraktikkan oleh mahasiswa. Mulai dari Komitmen Tauhid, Komitmen Ibadah, Komitmen Akhlak, dan terakhir Komitmen Sukses.
    
Saya sendiri sepakat dengan penambahan “komitmen” di setiap materi. Komitmen itu juga berarti istiqāmah (kontinuitas). Mahasiswa UII diharapkan mampu mempertahankan tauhidnya, menjaga ibadah dan akhlaknya, serta terus mengobarkan semangat suksesnya. Selama 2 kali mendampingi Trainer “Komitmen Sukses”, Drs. H. Imam Mudjiono, M.Ag., saya merasa perlu berbagi inti materi tersebut lewat tulisan ini. Sebab, materi tersebut sangat relevan bagi setiap umat muslim.
    
Sukses dalam konteks religiusitas kita dapat dimaknai sebagai surga atau al-jannah. Pribadi yang sukses pada akhirnya adalah yang berhasil memasuki pintu surga. Sehebat apapun seseorang di dunia kalau tidak “sukses” di akhirat maka merugilah dia. Walaupun tetap untung masih bisa bahagia di dunia. Repotnya adalah kalau di dunia sengsara di akhirat menderita. Oleh karena itu, supaya “sukses”nya ganda alias double harus dipelajari bagaimana tips untuk meraihnya.
    
Beberapa ayat al-Qur’an, contohnya QS. al-Kahfi ayat 107 di atas, menggambarkan bahwa syarat sukses itu 2 (dua). Pertama adalah iman; percaya dan yakin. Dalam bahasa yang biasa dipopulerkan Pak Imam—begitu dia biasa disapa—, iman itu semisal dengan belief. Keimanan yang kuat mendasari kesuksesan manusia di akhirat nanti dan tentu saja di dunia. Kalau iman ini tidak dijaga maka umpama pergi naik pesawat, yang bersangkutan tidak memiliki tiketnya.
    
Kedua adalah amal shalih (berbuat baik). Amal shalih ini adalah buah dari keimanan. Sebagaimana uraian di atas bahwa iman (keyakinan) adalah fondasi dan amal shalih adalah bangunan di atasnya. Iman dan amal shalih saling mengisi dan menyempurnakan. Iman yang tidak diwujudkan dalam amal shalih ibarat pohon yang tidak berbuah. Sementara amal shalih yang tidak dilandasi iman akan sia-sia dan tertolak. Kedua hal ini yang harus menjadi pedoman dan pegangan hidup umat muslim.
    
Amal shalih dalam bahasa Pak Imam disebut dengan positive energy (energi positif). Amal shalih atau positive energy tersebut dengan dilandasi iman yang kuat harus ditujukan semata-mata untuk meraih keridhaan Allah. Kalau sudah demikian maka keduanya akan menghantarkan kita menuju surga-Nya Allah di akhirat sana. Keduanya harus dipelihara secara konsisten dan penuh komitmen. Sebab iman dan amal shalih tidak dinilai secara periodik dan parsial namun terus menerus sampai datangnya ajal.
   
Dalam firman-Nya Allah telah menegaskan. “Sungguh,” serunya, “orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (amal shalih), untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” Indah sekali janji Allah bagi hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih. Dengan iman, belief, keyakinan yang kuat dan amal shalih yang nyata serta berkesinambungan kita dapat “sukses” di hadapan Allah. Mereka yang iman dan amalnya baik pun sejatinya sudah sukses sejak di dunia.
 
Hasanah fi ad-Dārain 
Sukses ialah dambaan setiap manusia. Lazimnya, yang mendamba mengupayakan apa yang didamba(kan)nya. Sukses dunia memang tidak salah namun sukses hakiki bukan semata duniawi kacamatanya. Sukses dunia itu mulia kalau mampu menghantarkan pada kesuksesan di akhirat nantinya. Dunia tempat menanam, di akhirat kita mengetam. Apapun bentuk sukses dunia harus dibenamkan, ditanam dalam-dalam, supaya yang hadir adalah katawadhuan. Hatta di akhirat kita raih sebenar-benar kesuksesan. Wallāhu a’lamu. []

Samsul Zakaria, S.Sy.,
Mahasiswa S-2 UIN Sunan Kalijaga,
Staf Program Studi Hukum Islam FIAI UII

Telah terbit di Buletin Jumat DPPAI UII Yogyakarta, Al-Rasikh, Jumat (30/10/2015)