Moderator Diskusi Pendidikan Karakter

Saya bersama Drs. Aden Wijdan SZ, M.Si. dan Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi, M.Si., Ruang Audiovisual Perpustakaan Pusat UII, Jumat (27/4/12)

LPM Pilar Demokrasi

Foto bersama setelah Diskusi Pendidikan Karakter bersama "Tempo", Jumat (27/4/12)

Ketep Pass, Magelang

Rihlah bersama Jama'ah Al-Faraby (JAF), Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Universitas Islam Indonesia

Visiting Wisuda

Wisuda adalah sebuah keniscayaan yang harus dilalui menjelang pernikahan

Gua Pindul, Gunung Kidul

Pindul itu "Pipi Kebendul", dan karenanya gua itu diberi nama [Edisi Konon]

Gua Cermei, Bantul-Gunung Kidul

Eksotisme itu tidak hanya berada di alam terbuka saja, bukan?

Kamis, 27 April 2017

SEJUTA ALASAN BERSYUKUR

Mensyukuri perjumpaan istimewa dengan Dubes RI untuk Qatar, Rabu (12/04/2017).


Ada sejuta alasan untuk bersyukur. Bila kacamatanya bukan semata materi yang serba terukur. Atas segenap ujian yang Allah berikan, banyak sisi positif yang bisa kita temukan. Ini bukan masalah musibah yang menimpa, tetapi tentang cara kita menyikapinya. •

Petuah bijak menuturkan, "Hidup yang kau keluhkan adalah hidup yang orang lain inginkan." Dari situ semestinya kita menyadari. Hidup yang kita ingini boleh jadi adalah hidup yang orang lain hindari. Jadi, kalau memang mendamba, syukuri dahulu apa yang saat ini kita punya. •

Petuah di atas cukup mudah kita qiyaskan. Diantara kita mungkin ada yang tidak sejalan dengan pasangan hidup kita. Padahal, "Pasangan hidup yang kau keluhkan adalah pasangan hidup yang orang lain inginkan." So, bukankah semakin indah hidup ini bila kita menghikmati apa yang sudah dimiliki? Bersama-sama belajar: belajar sadar diri, belajar memahami, belajar mengerti, belajar melengkapi, belajar saling menerangi jalan sunyi menuju ridha Ilahi. •

Tidak sedikit yang kesal dengan buah hatinya sendiri. Sementara, "Anak yang kau keluhkan adalah anak yang orang orang lain inginkan." Bila anak nakal, yang dilihat bukan nakalnya saja. Tetapi kemurahan Allah yang masih mengamanahkan anak dan memberi kesempatan untuk belajar dari kenakalannya. •

Cukup banyak yang menyesalkan sikap orang tuanya hingga berkurang rasa hormat pada keduanya. Kalau direnungi, "Orang tua yang kau keluhkan adalah orang tua yang orang lain inginkan." Seringkali yang ada tidak terasa nilainya hingga lupa mensyukurinya. Nanti, kalau yang ada sudah tiada yang tersisa hanya sesalnya. •

Terakhir kali, teruntuk orang-orang spesial yang membersamai perjalanan panjangku. Aku ucapkan terima kasih atas segenap cinta dan kebaikan yang dicurahkan. Untuk ayah ibundaku, isteri tercintaku, adik-adikku, saudara-saudaraku, sahabat-sahabat dan teman-temanku, mereka yang menyebut-nyebutku dalam doa tulusnya, dan semua yang tidak mungkin aku sebutkan satu-persatu. •

Ya Allah, sayangilah mereka. Izinkan aku selalu belajar dari mereka dan terus mensyukuri kehadiran mereka. Maafkanlah aku bila seringkali mengeluhkan mereka atau mengeluh karena mereka. Ya Allah, rahmatilah kami semua. •

Ka' Sams, 
Bandara Radin Inten II,
Selasa, 18/04/17

Selasa, 23 Februari 2016

‘BELAJAR MENIKAH’

Source of picturehttp://blog.happyislam.com/post/117754875172/bolehkah-seorang-ayah-melarang-putrinya-menikah

Sebab suatu saat, yang memberimu coklat akan kalah telak dengan yang memberimu seperangkat alat shalat.” (Anonim)

Seorang kawan dekat tiba-tiba curhat terkait dengan satu episode penting hidupnya. Hal itu menyangkut masa depannya puluhan tahun mendatang. Ibu dari teman perempuannya—tanpa disangka—menelfonnya. Mengabarkan bahwa kakak perempuan dari teman perempuan kawan saya itu akan menikah tahun depan, Mei 2016. Seiring dengan itu, sang ibu meminta teman saya untuk sekalian menikahi putrinya. Tidak main-main, akad dan resepsi mereka akan dibarengkan dengan kakak si perempuan.
                Mendengar curhatan tersebut, saya langsung menanggapi. Bahwa itu adalah peluang langka. Karena itu, saya beranikan kawan saya untuk mengiyakan. Kawan saya boleh tidak yakin dengan dirinya sendiri. Tetapi keyakinan calon ibu mertuanya tidak pantas dikesampingkan. Kalau calon mertua saja sudah percaya untuk menjadikannya menantu maka semestinya dia juga siap membuktikan bahwa dirinya mampu. “Tapi saya masih belum jelas nasibnya,” kilahnya. “Yakin! Dan berpikir yang mudah dulu,” saran saya menguatkan.
                Malam itu sesungguhnya kami sedang duduk bertiga. Seorang kawan lagi lebih banyak mendukung ucapan saya. Bahkan malam itu juga kami berjanji. “Kalau kamu jadi nikah Mei nanti in sya Allah kami akan datang ke Padang,” ucap kami penuh dengan keyakinan. Sebenarnya kami juga tidak punya gambaran pasti tentang ongkos dan uang saku ke Padang. Tetapi itu bukan masalah yang cukup penting. Kami berpikir optimistis dan ambil mudahnya. Dan lebih penting lagi supaya kawan kami yakin untuk menikah.
                Malam itu pula saya banyak bercerita tentang pengalaman saya berumah tangga. Meskipun masih seumur jagung (kurang dari 2 tahun) setidaknya bisa menjadi motivasi bagi kawan saya itu. “Menikah itu adalah pilihan,” ujar saya. Menikah setelah kita mapan itu baik. Namun siap dan berani menikah (se)saat (se)belum mapan tidak kalah baik. Sebab, syarat menikah itu bukan bagi mereka yang sudah siap-sedia untuk menafkahi. Tetapi bagi mereka yang siap untuk mencari atau mengusahakan nafkah.
                Menikah dalam suasana harus berjuang keras bersama sungguh nikmat tiada terkira. Justru di saat seperti itu komitmen cinta diuji, kesetiaan dan kesabaran menjadi taruhannya. Suka dan duka dilalui bersama dalam ikatan yang suci. Kalau hidup (serba) susah saja siap dan sudah biasa maka in sya Allah akan lebih siap kalau bisa hidup senang. Disamping memang susah dan senang itu ibarat putaran roda yang dipergilirkan. Kalau sekarang susah itu pertanda bahwa ‘sebentar’ lagi akan senang, dan sebaliknya.
                Kenikmatan itu sendiri tidak semata berwujud materi. Di samping itu, nikmat dan tidaknya hidup berumah tangga bergantung bagaimana kedua pasangan menyikapi. Kondisi sulit sekalipun kalau benar penyikapannya menjadi nikmat. Sebab ada pembelajaran yang luar biasa dalam sulitnya hidup. Ada kenikmatan tersendiri yang mungkin tidak didapat dikala senang menyapa. Selain itu, sulitnya awal pernikahan justru menjadi kenangan manis suatu saat nanti. Kita pun menjadi lebih banyak bersyukur saat rezeki datang tanpa diduga.
                Menikah itu adalah babak baru kehidupan manusia. Dengan menikah, seorang muslim telah menyempurnakan separuh agamanya. Dia akan membuktikan bahwa cinta yang benar-benar nikmat dan menenangkan itu adalah yang setelah akad, bukan sebelumnya. Dia akan mampu membedakan mana pemberian yang apa adanya (kepada isteri) dan yang ada apanya (sebelum menjadi isteri). “Bismillah... Jangan sia-siakan kepercayaan calon ibu mertuamu,” tutup saya tetap memotivasi.
Proses Belajar
Banyak yang takut menikah karena terlalu banyak berpikir yang sulit-sulit dalam rumah tangga. Memang banyak yang tidak segera menikah bukan karena takut. Namun karena pertimbangan dan perhitungan yang matang. Tetapi yang sering terjadi adalah yang pertama. Khawatir akan makan apa, mau tinggal dimana, dan seterusnya. Padahal yang dimakan oleh mereka yang sudah menikah dan belum menikah adalah sama, yaitu nasi. Yang ditempati juga sama yaitu tempat singgah, baik yang mewah atau yang paling sederhana.
Jadi, kalau memang sudah ada keinginan, apalagi ada tawaran langka seperti didapati kawan saya, harus memantapkan diri. Kesempatan tidak datang dua kali. Sekali melewatkan peluang emas kita akan kehilangan selamanya. Mungkin akan datang peluang serupa tetapi tetap tidak sama, karena waktu hanya melalui satu titik sekali saja. Dalam konteks ini, pikiran-pikiran yang tidak-tidak mesti dibuang jauh-jauh. Perkara paling mudah sedunia sekalipun kalau dilihat dari dimensi sulitnya akan menjadi sukar ditempuh.
Masalah lain dari mereka yang khawatir untuk menikah ialah anggapan bahwa menikah adalah the ultimate goal (tujuan akhir).Walhasil, baru mau menikah kalau semuanya sudah siap-sedia. Sementara menikah adalah awal proses pembelajaran. Dalam pernikahan itu, kedua pasangan terus sama-sama belajar sampai maut memisahkan mereka. Oleh karena itu, “Jangan sekali-kali menganggap akad itu sebagai tujuan paripurna,” saran dosen saya. Jadikan akad nikah sebagai awal untuk saling belajar bersama suami/isteri tercinta.
Katakanlah seorang telah menikah 10 tahun. Kalau dalam waktu itu, suami masih menganggap sang isteri seperti awal menikah tentu tidak pas. Sebab, dengan begitu isteri seolah tetap sosok asing seperti awal berumah tangga. Sementara, isteri telah berproses dan menjelma menjadi sosok yang telah banyak berubah. Hal yang sama juga semestinya tidak dilakukan oleh isteri terhadap suaminya. Durasi pernikahan yang cukup lama harus menjadikan mereka lebih banyak mengerti dan memahami. Demikian nasehat dosen saya.
Problem lain dari hidup bersama dalam bingkai pernikahan adalah tentang ‘keinginan’ kita terhadap pasangan. Banyak suami yang memaksakan isterinya untuk menjadi dan bersikap seperti yang diinginkannya. Sementara seorang isteri juga memiliki hak untuk sesekali—atau banyak kali—menjadi dirinya sendiri. Sepanjang hal itu tidak menentang syari’at sebaiknya suami belajar untuk menghargai. Demikian pula isteri terhadap suaminya. Saling memberi masukan itu baik tetapi tidak dalam konteks memaksa.
Betapapun demikian, tetap penting ada hal-hal yang disepakati untuk menjadi values bersama dalam keluarga. Disinilah pentingnya komunikasi, musyawarah, atau rembugan. Komunikasi ini juga penting untuk menjaga keharmonisan dalam rumah tangga. Ending-nya, keputusan yang diambil bukan semata menguntungkan satu pihak. Tetapi menguntungkan kedua belah pihak atau paling tidak dapat diterima keduanya. Komunikasi juga bermakna bahwa ‘dua sayap’ (suami dan isteri) sedang bergerak bersama untuk tujuan yang mulia.
Dosen yang banyak memberikan pelajaran tentang pernikahan di atas pernah bercerita. Ada pasangan yang berkonsultasi dengannya tentang konflik rumah tangganya. Sang isteri mengeluh karena sudah lama menikah namun sang suami tidak jua mengerti kemauannya. Kemudian dosen saya menimpali. “Apakah Ibu sudah mengutarakan langsung keinginan Ibu?” tanyanya. “Ya seharusnya dia tahu,” jawabnya. Seharusnya tahu tetapi nyatanya tidak tahu atau tidak paham.
Inilah—sekali lagi—pentingnya komunikasi dalam keluarga. Bahwa tidak semua suami atau isteri itu ‘ahli kebatinan’. Maksudnya, bisa membatin atau mengerti apa yang dimaui pasangan. Ada kalanya mengerti karena belajar dari pengalaman dan kebiasaan. Namun sering pula tidak mengerti kalau pasangan tidak mengomunikasikannya secara verbal. Karena itu tidak selaiknya langsung berburuk sangka kalau kemauan tidak dimengerti pasangan. Barangkali dia ingin kita membisikan keinginan kita itu dengan lembut nan mesra.
‘Belajar Menikah’
                Dengan demikian jelas bahwa menikah itu sebenarnya adalah wasilah untuk lebih banyak belajar. Tegasnya, awal proses pembelajaran bersama pasangan hidup tercinta. Bahwa perintah belajar itu tidak terhenti di ruang kelas, tidak lantas berakhir saat kita sudah menyelesaikan satu tugas. Justru belajar itu adalah proses (pemaknaan) yang terus-menerus, integratif, dan tidak terbatas. Termasuk ketika seseorang sudah menikah. Dia belajar memahami pasangan hidupnya dan belajar memposisikan dirinya.
                Belajar menikah tidak kemudian dimaknai coba-coba menikah. Sebab pasangan hidup bukan kelinci percobaan. Menikah harus disertai kemantapan hati untuk hidup bersama selamanya demi meraih ridha-Nya. Bersamanya hati menjadi lebih teguh bahwa surga menjadi lebih mungkin untuk direngkuh. Ditambah dengan ketika putra/putri telah Allah amanahkan sebagai buah dari cinta yang mulia. Kala itu pula, proses belajar menjadi lebih kompleks nan dinamis. Sebab mendidik anak juga butuh ilmu yang tidak cukup seadanya.
                Belajar menikah tidak bermakna ‘mencoba-coba’ sebelum ada ikatan yang sah. Sebab lekaki sejati bukan yang rajin memberi coklat. Namun saat ditanya kapan mau melamar tidak menjawab dengan tepat dan cepat. Lelaki sejati adalah yang dengan ‘seperangkat alat shalat’ siap melangsungkan akad. Dia tidak merasa sempurna. Dia hanya ingin saling menyempurnakan dengan niat mulia berumah tangga. Dia berpikir cepat, mengambil langkah tepat. Bersama isteri, belajar membangun bahagia hatta akhirat. Wallahu a’lamu. []

Samsul Zakaria, S.Sy.,
Mahasiswa S-2 UIN Sunan Kalijaga,
Staf Program Studi Hukum Islam FIAI UII

Diterbitkan ulang dari: http://masjidulilalbab.com/web/detail/54

Sabtu, 31 Oktober 2015

SUKSES



Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (amal shalih), untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. al-Kahfi [18]: 107)

Source: www.beritainfo.web.id
Hampir dapat dipastikan bahwa semua manusia ingin sukses. Ada yang begitu kuat menginginkannya, ada yang biasa-biasa saja. Diantara yang kuat inginnya tersebut ada yang gigih upayanya, ada pula yang biasa-biasa saja. Dari yang gigih upayanya itu, ada yang terus istiqāmah berjuang dan bangkit ketika jatuh, ada juga yang tersungkur tidak ma(mp)u bangun lagi. Intinya, semua orang ingin sukses namun masing-masing berbeda dalam menyikapi dan mengupayakan kesuksesan.
    
Ibarat sebuah bangunan, sukses berawal dari fondasi yang kokoh. Di atas fondasi itu, berdirilah tiang-tiang yang kemudian dikonstruksi sedemikian rupa menjadi bangunan. Bangunan tanpa fondasi akan segera runtuh. Sementara fondasi tanpa bangunan di atasnya tidak bermakna apa-apa. Keduanya saling melengkapi dan mengenapi, saling menopang dan menguatkan. Kebersatuan yang solid itulah yang selanjutnya menghadirkan kesuksesan. Sukses dalam arti yang sesungguhnya bukan yang ala kadarnya.
    
Setiap manusia telah memiliki modal untuk menjadi sukses. Masalahnya adalah bagaimana dia menggunakan modalitasnya untuk menjemput kesuksesan tersebut. Laksana jodoh, sukses itu ada di tangan Tuhan. Namun kalau tidak diambil, tidak dijemput, maka akan tetap di tangan Tuhan. Jadi, untuk sukses perlu usaha keras, tidak cukup hanya berpangku tangan. Kehidupan ini adalah modal yang tidak ternilai dari Allah. Kita diminta memaksimalkannya untuk meraih sukses.
 
Konon, seorang pemuda mengeluh tidak punya modal untuk usaha. Seorang pengusaha sukses yang dicurhatinya kemudian bertanya padanya. “Satu dengkulmu (baca: lutut), boleh saya beli setengah milyar?” tanya pengusaha sukses itu. “Tentu tidak boleh, Tuan,” jawab pemuda. “Kalau begitu, berusahalah! Dengan dua dengkulmu berarti Engkau punya modal 1 milyar!” perintahnya menyemangati. Sungguh, sejak lahir kita telah memiliki modal yang tiada ternilai dari Allah. Dua lutut saja 1 milyar, belum yang lain-lain.
 
Untuk menjadi sukses pertama-tama berangkat dari keyakinan. Mereka yang meyakini dirinya akan sukses maka sukses itu akan lebih dekat dengannya. Sementara mereka yang membayangkan sukses saja takut maka sukses pun akan takut mendekatinya. Benar bahwa banyak yang tidak menyangka akan sukses namun ternyata benar-benar sukses. Namun yang ideal adalah menjadi pribadi yang optimistis dan yakin sejak dalam hati. Allah telah memberi kita amanah hidup, itu artinya Allah percaya kita siap menjadi sukses.
 
Lalu apakah cukup hanya dengan keyakinan? Tentu saja tidak. Setelah yakin ada step-step penting yang harus dilalui. Kalau sekadar yakin maka manusia tidak ubahnya hanya menjadi “generasi wacana”. Generasi wacana, seperti diutarakan Prof. Rhenald Kasali, hanya sibuk berwacana namun tidak melakukan aksi nyata dan takut mengambil keputusan. Karenanya, keyakinan harus dibarengi dengan kegigihan dalam berbuat. Keyakinan juga menghantarkan kita pada pilihan-pilihan hidup yang tepat.
 
Bagi mereka yang sudah “nyaman” dengan prestasi di kampung halamannya mungkin takut bersaing di level yang lebih menantang. Namun pribadi sukses harus berani mengambil langkah yang visioner. Dunia tak selabar daun kelor, harus berani bersaing dan semangat tidak boleh kendor. Para alim telah mengajarkan kita. “Sāfir tajid ‘iwadhan ‘amman tufāriquhu!” Pergilah! Engkau akan mendapatkan ganti dari apa yang kau tinggalkan. Berani sukses berarti berani mencoba hal yang baru.
 
Dalam menuju sukses tersebut seringkali manusia harus jatuh-bangun. Namun yang harus disadari bahwa gagal karena bertindak jauh lebih baik daripada tidak pernah gagal karena enggan berbuat. Tidak penting seberapa sering Engkau terjatuh. Terpenting adalah seberapa mampu Engkau bangkit dari jatuhmu. Kaum bijak pandai menasihatkan, “Berhasil menyikapi kegagalan lebih baik daripaya gagal dalam menyikapi keberhasilan.” Orang sering bilang, hakikat kegagalan adalah sukses yang masih tertunda.
 
Sukses itu parameternya berbeda-beda. Kalau kita bertanya arti sukses (ma huwa sukses?) kepada banyak orang, pasti jawabannya bermacam-macam. Harus diingat bahwa sebagai seorang muslim terminal kehidupan ini bukan sebatas kematian. Namun ada “alam” yang lebih meneduhkan dan menjanjikan. Oleh karena itu, sudahkah (harapan) sukses kita itu berorientasi pada kebahagiaan di alam tersebut? Sementara doa yang kita panjatkan sangat jelas dan lugas. Bukan hanya hasanah di dunia tetapi juga hasanah di akhirat.
 
Kita ingat betul bagaimana Rasulullah mengakhiri hayatnya. Apa yang terucap terakhir kali dari lisannya yang begitu mulia? Dia tidak mengkhawatirkan putrinya. Juga tidak sedang merisaukan isteri-isterinya. Dia terus memikirkan umatnya dan itu adalah termasuk kita. “Ummatiy, ummatiy, ummatiy...,” ucapnya lirih. Rasulullah mengajarkan bahwa sukses itu kalau kita juga mampu menyukseskan orang lain, meng-hasanah-kan banyak pihak. Khairun an-nāsi anfa’uhum li an-nāsi...
 
Sukses=Surga
Mulai awal Oktober 2015 ini, Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) meluncurkan Training Islamic Character Building (ICB) untuk mahasiswa baru. Training ini didesain untuk membentuk karakter mahasiswa baru UII. Materi training dirancang supaya lebih mudah dimengerti dan dipraktikkan oleh mahasiswa. Mulai dari Komitmen Tauhid, Komitmen Ibadah, Komitmen Akhlak, dan terakhir Komitmen Sukses.
    
Saya sendiri sepakat dengan penambahan “komitmen” di setiap materi. Komitmen itu juga berarti istiqāmah (kontinuitas). Mahasiswa UII diharapkan mampu mempertahankan tauhidnya, menjaga ibadah dan akhlaknya, serta terus mengobarkan semangat suksesnya. Selama 2 kali mendampingi Trainer “Komitmen Sukses”, Drs. H. Imam Mudjiono, M.Ag., saya merasa perlu berbagi inti materi tersebut lewat tulisan ini. Sebab, materi tersebut sangat relevan bagi setiap umat muslim.
    
Sukses dalam konteks religiusitas kita dapat dimaknai sebagai surga atau al-jannah. Pribadi yang sukses pada akhirnya adalah yang berhasil memasuki pintu surga. Sehebat apapun seseorang di dunia kalau tidak “sukses” di akhirat maka merugilah dia. Walaupun tetap untung masih bisa bahagia di dunia. Repotnya adalah kalau di dunia sengsara di akhirat menderita. Oleh karena itu, supaya “sukses”nya ganda alias double harus dipelajari bagaimana tips untuk meraihnya.
    
Beberapa ayat al-Qur’an, contohnya QS. al-Kahfi ayat 107 di atas, menggambarkan bahwa syarat sukses itu 2 (dua). Pertama adalah iman; percaya dan yakin. Dalam bahasa yang biasa dipopulerkan Pak Imam—begitu dia biasa disapa—, iman itu semisal dengan belief. Keimanan yang kuat mendasari kesuksesan manusia di akhirat nanti dan tentu saja di dunia. Kalau iman ini tidak dijaga maka umpama pergi naik pesawat, yang bersangkutan tidak memiliki tiketnya.
    
Kedua adalah amal shalih (berbuat baik). Amal shalih ini adalah buah dari keimanan. Sebagaimana uraian di atas bahwa iman (keyakinan) adalah fondasi dan amal shalih adalah bangunan di atasnya. Iman dan amal shalih saling mengisi dan menyempurnakan. Iman yang tidak diwujudkan dalam amal shalih ibarat pohon yang tidak berbuah. Sementara amal shalih yang tidak dilandasi iman akan sia-sia dan tertolak. Kedua hal ini yang harus menjadi pedoman dan pegangan hidup umat muslim.
    
Amal shalih dalam bahasa Pak Imam disebut dengan positive energy (energi positif). Amal shalih atau positive energy tersebut dengan dilandasi iman yang kuat harus ditujukan semata-mata untuk meraih keridhaan Allah. Kalau sudah demikian maka keduanya akan menghantarkan kita menuju surga-Nya Allah di akhirat sana. Keduanya harus dipelihara secara konsisten dan penuh komitmen. Sebab iman dan amal shalih tidak dinilai secara periodik dan parsial namun terus menerus sampai datangnya ajal.
   
Dalam firman-Nya Allah telah menegaskan. “Sungguh,” serunya, “orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (amal shalih), untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” Indah sekali janji Allah bagi hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih. Dengan iman, belief, keyakinan yang kuat dan amal shalih yang nyata serta berkesinambungan kita dapat “sukses” di hadapan Allah. Mereka yang iman dan amalnya baik pun sejatinya sudah sukses sejak di dunia.
 
Hasanah fi ad-Dārain 
Sukses ialah dambaan setiap manusia. Lazimnya, yang mendamba mengupayakan apa yang didamba(kan)nya. Sukses dunia memang tidak salah namun sukses hakiki bukan semata duniawi kacamatanya. Sukses dunia itu mulia kalau mampu menghantarkan pada kesuksesan di akhirat nantinya. Dunia tempat menanam, di akhirat kita mengetam. Apapun bentuk sukses dunia harus dibenamkan, ditanam dalam-dalam, supaya yang hadir adalah katawadhuan. Hatta di akhirat kita raih sebenar-benar kesuksesan. Wallāhu a’lamu. []

Samsul Zakaria, S.Sy.,
Mahasiswa S-2 UIN Sunan Kalijaga,
Staf Program Studi Hukum Islam FIAI UII

Telah terbit di Buletin Jumat DPPAI UII Yogyakarta, Al-Rasikh, Jumat (30/10/2015)





Jumat, 17 Oktober 2014

KERTAS PUTIH

Catatan: Cukup lama saya tidak menyapa pembaca melalui blog ini. Alhamdulillah, hari ini saya berkesempatan untuk berbagi satu tulisan berjudul "Kertas Putih". Tulisan ini terbit di Buletin al-Rasikh Universitas Islam Indonesia, Jumat (17/10/14). Selamat membaca!


Source: http://princessamanda.net/wp-content/uploads/2014/03/pensil-warna-kertas-putih.jpg

Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Rum [30]: 30)



Sungguh, begitu indah bila kita kembali mengingat masa kecil. Begitu banyak kenangan yang telah terukir. Saat kita bermain dengan asyiknya tanpa beban sedikitpun. Kala kita bebas mengemukakan pendapat tanpa rasa takut secuilpun. Setiap hari yang berlalu adalah cuplikan episode kehidupan yang menancap lekat dalam pikiran. Semuanya kita terima yang seringkali tanpa penolakan sama sekali. Sebab, saat itu kita teramat suci, begitu bersih, sangat jernih, tanpa noda yang mengotori.

Kisah masa kecil tentu sangat variatif. Antara yang satu dan lainnya kemungkinan besar berbeda. Pasalnya, banyak faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut. Sederhananya, dua anak yang terlahir kembar. Mereka menyapa dunia dari rahim yang sama. Orangtuanya sama, lingkungannya juga sama. Tetapi tidak ada jaminan kenangan masa kecilnya akan sama (persis). Bila si kembar saja sudah lain kisahnya tentu lebih lain lagi untuk si kecil yang tidak kembar.

Kisah Si Kecil
Kisah pertama. Saya teringat saat masih awal-awal duduk di Madrasah Ibtidaiyah. Saya biasa belajar ditemani ibunda tercinta. Kala itu, ibunda saya bertanya. “Samsul, surga ada dimana?” tanya beliau. Saya yang masih belum banyak mengecap garam kehidupan tentu cukup bingung untuk menjawabnya. Sejenak saya berpikir. Dalam bayangan saya saat itu, yang namanya benda-benda ghaib (termasuk surga) pasti adanya di langit. Akhirnya saya jawab, “Surga ada di langit.”
   
Jawaban saya ternyata tidak sejalan dengan apa yang diinginkan oleh ibunda. Seingat saya, ibunda waktu itu kecewa (“marah”) sembari menerangkan jawaban yang benar. Katanya, surga itu ada di telapak kaki ibu alias di telapak kakinya. Saya hanya mengiyakan tanpa bertanya macam-macam. Bila saya amati secara lahiriah, tentu sulit mencari surga yang ada di bawah telapak kaki ibu tersebut. “Sampai sekarang, kalau saya cari(-cari) juga tidak ketemu,” biasa saya berseloroh.
   
Hingga pada akhirnya saya mengerti dan paham. Perkataan ibunda saya bermakna filosofis. Surga di bawah telapak kaki ibu itu maksudnya, kalau kita taat kepada ibu maka jaminannya adalah surga. Itulah salah satu kisah masa kecil saya, yang tentunya sampai sekarang masih begitu berkesan. Bagaimana cara ibunda saya memberikan pengertian kepada saya, menjadi pelajaran tersendiri. Dimana keterangan ibunda yang berwujud jawaban sebenarnya adalah ‘PR’ tersendiri bagi saya yang cukap lama untuk dituntaskan.
   
Kisah kedua. Tahun 2012, saya menjalani KKN di daerah Srandakan, Bantul. Saat berada di sana, bersama teman satu unit, kami mencoba untuk bersosialisasi dengan warga. Bentuk sosialisasinya adalah dengan menjalankan program yang sudah terencana sebelumnya. Diantara program unit kami yaitu ikut serta menjadi pengajar TPA. Sampailah pada satu sore dimana saya bertindak sebagai salah satu pengajar. Setelah belajar baca Al-Quran (Iqra’), beberapa santri laki-laki diminta kumpul di dalam masjid.
   
Saya mencoba “mengamankan” suasana kelas yang cukup gaduh. Tatkala kelas sudah mulai kondusif, saya mulai bercerita banyak hal kepada mereka. Entah bagaimana awalnya, saya kemudian bertanya kepada mereka. “Siapa Gubernur Jogja saat ini?” tanya saya. Hampir setengah dari mereka menjawab, “Jokowi.” Saya tentu saja terkejut. Prediksi saya, mereka sangat mengerti siapa Gubernur Jogja saat itu (sampai saat ini) dan menjawabnya dengan fasih. Ekspektasi saya ternyata salah.   
   
Mereka tentu saja tidak semata-mata salah. Jokowi kala itu memang sedang digadang-gadang menjadi Gubernur Jakarta. Mereka yang sudah melek media, termakan olehnya. Jokowi yang baru akan menjadi Gubernur Jakarta, mereka persepsikan sebagai gubernur mereka, Gubernur Jogja. Menariknya, saat saya terkejut dengan jawaban tadi, ekspresi mereka biasa-biasa saja. Itulah dunia si kecil, apa adanya, spontan, tanpa beban, tanpa banyak analisis dan pertimbangan.   
     
Kisah ketiga. Saya bersyukur dipertemukan dengan si kecil yang keren dan kritis. Namanya Harsa, umurnya belum seberapa. Tetapi kemampuannya sudah luar biasa. Sekarang baru kelas 2 (setingkat) SD tetapi sudah lancar baca Al-Quran dan hampir menyelesaikan juz 28. Suatu hari, di sela-sela membaca Al-Quran, dia dengan kritis bertanya. “Ustadz, Allah itu datangnya darimana? Aku tuh bingung. Masak Allah tiba-tiba datang. Aku tuh bingung,” tanyanya. Pertanyaan itu tidak cukup sekali dia utarakan.   
   
Di kesempatan lain, dia masih menanyakan hal yang sama. Itu artinya jawaban yang sebelumnya saya berikan belum memuaskan. Saya akui, tidak mudah menjelaskan hal seperti itu kepada si kecil yang baru berusia sekitar 8 tahun. Dari kisah tadi, saya tentu harus lebih banyak belajar. Boleh jadi anak saya nanti akan menanyakan perihal yang sama atau lebih runyam dari yang Harsa tanyakan. Saya harus mempersiapkan jawaban yang terbaik, masuk dalam logika anak-anak, dan tidak menggurui.
   
Menanyakan darimana Allah berasal, bagi orang dewasa, adalah sesuatu yang tabu. Tetapi bagi si kecil, itulah pertanyaan spontan yang mungkin selama ini cukup “mengganggu” pikiran. Akhirnya, tanpa rasa khawatir akan dikatakan begini dan begitu, dia menanyakannya secara lugas (dan terang-terangan). Bila kita jawab Allah itu berbeda dengan kita. Kita diciptakan dan Allah Yang Menciptakan kita sekaligus Allah itu tidak diciptakan siapa-siapa. Alah itu Yang Awal dan Yang Akhir. Itu tetap belum memuaskan.
   
Kisah keempat. Harsa adalah putra kedua yang memiliki 2 saudara, kakaknya perempuan dan adiknya laki-laki. Bila Harsa cukup kritis maka adiknya—Hakan, namanya—pun kurang lebih demikian atau bahkan nantinya akan lebih kritis. Sekali lagi, di sela-sela belajar membaca Al-Quran, Hakan tiba-tiba bertanya. “Ustadz, Allah itu pakai peci atau nggak?” tanyanya. Saya kemudian menjawab, “Tidak.” Dia lalu melanjutkan. “Kalau begitu, Allah shalat nggak?” tuturnya, kembali bertanya.
   
Tidak mudah menjawab pertanyaan model beginian. Pastinya, Hakan membutuhkan jawaban segera, secepat dia meneruskan pertanyaan pertamanya. Saya kemudian menimpali. “Allah ya tidak shalat, Hakan.” Lantas dia protes. “Kalau begitu, Allah tidak Islam?” katanya. Bagi Hakan, Allah pun harus Islam dan konsekuensinya Allah juga harus shalat. Pola relasi antara kita dengan Allah, bila dipaparkan, tidak begitu saja memberikan jawaban menenangkan. Hakan menginginkan semuanya harus setara.    
   
Itulah beberapa hal yang bertautan dengan dunia si kecil yang penuh warna dan dinamika. Kita terbiasa berdiskusi tentang banyak hal dengan simpulan akhir yang cukup menenangkan. Tetapi ketika lawan diskusi itu mereka yang masih begitu suci, menjadi lain ceritanya. Kita perlu ilmu khusus, butuh referensi spesial, untuk menghadapi mereka yang tanpa topeng dan jauh dari pencitraan. Dari kisah tadi kita sadar, kita mungkin pernah berpikir hal yang sama tetapi tidak berkesempatan untuk mengungkapkannya. 

Belajar dari Ibrahim AS
Tentu masih hangat dalam ingatan kita tentang kisah Ibrahim AS dan putra tercintanya, Isma’il AS. Merujuk Tafsir al-Jalālain, kala itu usia Isma’il masih cukup belia. Antara 7 sampai 13 tahun. Lainnya (dari Tafsir al-Qurthubiy), dikatakan bahwa Isma’il AS saat itu sudah mimpi basah (ihtilām). Intinya, Isma’il AS masih belum benar-benar dewasa secara umur. Namun bila dicermati bagaimana dia berkomunikasi dengan Ibrahim AS, sungguh sangat matang sikap-mentalnya.
  
Ibrahim AS sebagai ayah yang demokratis tidak memaksakan kehendaknya. Menerima perintah sebagai ujian yang berat dari Allah, terlebih dahulu dia meminta pertimbangan putranya. “Aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu. Lalu bagaimana pandanganmu tentang hal tersebut?” tanya Ibrahim AS. “Wahai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk golongan orang yang sabar,” kata Isma’il AS.  (QS. ash-Shāffāt [37]: 102).
   
Karakter Isma’il AS sedemikian terbangun. Dia sadar betul bahwa Allah adalah segalanya. Semua yang ada di dunia ini pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Segala yang kita punya termasuk nyawa yang bersemayam dalam jiwa adalah titipan. Titipan itu sifatnya sementara, pada waktunya akan diminta oleh yang menitipkan. Allah lah yang berhak atas segala sesuatunya tersebut. Pemahaman Isma’il AS itu tentu tidak lepas dari bagaimana Ibrahim AS menulis kebaikan dengan tinta emas pada diri Isma’il AS.

Isma’il AS kecil dan si kecil lain laksana kertas putih yang masih suci. Dia belum mengerti apa-apa dan karena itu sangat mudah menerima apa-apa. Kertas putih itulah yang kemudian ditempa (ditulisi); oleh orang tuanya, keluarga besarnya, lingkungan sekitarnya, tempat belajarnya, dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan si kecil yang seringkali kritis adalah refleksi dari kesucian diri yang belum banyak terkontaminasi. Kita yang bertugas mengarahkan pada fitrah yang sesungguhnya. Wallāhu a’lamu. []

Samsul Zakaria, S.Sy.,
Staf Prodi Hukum Islam FIAI UII

Senin, 12 Mei 2014

BAHAGIA TANPA SYARAT

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra’du [13]: 28)


Source: http://alrasikh.uii.ac.id/wp-content/uploads/2014/05/bahagia.jpg


Tamsil berikut ini barangkali dapat mewakili kondisi hati manusia pada umumnya. “Saya akan bahagia kalau saya sudah menikah,” kata Fulan kepada teman karibnya. Waktu berlalu dengan begitu cepat. Takdir menghantarkan Fulan pada perjumpaan dengan seorang gadis shalihah nan cantik. Gadis itulah yang kemudian menjadi istri Fulan. “Bagaimana, Kawanku? Sudahkah engkau menemukan kebahagiaan?” tanya teman Fulan. Seketika Fulan tersadarkan dengan ucapannya 2 tahun lalu.

“Aku memang sudah menikah, Kawan. Dengan seorang wanita yang tidak hanya cantik lahir tetapi juga cantik akhlak dan perangainya,” ucap Fulan lirih. “Tetapi barangkali aku akan bahagia kalau sudah dikaruniai seorang anak nanti,” lanjutnya. Teman Fulan yang sebenarnya ingin memberikan pengertian kepada Fulan, terdiam sejenak. Dia mencoba merangkai kata untuk memberikan nasihat kepada Fulan. “Kawanku, sebagai seorang teman saya mengerti bagaimana perasaanmu. Aku pun pernah merasakan hal yang sama dalam kasus yang berbeda,” ujarnya.

“Di awal pernikahan, aku berpikir begini. Mungkin aku bisa bahagia kalau sudah punya rumah sendiri. Tidak lagi tinggal serumah dengan mertua. Setelah punya rumah, pikiranku berubah total. Aku baru bisa bahagia kalau sudah punya mobil pribadi. Tidak lagi pakai motor kemana-mana dan sering kehujanan bila lupa membawa mantel,” lanjut teman Fulan cukup panjang. “Dan sayangnya, Kawan. Pikiranku kembali berubah saat mobil sudah Allah berikan padaku,” tutupnya.

Fulan tertunduk malu, seolah tak tertarik memberikan respon. Saat itu, Fulan merasa “dikuliti” oleh temannya sendiri. “Terus sekarang kamu kok tampak bahagia? Bagaimana resepnya?” tanya Fulan, mulai membuka diskusi. Pundak Fulan ditepuk pelan oleh temannya. “Itulah, Kawan. Semakin kita mensyaratkan sesuatu untuk bahagia maka kita semakin tersiksa. Ironisnya, bahagia tak kunjung datang bahkan seolah menjauh. Bahagia itu sederhana. Bahagia tidak dimana-mana, tetapi ada di sini,” tutur teman Fulan sembari menepuk dadanya sendiri.

“Bahagia itu pilihan. Bahagia milik semua orang. Kita berhak untuk terus bahagia, termasuk dirimu, Kawan. Bahagia itu tidak mensyaratkan apa-apa. Saat kita merasa bahwa Allah telah menganugerahkan segalanya saat itulah kita bahagia. Bukan berarti mengusahakan yang lebih baik itu tidak boleh. Tetapi jangan sampai karena harapan yang lebih itu menjadikan kita tidak bahagia saat ini. Dengan bahagia saat ini justru menjadikan kita lebih siap untuk menghadapi segenap kemungkinan hidup,” pungkas teman Fulan, mengakhiri nasihatnya.

Aura Positif
Saya bersyukur bisa mengikuti seminar motivasi yang diadakan salah satu fakultas di UII. Acara tersebut menghadirkan motivator pemegang Rekor Muri untuk training motivasi dengan peserta lebih dari 18.000 orang. Adalah Nanang Qosim Yusuf (Naqoy), motivator yang saya maksud. Dia menyampaikan renungan tentang banyak hal. Satu hal menarik yang terus terngiang dalam hati saya yaitu tentang bahagia tanpa syarat. Bahagia Tanpa Syarat atau Unconditional Happiness akan menjadi judul buku Naqoy selanjutnya.

Kala itu, Naqoy bercerita tentang seorang yang terus mensyaratkan ini dan itu untuk bahagia. Apa yang terjadi pada akhirnya? Di saat tubuhnya sudah tua renta, dia tidak juga menjumpai bahagia. “Mungkin aku baru akan bahagia di akhirat sana,” katanya. Sementara tidak ada jaminan mutlak kita akan bahagia di akhirat. Bahagia akhirat adalah akumulasi dari bahagia yang terus kita bangun dan jaga semenjak hidup di dunia. Oleh karena itulah, mengikuti nasihat Naqoy, saat inilah waktu yang tepat untuk bahagia. Bagaimanapun kondisi kita.

Untuk menjadi bahagia memang memerlukan latihan yang biasanya memakan waktu cukup panjang. Latihan tersebut bagai mengumpulkan puzzle bahagia untuk sampai pada bahagia yang sesungguhnya. Bahagia yang sesungguhnya adalah satu paket perasaan yang terkumpul dalam hati dan jiwa. Mereka yang bahagia akan memandang dunia dengan pandangan yang sewajarnya. Sebab, bahagia sejati senantiasa bertautan dengan kesadaran akan hadirnya Allah, Rabbul ‘Izzati. Bila sudah demikian maka dimensi kebahagiaan menjadi hakiki dan permanen.

Saya kembali teringat pesan Naqoy. Mereka yang bahagia akan memancarkan aura yang penuh kasih. Mereka berjalan di atas kasih sayang Allah dan karenanya tersadarkan untuk membagikan kasih sayang itu kepada orang lain. Sebaliknya, mereka yang tidak bahagia membawa “aura kasihan”. Tidak ada gairah dalam hidup. Pikirannya dihantui oleh perasaan bahwa dia baru akan bahagia bila sudah begini dan begitu. Padahal jika mereka memilih bahagia, bahagia akan menjadi miliknya. Sekali lagi karena bahagia adalah hak dan pilihan kita.

Kebahagiaan yang kita rasakan memang harus disebarkan kepada semua orang. Kemanapun kita pergi, kita harus membawa aura atau energi yang positif. Saat berjumpa dengan karib kerabat, kolega, dan rekan kerja, senyuman indah dihadirkan. Dikala orang lain butuh nasihat dan masukan maka orang yang bahagia akan dengan mudah memberikannya. Baginya, hidup bukan semata untuk kepentingan pribadi. Tetapi bagaimana hidup yang sebentar dapat memberikan pengaruh positif yang besar.

Bahagia, Menyegerakan Kebaikan
Dampak positif dari bahagia tanpa syarat adalah kesegeraan dalam berbuat kebaikan. Saya masih ingat tadzkirah seorang kiyai di desa saya dulu. Banyak orang yang bilang: “Saya akan rajin shalat kalau punya motor.” Ketika sudah benar-benar punya motor ada saja alasan untuk tidak rajin shalat. Baik alasan untuk mendapatkan yang lebih dari motor atau karena punya motor hingga lupa shalat. Pepatah bijak berbunyi: “Kalau ada kemauan ada seribu jalan. Saat tidak ada kemauan ada seribu alasan.”

Perasaaan bahagia yang terus terpatri dalam hati menjadikan kita sadar hidup ini cepat atau lambat akan berakhir. Bila selama ini sering berbuat kebaikan maka harus disyukuri tetapi bukan dalam rangka menyombongkan diri. Bila banyak kesempatan untuk berbuat baik yang sering terlewat, sekarang saatnya untuk merebutnya cepat-cepat. Apapun yang kita miliki itulah titipan Allah yang kita harus bahagia karenanya. Esok hari mentari mungkin masih menyapa. Tetapi, usia diri tidak ada yang berani memberi jaminan pasti. Kesempatan kita terbatas(i).

Bahagia memang berbeda dengan sebatas senang. Sebuah diskusi hangat para dosen membahas apakah sama antara bahagia dan senang. Banyak yang cenderung menyatakan bahwa bahagia itu permanen dan hakiki. Adapun senang itu sementara dan tidak bertahan lama. Oleh karena itu, dalam konteks inilah perlu untuk menimbang apakah saat ini kita sedang bahagia atau sekadar senang. Bila kondisi itu menjadikan kita termotivasi untuk terus berbuat (lebih) baik, itu artinya kita memang bahagia. Bila tidak, jangan-jangan itu hanya kesenangan yang menipu.

Perjalanan hidup tentu saja harus melalui proses yang tidak tunggal. Ada suka dan duka. Ada senang juga ada derita. Ada cinta ada pula rasa benci. Tetapi semua itu tetaplah harus dihadapi dengan perasaan yang lapang dan senantiasa kembali kepada-Nya. Luka kehidupan menjadikan kita lebih tegar untuk menatap masa depan. Hidup mungkin saja pahit tetapi kebaikan mungkin kita ukir pada “rongga-rongga yang sempit”. Semua itu tetap dilakukan dalam bingkai syukur dan bahagia.

Allah, Syarat Bahagia
Mungkin banyak yang bertanya, bagaimana melatih diri untuk terus merasa bahagia. Meski onak duri datang menghampiri, senyum manis tetap hadir penuh arti. Pertanyaan itu juga tentu saja muncul dari saya pribadi. Sebagai insan yang sangat dha’if di sisi Allah, saya pun terus menasihati diri untuk menjaga rasa bahagia dalam hati. Sebagai salah satu caranya adalah dengan mengingat Allah (dzikrulLāh). Seperti ayat yang saya kutipkan di awal. Hanya dengan mengingat Allah maka hati menjadi tenang.

Pada prinsipnya bahagia tidak membutuhkan syarat apa-apa. Tidak seperti promosi yang banyak beredar: “Syarat dan ketentuan berlaku.” Syarat bahagia itu sudah mendahului bahagia yang kita idamkan. Saat inilah waktunya untuk bahagia, tidak perlu menunggu lagi. Bila memang kita tetap butuh syarat untuk bahagia maka Allah ta’āla jawabannya. Dialah yang memberikan nikmat hidup sekaligus kesempatan untuk bahagia dengan anugerah itu. Bahagia karena Allah itulah yang menjadikan kita terus terawasi, disayangi, dikasihi, dan merasa tenang.

Saya pribadi berharap, tamsil di awal tulisan ini tidak semestinya menjadi kisah klasik yang masih digemari. Cukuplah ia menjadi kenangan karena saat ini kita sudah bahagia, tanpa syarat dan alasan. Bahagia yang kita rasakan—pada purnanya—adalah nikmat indah dari Allah. Karenanya, bahagia harus mengantarkan kita pada rasa syukur yang tiada terkira kepada-Nya. “Bagaimana aku bersyukur kepada-Mu padahal syukur itu sendiri adalah nikmat dari-Mu,” ungkap Nabi Dawud AS. Selamat berbahagia! WalLāhu a’lamu. []

Samsul Zakaria, S.Sy.,
Staf Prodi Hukum Islam FIAI